Yerusalem: Kota di mana Muslim dan Kristen Palestina menentang Israel

Kehidupan di Yerusalem “sangat berat” namun umat Islam dan Kristen Palestina bersatu menentang pendudukan Yerusalem yang dinobatkan Donald Trump sebagai ibukota Israel (6/12/2017).

Abeer Zayaad, seorang arkeolog yang bekerja di museum Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, mengatakan di tengah sulitnya hidup di kota tempat dia lahir ini, warga Palestina lain tetap satu sebagai keluarga besar, “apa pun agamanya”.

“Tak masalah apa agama kami, Kristen, Muslim, Katolik dan juga Yahudi, kami tetap satu … orang Palestina, kami menghadapi masalah yang sama yaitu pendudukan Israel … kami keluarga besar, kami ke sekolah bersama, kami hidup bersama,” kata Abeer yang tinggal di Yerusalem Timur.

Aktifitas sehari-hari yang Abeer katakan sudah berat “bertambah parah” menyusul keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dengan terjadinya kerusuhan selama beberapa hari.

“Kalau ada orang yang datang dan bisa bertanya kepada setiap orang Palestina, mereka akan mendengar cerita mengerikan tentang kehidupan kami. Setiap tahun bertambah parah, bertambah tekanan terhadap kami agar kami angkat kaki dari Yerusalem,” kata Abeer kepada wartawan BBC Indonesia Endang Nurdin.

Menyusul pernyataan Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan warga Palestina harus “menerima” bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel agar dapat melangkah ke arah perdamaian.

Nentanyahu mengatakan Yerusalem telah menjadi ibu kota Israel selama 3.000 tahun dan “tak pernah menjadi ibu kota orang lain”.

Ia juga menyatakan harapan bahwa Uni Eropa akan mengikuti langkah Trump.

Tetapi kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini mengatakan Uni Eropa tetap “bersatu” untuk mendukung Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan negara Palestina dan tak akan mengakui apa pun sampai ada perjanjian damai final.

Abeer Zayaad mengatakan mereka di Yerusalem khawatir negara-negara lain akan mengikuti langkah Trump dan hal itulah yang menyebabkan kerusuhan menyusul pengumuman presiden Amerika itu.

“Keadaan menjadi tambah buruk, karena kami menolak keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Kami takut negara lain akan mengikuti,” kata Abeer.

Seorang pemuda Palestina beragama Kristen, Jonathan Abu Ali, 21, dikutip ABC mengatakan hal senada yang diungkapkan Abeer bahwa Yerusalem adalah milik warga Palestina apa pun agamanya.

“Tanah ini milik kami, sebagai orang Kristen, Yahudi dan Muslim. Orang dari luar tak boleh ikut campur urusan kami. Kami telah tinggal di sini selama berabad-abad sebagai saudara dan pemerintah menciptakan masalah. Masalah telah dimulai, dan saya rasa akan ada lagi lebih banyak kekerasan di seluruh negara,” kata Jonathan, 21, yang bekerja di restoran di daerah kota tua.

Aktivitas Abeer, ibu empat putri berusia antara 15 tahun sampai tujuh tahun, selain bekerja di museum Masjid Al-Aqsa, juga memimpin organisasi perempuan Palestina.

“Berat kondisinya, berbeda dari satu hari ke hari lain tergantung situasi politik, tergantung apakah ada yang menghancurkan rumah atau menahan orang, setiap hari berbeda,” tambahnya.

Menunggu sampai kuteks tentara perempuan kering

Sebelum pernyataan Trump sekalipun, kehidupan di Yerusalem, cerita Abeer sudah sulit dan penuh ketidakpastian.

“Sangat berat (kehidupan di sini), berlaku sistem apartheid, kami bisa dibunuh, diculik, diserang dan polisi merupakan bagian dari ini, mereka tidak mencoba membantu atau mencegah. Mereka bagian dari penyerangan … mereka bisa menciduk Anda dari rumah Anda. Hidup kami seperti ini,” tambahnya.

Setiap hari Abeer meninggalkan rumah pukul tujuh pagi dan mengantarkan empat putrinya ke sekolah yang hanya berjarak dua kilometer dengan mobil.

Perjalanan mengantar anak ke sekolah hanya sekitar lima menit pada situasi normal, namun kondisi tak pernah bisa diprediksi.

“Mereka tutup jalan dan akibatnya pernah sampai kami tak boleh keluar rumah. Ada hari saat ada orang yang diserang, anak muda yang digeledah dan disuruh buka baju, dipermalukan, diberhentikan di pos pemeriksaan dan menunggu tanpa alasan jelas,” kata Abeer.

“Pernah kami menunggu di pos pemeriksaan karena ada tentara perempuan yang sedang membersihkan kuku dan kami harus tunggu sampai kuteksnya kering.”

“Anda tak bisa tahu apa yang akan terjadi dengan diri Anda,” kata Abeer lagi.

“Setiap saat harus ada rencana lain, kami juga melatih anak-anak supaya bisa melindungi diri.”

Seorang wartawan The New York Times David Halbfinger yang menyusuri Yerusalem mengutip seorang warga Tomer Aser, 35, yang mengatakan, “Kami semua percaya ada sesuatu yang suci di kota ini, namun terlalu sulit. ”

“Rasanya seperti tinggal di penjara di sini. Orang sangat tegang. Dan rasanya terpisah. Anda harus tinggal dengan komunitas Israel atau komunitas Arab,” katanya.

Halbfinger juga menulis, “Di satu jalan kecil menuju Daerah Muslim, tiba-tiba ada keributan. Pemukim Yahudi dari atap melempar telur ke arah warga Arab (Palestina) di bawah.”

“Tiba-tiba terjadi saling menginjak: Tiga polisi perbatasan Israel dengan helm anti huru-hara lari mengejar seseorang. Tak lama kemudian kejaran berakhir. Saat polisi selesai mengejar, seorang perempuan berteriak dalam bahasa Arab dan polisi menjawab makian dan menambahkan, “Pergi.”

Dipukul, dilepas jilbab dan dijambak

Abeer Zayaab sendiri pernah ditahan setelah sebelumnya dipukul, dilepas jilbabnya dan dijambak pada 2014.

Tanpa ada alasan, saat ia tengah berjalan, tentara memukul leher dan kakinya dan menarik jilbabnya, kata Abeer.

“Mereka menuduh saya menyerang tentara padahal saya tak berbuat apa pun dan saya lagi jalan saat mereka menyerang saya. Mereka pukul leher dan kaki saya sampai terjatuh, dan tentara permepuan menyeret saya … saya dipukul dan ditendang dan diseret di jalan dan di tangga. Jilbab saya dilepas dan saya dijambak,” cerita Abeer.

“Saya mengatakan silakan lihat rekaman kamera yang dipasang di jalan, namun mereka mengatakan kamera rusak,” tambahnya.

BBC Indonesia menyaksikan video Abeer di YouTube dan terlihat polisi menjambak rambutnya dan menariknya ke kantor polisi.

Setelah muncul tekanan, kamera yang dipasang pemerintah Israel di jalan-jalan akhirnya dikeluarkan dan Abeer terbukti tak melakukan apa-apa.

Abeer akhirnya dibebaskan dan ia mengatakan “perempuan lain tak seberuntung saya karena ada yang merekam insiden itu. Sebagian dipenjara antara tujuh sampai delapan tahun. Kalau tak ada yang menolong saya, saya akan dipenjara selama itu tanpa melakukan apapun.”

Abeer mengatakan ia sebelumnya masih berharap bahwa anak-anaknya akan menikmati hidup tak seperti apa yang dia rasakan sekarang.

Ia mengatakan keputusan Trump “menghacurkan mimpi raktyat Palestina untuk memiliki negara setelah bertahun-tahun pendudukan dan ketidakadilan.”

“Sebagian orang sangat frutrasi, apa jadinya kalau kami sudah tak punya harapan lagi,” tambahnya.

sumber : bbc.com/http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42325244