Waswaasil Khonnaas

Faktor dominan yang mempengaruhi ruhaniah manusia adalah berubah-ubahnya nafsu. Bila nafsu berkembang melenceng dari fitrahnya (yaitu dari jiwa yang tenang nafs muth’mainnah), maka nafsu mengalami metamorfosis dan melompat secara kuantum (artinya tidak berhenti dulu di orbit lawammah tapi langsung melompat) menjadi nafsu ammarah. Sumber segala kejahatan – esensi dari Iblis, Sang Pembangkang, “waswaasil khonnaas” – bisikan-bisikan setan yang tersembunyi, yang membisik-bisik di dada manusia (QS 114:4-5).

Perhatikan bagaimana Allah SWT menempatkan waswaasil khonnass ini di akhir surat Al Qur’an. Ini untuk mengingatkan kita semua supaya jangan sombong dan takabur karena meskipun kita sudah hafal dan khatam Al Qur’an bersitan waswaasil khonnaas masih ada pada kita, ada pada semua manusia.  Hanya saja kadarnya berbeda-beda. Karena itu, jangan heran jika ada orang yang hafal Al Qur’an pun bisa lalai dan tergelincir manakala penyakit waswaasil khonnaas ini tiba-tiba mencuat dan mendominasi nafsunya, jangan heran juga kalau ada seseorang yang berlabel kiai pun masih sering diliputi iri dan dengki karena masih ada was-was dihati.

Waswaasil khonnaas diantaranya adalah was-was takut miskin, takut bodoh, takut tidak terkenal, takut mati, takut rezeki lahirnya berkurang, takut tidak ada dana tambahan dan was-was lainnya yang menyebabkan manusia selalu berkeluh kesah dan tidak bersukur atas semua karunia Allah SWT. Selanjutnya, nafs ammarah akan mempengaruhi akal dan manusia secara kejiwaan (psikis) akan berupaya untuk bergerak menjauhi posisi keseimbangan yang sudah ditetapkan. Shiraatal Mustaqiim , jalan lurus yang luas pun boleh jadi perlahan ia tinggalkan.

Bila kondisi ini terjadi, pikiran-pikiran buruk muncul silih berganti. Bisikan-bisikan setan menyelinap ke dada manusia, daya khayal dan angan-angan menguat, menimbulkan niat-niat buruk untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama maupun hukum-hukum positif yang disepakati oleh manusia (etika dan norma-norma). Secara perlahan tapi pasti kalbunya akan diselimuti kabut kegelapan sehingga manusia tidak mampu melihat citra dirinya sendiri, apalagi citra Tuhannya. Ia pun akan lupa esensi dirinya. Ketika kalbu tertabiri, yang muncul adalah gambar-gambar keduniawian sebagai manifestasi dari nafsu dan syahwatnya.

Seringkali dikatakan bahwa asal usul dari ketaatan dan kemaksiatan manusia berkaitan erat dengan dominasi sifat-sifat nafsu dan syahwat kemanusiaan, yang mempunyai kecenderungan pada pemenuhan kepada kebutuhan fisis-biologis, yang dapat merusak ubudiyah seorang hamba. Dalam banyak segi, bila dominasi nafsu menguasai diri seseorang disebabkan karena meningkatnya energi dalam yang masuk melalui asupan makanan atau minuman. Dan ketika energi ini terarahkan pada hasrat biologis, dan biasanya memang menyalurkannya kepada pemuasan hasrat, maka semua aktivitasnya akan terarahkan pada kebutuhan seperti itu, sehingga ia bisa dikatakan menjadi terhijab dari Allah karena bersarangnya sifat-sifat kemanusiaan yang didominasi oleh keduniawian. Hijab atau tabir ini harus diangkat dan diruntuhkan agar esensi ruhani seseorang mampu menanggapi panggilan Allah secara positif dan kedekatan dengan Allah senantiasa hadir.

Menurut Ibnu Athaillah As Sakandari nafsu itu adalah sumber segala bencana. Dalam kitabnya yang terkenal yaitu Al-Hikam, Ibnu Athaillah berkata “Asal usul maksiat, syahwat dan kealpaan adalah kerelaan kita kepada nafsu”. Maksiat adalah tindakan yang menyimpang dari perintah Allah dan melanggar larangan-Nya. Sedangkan menurut nafsu berarti menyalurkan kompensasi atau suatu keinginan yang cenderung kearah kesenangan. Sedangkan yang dimaksud dengan kealpaan adalah mengabaikan tindakan wajib dan sunah, demikian juga ketika melakukan wajib disertai dengan orientasi hawa nafsu hal ini termasuk kealpaan juga oleh karena kewajiban atau sunah yang semestinya menjadi anugerah telah diserobot atau dimanipulasi oleh nafsu untuk kecenderungan yang bersifat kesenangan semata. Sedangkan rela terhadap hawa nafsu memiliki tanda-tanda antara lain : melihat kebenaran menurut selera dirinya, memanjakan nafsu, dan memejamkan mata dari aib-aib nafsu itu sendiri, sehingga jauh dari penyucian jiwa.

Ibnu Athaillah melanjutkan bahwa “Asal usul ketaatan, mawas diri, dan sadar diri adalah ketidak relaan terhadap nafsu”. Tanda-tanda ketidakrelaan kita kepada nafsu antara lain : curiga pada siasat nafsu, waspada pada bahayanya dan menekan nafsu pada berbagai kesempatan. Sikap curiga merupakan bagian dari mawas diri yang harus kita lakukan setiap saat manakala kita beraktivitas.

Dalam banyak aspek, kita seringkali tidak menyadari berbagai keputusan yang kita ambil dalam setiap tindakan kita. Tipu daya nafsu harus kita sadari dapat menyusup kapan saja dan dimana saja. Tanpa adanya sifat curiga dan mawas diri maka kita akan cenderung sangat akomodatif. Bahkan pada taraf tertentu kita bisa dikatakan terpesona dan memandang dengan penuh hasrat sehingga kitapun kemudian terjebak, tertipu dan terjerumus dalam lubang nafsu dan maksiat yang menghancurkan. Oleh karena itu, menurut Abu Hafs Al-Haddad ra

 

“Siapa yang tidak curiga terhadap nafsunya sepanjang waktu; tidak menentangnya dalam semua perilaku; tidak menekannya setiap hari, maka orang itu telah terpedaya (terkena tipu daya )”.

 

Bab 17, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi, rev 5/6/2017