Waham Kebesaran (Glandiose) Suatu Penyakit Psikis Delusional

Klaim prestasi seorang mahasiswa doktoral TU Delff yang menggemparkan jagat Indonesia baru-baru ini membuat sebagian besar orang heran. Ada apakah gerangan sampai seorang calon ilmuwan mempunyai keberanian mengklaim apa yang tidak dilakukannya di muka publik, bahkan melibatkan media,  institusi, lembaga dan nama besar seseorang. Gejala demikian di dunia kedokteran disebut delusi atau waham kebesaran atau glandiose. Apakah itu?

Menurut situs kesehatan alodokter.com, delusi atau waham adalah suatu keyakinan yang salah karena bertentangan dengan kenyataan. Gangguan delusi merupakan salah satu jenis penyakit mental psikosis. Psikosis sendiri ditandai dengan ketidaksinambungan antara pemikiran dan emosi sehingga penderitanya kehilangan kontak dengan realitas sebenarnya. Dunia bagi penderita delusi akhirnya lebih mirip realitas maya atau Virtual Reality (jleb!).

Kesadaran Palsu

Pada gangguan delusi, penderitanya memiliki kesadaran palsu dari pemaknaan kenyataan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Walau sudah jelas terbukti bahwa apa yang diyakini penderita berbeda dengan kenyataan, penderita tetap berpegang teguh pada pemikirannya. Penderita umumnya tidak mau membicarakan delusinya kepada orang lain karena mereka yakin bahwa apa yang menjadi delusinya merupakan sesuatu yang unik dan mungkin tidak dapat diterima atau dipahami orang lain.

ilustrasi, superman

Penyebab gangguan ini belum diketahui secara pasti, namun ada beragam faktor pendorong, antara lain faktor keturunan atau genetika, faktor biologis, maupun faktor lingkungan atau psikologis. Ada kecenderungan bahwa gangguan delusi dapat terjadi pada orang yang memiliki riwayat gangguan delusi atau skizofrenia di dalam keluarga. Stres serta penyalahgunaan obat-obatan maupun mengonsumsi minuman beralkohol berlebihan juga dapat memicu gangguan delusi. Selain itu, ketidaknormalan fungsi otak, seperti pada penderita penyakit Parkinson, Huntington, demensia, stroke, serta kelainan kromosom, juga memicu terjadinya gangguan delusi.

ilustrasi, high tech achiever

Gangguan delusi dibagi ke dalam beberapa jenis berikut, yaitu:

  • Waham kebesaran (Grandiose), yaitu memiliki rasa kekuasaan, kecerdasan, atau identitas yang membumbung tinggi. Menurut http://www.etymonline.com, kata glandiose serapan dari bahasa Perancis dan sudah dikenal sejak tahun 1828  yang artinya “megah”, “mengesankan, sangat berpengaruh”. Penderita waham ini meyakini bahwa dirinya telah melakukan suatu penemuan penting atau memiliki talenta yang hebat. Selain itu, penderitanya juga bisa meyakini bahwa dirinya memiliki kemampuan spesial atau memiliki relasi khusus dengan figur yang hebat, misalnya hubungan dengan presiden, tokoh terkenal atau selebritas terkenal. Padahal kenyataannya tidak demikian. Kasus yang baru-baru ini heboh dimana seorang peneliti muda mengaku lulusan institut top markotop dari Jepang, dapat beasiswa dari Belanda, melakukan berbagai riset menakjubkan, mempunyai hak paten teknologi, memenangkan lomba desain teknologi canggih, jadi direktur perusahaan aerospace high-tech, mengembangkan teknologi pesawat siluman terbaru, bahkan merasa diistimewakan oleh seorang yang terkenal di iptek kedirgantaraan merupakan contoh kasus yang menarik yang menunjukkan adanya gejala grandiose.
  • Erotomania, yaitu meyakini bahwa dirinya sangat dicintai oleh seseorang tertentu. Sering kali terjadi, orang yang menjadi objek delusi adalah orang-orang terkenal atau berkedudukan penting. Penderita umumnya menguntit dan berusaha melakukan kontak kepada objek delusinya. Kasus-kasus demikian sering ditemui pada para selebritas yang diganggu oleh fans atau seseorang yang menguntitnya kemana saja dia pergi. Sampai akhirnya mungkin saja akan membahayakan si artis. Sandra Bullock misalnya, artis cantik Hollywood melaporkan ke polisi dua orang yang selalu menguntitnya di tahun 2003. Bahkan salah satu penguntit itu berani melompat pagar dan masuk ke rumah bintang film Speed itu.
  • Waham kejar (Persecutory), yaitu merasa terancam karena yakin bahwa ada orang lain yang menganiaya dirinya, memata-matai, atau berencana mencelakainya. Di era internet, dengan kamera dimana-mana, smarthphone dan Notebook justru dicurigai menjadi sumber masuknya pengawasan yang tidak sah. Merasa dimana-matai di zaman ini pun terjadi pada siapa saja, bahkan seringkali menjadi kocak kalau tidak menyadari apa masalahnya. Ada yang merasa telponnya disadap, akun Twitternya diawasi, Facebooknya dibajak dll. Sebagian mungkin benar karena hampir seluruh komunikasi di Internet sebenarnya tidak steril kecuali melalui jaringan pribadi. Kasus Snowden dan Wikileak menunjukkan kalau ada beberapa pemerintah di dunia yang menyadap segala aktivitas dunia maya. Makanya di  di zaman kini banyak orang yang tidak sadar mengidap delusi persecutory atau merasa terancam.
  • Waham cemburu. Pada jenis delusi ini, penderita percaya bahwa pasangannya tidak setia kepada dirinya, padahal tidak didukung dengan fakta apa pun. Apalagi di era internet dengan Facebook, BBM, Whatsapp dan sarana komunikasi pribadi lainnya, kecemburuan dapat tumbuh karena satu sama lain pasangan tidak lagi mempercayai hanya gara-gara foto selfie yang nampak mesra dengan seseorang. Banyak kasus perceraian baru-baru ini akibat Whatsapp boleh jadi indikasi munculnya masyarakat delusional tipe pencemburu ini.
  • Campuran. Pada kasus ini, penderita delusi mengalami dua jenis gangguan delusi atau bahkan lebih banyak dari itu.

Menurut Keliat (2009), ada juga jenis waham lain misalnya :

  • Waham curiga: Individu meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan/mencederai dirinya dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh, “saya tahu seluruh saudara saya ingin menghancurka hidup saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya”. “ Banyak Polisi mengintai sayatetangga saya ingin menghancurkan hidup saya, suster akan meracuni makanan saya “.
  • Waham agama: Individu memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, “kalau saya mau masuk surga, saya harus menggunakan pakaian putih setip hari”.
  • Waham somatic: Individu meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau terserang penyakit dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, “saya sakit kanker”. (Kenyataannya pada pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan tanda-tanda kanker, tetapi pasien terus mengatakan bahwa ia sakit kanker.). Contoh : “ Sumsum Tulang saya kosong, saya pasti terserang kanker, dalam tubuh saya banyak kotoran,tubuh saya telah membusuk, tubuh saya menghilang”.
  • Waham nihilistik: Individu meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada didunia/meniggal dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai dengan keadaan nyata. Misalnya, “Ini kan alam kubur ya, semua yang ada disini adalah roh-roh.”. Contoh: “Saya sudah menghilang dari dunia ini, semua yang ada di sini adalah roh-roh, sebenarnya saya sudah tidak ada di dunia”

Gejala delusi berlangsung setidaknya satu bulan. Gangguan ini dapat bertahan dalam beberapa bulan, namun bisa juga bertahan lama dengan intensitas yang datang dan pergi.

Pada beberapa kondisi, gejala delusi juga dapat disertai dengan halusinasi. Halusinasi adalah persepsi sensorik terhadap stimulus yang tidak ada atau dengan kata lain melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Misalnya, orang yang memiliki delusi merasa bahwa organ tubuhnya sedang membusuk bisa disertai halusinasi berupa mencium bau busuk yang sebenarnya tidak ada atau merasakan sensasi lainnya yang berkaitan dengan delusinya (waham somatic).

Sebenarnya, kasus gangguan delusi sendiri cukup jarang dijumpai. Delusi yang dialami seseorang bisa merupakan gejala dari gangguan mental psikosis pada tahap yang lebih serius. Oleh karena itu, dalam memeriksa pasien yang mengalami delusi, dokter juga biasanya mengevaluasi kemungkinan penyakit lain yang lebih umum terjadi, seperti skizofrenia, gangguan mood atau suasana hati, atau masalah medis yang bisa menimbulkan gejala delusi.

Proses Terjadinya Waham

Menurut Yosep (2009), proses terjadinya waham meliputi 6 fase, yaitu :

  1. Fase Lack of Human Need

Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan penderita baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik penderita dengan waham dapat terjadi pada orang-orang dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya penderita sangat miskin dan menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga penderita yang secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara realiti dengan self ideal sangat tinggi.

  1. Fase Lack of Self Esteem

Tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self ideal dengan self reality (keyataan dengan harapan) serta dorongan kebutuhan yang tidak terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya.

  1. Fase Control Internal External

Penderita waham mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi menghadapi keyataan bagi penderita adalah suatu yang sangat berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar penderita mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan penderita itu tidak benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara memadai karena besarnya toleransi dan keinginan menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan si penderita tidak merugikan orang lain.

  1. Fase Environment Support

Adanya beberapa orang yang mempercayai penderita dalam lingkungannya menyebabkanpenderita merasa didukung, lama kelamaan dia menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya norma (super ego) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat berbohong.

  1. Fase Comforting

Penderita merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinannya itu sering disertai halusinasi pada saat penderita menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya dia sering menyendiri dan menghindari interaksi sosial (isolasi sosial).

  1. Fase Improving

Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu keyakinan yang salah pada si penderita akan meningkat. Tema waham yang muncul sering berkaitan dengan traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang). Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain.

Bagaimanakah nasib orang dengan gangguan delusional?

Prospek untuk orang dengan gangguan delusional bervariasi tergantung pada orangnya masing-masing dan  jenis gangguan delusi, dan keadaan kehidupan seseorang, termasuk ketersediaan dukungan terutama dari keluarga dan kemauan untuk tetap berobat dan meminum obat.

Gangguan delusi biasanya (berkelanjutan) mencapai kondisi kronis, tetapi ketika diterapi dengan baik, banyak orang dengan gangguan ini dapat menemukan bantuan dari gejala mereka. Beberapa orang sembuh sepenuhnya dan beberapa orang lain mengalami episode keyakinan delusional dengan periode remisi (kurangnya gejala).

Sayangnya, banyak orang dengan gangguan ini tidak mencari bantuan. Sulit bagi orang-orang dengan gangguan mental untuk mengakui bahwa mereka sedang “sakit mental”. Mereka juga mungkin terlalu malu atau takut untuk mencari pengobatan. Tanpa pengobatan, gangguan delusional bisa menjadi penyakit seumur hidup.

Oleh karena itu, bila Anda mengetahui orang terdekat Anda mengalami delusi atau Anda sendiri yang mengalaminya, jangan ragu untuk menjalani psikoterapi di psikiater. Terapi tersebut biasanya mencakup tiga metode, yaitu penenangan dengan segera agar penderita tidak membahayakan dirinya, terapi perilaku kognitif, serta obat-obatan antipsikotik.

sumber diakses 10/10/2017 :

  • http://www.alodokter.com/penderita-gangguan-delusi-suka-meyakini-yang-aneh-aneh
  • http://doktersehat.com/gangguan-delusi/
  • http://www.alodokter.com/gangguan-kepribadian
  • https://www.sehatcenter.com/gangguan-penderita-delusi-adalah-antara-penyakit-dan-mimpi/
  • http://sakinahkreatif.blogspot.co.id/2014/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html
  • http://www.kadisiyah.org/id/blog/2015/10/27/waham-ilmu-yang-haqq-keraguan/

Tulisan ini Repost dari situs Charuban.com dengan beberapa tambahan