Umpan Balik

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaaan diri mereka sendiri (yaitu watak , perilaku, akhlak, karakter, nafsu). Dan bila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya, dan tidak ada pelindung bagi mereka selain-Nya. (QS 13:11)

 

Terdapat suatu mekanisme umpan balik dimana takdir sebagai suatu proses yang dinamis mengembalikan arus qada (takdir yang sedang berjalan) dan mengembalikan Kosmos (alam semesta dan sunnatullah) kepada Allah yang mengetahui ukuran atas segala sesuatu dengan kepastian hukum-Nya, dan dengan demikian mengetahui dan memiliki kekuatan melebihi segala sesuatu (al-Qudrah). Jadi, rahasia takdir hanya dapat diketahui secara tepat oleh Allah semata. Meskipun demikian, makhluk hidup mungkin saja diberikan penglihatan kepada takdir mereka sendiri. Namun, pengetahuan yang diterimanya tergantung pada kecenderungan-kecenderungan dari prasangka dirinya untuk mengetahui tentang eksistensi awalnya, yang tidak lain adalah proses mengenal diri dan mengenal Ilahi (Man arofa nafsahu faqod Arofa Robbahu).

Pengetahuan seperti itu, akan menghasilkan kebingungan dengan perasaan-perasaan yang saling bertentangan, tumpang tindih dalam ketenangan, dalam penyerahan total di satu sisi dan dalam kegelisahan yang menyakitkan di sisi lain. Sampai akhirnya manusia berserah diri dengan penyerahan total pada apa yang akhirnya menjadi takdir seseorang yang telah ditentukan (qada-nya).

Ketika pengalaman demikian terjadi pada seorang gnosis atau pun yang mengalami karena faktor bawaan (misalnya indigo), atau nampak seperti tidak sengaja (karena dipilih olehNya), maka semua realitas akan ditampilkan dengan suatu transparansi dalam suatu titik yang membingungkan karena semua realitas yang tercitrakan akan bersifat maya dan merupakan penampilan wujud tunggal dalam keserbaragaman atau pluralitas (kebhinekaan) yang terartikulasikan pada masing-masing posisi atau maqam-nya sebagai qadar, qada dan takdir setiap makhluk ciptaan-Nya.

Pada titik tertentu, gejala-gejala psikis akan nampak ke permukaan dan dikenali oleh masyarakat karena si gnosis melakukan aktualisasi ego diri yang boleh jadi belum matang dan menjadi membingungkan. Bagi yang tidak kokoh sandarannya, ia akan jatuh pada penjara egosentrisme yang menyesatkannya. Ia akan melakukan eksperimentasi kenyataan hidup yang dicobakan pada dirinya maupun kepada orang lain, baik dengan rayuan keilmuan, paksaan sampai tipu daya (misalnya dengan ilmu tukang sulap atau ilusionis lantas mengaku jadi Utusan Tuhan).

Celakanya, penerapannya seringkali tanpa tanggung jawab etis maupun moral yang jelas, baik bagi dirinya maupun orang lain. Karena sandarannya melulu hanya pada kebenaran subjektif pengalaman dirinya tanpa perangkat verifikasi yang sahih (syahadat, iman, islam, ihsan) atau tanpa bimbingan guru mursyid yang mumpuni, maka apa yang dinyatakannya bisa jadi sangat sesat dan menyesatkan, baik bagi dirinya maupun orang lain. Sekte-sekte keagamaan atau keyakinan-keyakinan yang menyimpang umumnya dikendalikan oleh orang-orang seperti ini. Makin lama, karena egonya yang mengendalikan segala keinginan dari nafsu dirinya telah menjadi rajanya, aktualitas dirinya semakin lama semakin tidak memiliki sikap yang jelas dan tegas. Iapun menjadi terhijab, iapun menjadi summum bukmum umyun. Ia pun menjadi sosok yang penuh kebimbangan, tidak konsisten, mudah berubah, bersembunyi kedalam kemisteriusan yang dikhayalkannya sendiri (misalnya menjadi Imam Mahdi, Ratu Adil, atau gelar-gelar aneh lainnya, atau masuk kedalam lingkungan yang semakin menyesatkannya misalnya masuk komunitas sekte tertentu, kalangan LGBT, dll.), sampai akhirnya mengalami tekanan mental yang semakin tidak terkendalikan. Yang mengalami hal demikian memang akhirnya sampai pada Kebingungan Ilahiyah dimana keselamatannya dengan akhir yang baik akhirnya harus kembali disandarkan pada kehendak Allah, Pertolongan Allah dan ketidaktahuannya tentang takdir itu sendiri. Di titik inilah manusia pun akhirnya harus berserah diri mutlak seperti halnya Nabi Ibrahim a.s yang akhirnya bersimpuh di hadapan Allah SWT atas kefakiran dirinya sebagai hamba Allah SWT.

 

Bab 9, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi, Rev 22/5/2017