Umpan Balik Positif Dengan Bersukur

Apa yang diperoleh dari suatu ikhtiar manusia, dengan qada, dan sunnatullah Allah yang meliputinya adalah suatu upaya manusia untuk selaras degan kehendak Allah SWT, sehingga ketika suatu keberhasilan dicapai maka hal itu tidak lebih dari karunia yang diberikan kepada kita. Maka kewajiban bersukur akan memberikan umpan balik positif, juga mencegah munculnya kesombongan dan takabur, suatu karakter Iblis yang akan menyusup manakala suatu keberhasilan hanya kita nisbahkan sebagai daya upaya kita sendiri.

Sukur sebagai adab Islam berhubungan dengan merasa lebih dari cukup atas semua pemberian yang telah diterimanya. Karena itu, setiap manusia sejatinya wajib bersukur karena semua yang disebut sebagai keberhasilannya sebenarnya telah meliputi seluruh penampilan Rahmat Tuhan yang nyata di waktu itu, yang melindungi si hamba dari kemurkaan-Nya.

Harus kita sadari bahwa semua aspek Kehendak Allah tidak lebih dari bagian ar-Rahmaan dan ar-Rahiim Allah yang memberikan rahmat, cinta dan pertolongan-Nya. Dari sikap demikian, keberhasilan justru akan menumbuhkan rendah hati. Keberhasilan juga akan menimbulkan zuhud dimana kita tidak akan terpengaruhi dengan capaian yang menghadirkan kekayaan atau kelebihan materi, kelebihan derajat dan jabatan,  maupun kelebihan dalam aspek ruhaniah.

Bersukur atas limpahan rahmat dan karunia adalah bagian dari pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT. Kalau kita sadari betapa semua kehidupan hanya tergantung pada kalimat “Basmalah”, maka dalam setiap helaan nafas kita mestinya bersukur pada-Nya dengan “Alhamdulillah” untuk menunjukkan betapa lemahnya diri kita ini, betapa kita ini sekedar hamba-Nya, sehingga suatu tasbih yang selalu membesarkan-Nya mestinya terucap tiap detik kita menghirup nafas kehidupan untuk bersukur betapa Maha Pemurahnya Allah Yang Maha Esa itu.

Umpan balik positif dari bersukur adalah meningkatnya nikmat dari apa yang sudah kita sukuri baik materi maupun immaterial, jasmaniah maupun ruhaniah. Ketika kita lalai dengan rasa sukur, maka menjadi sombonglah manusia itu sehingga ancaman Allah mengintai di setiap saat berupa adzab maupun sesuatu yang menyakitkan.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(QS 14:7)

Sukur juga akan membawa pada pengertian hakiki tentang jalan yang lurus sebagai suatu nikmat :

(lagi) yang mensukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. (QS 16:121)

Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersukur”.(QS 39:66)

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersukur dan ada pula yang kafir.(Qs 76:3)

Hakikat bersukur sebenarnya berkaitan erat dengan penciptaan semua makhluk. Melalui kalimat Hamdalah, sebenarnya Allah mengingatkan langsung bahwa semua manusia semestinya bersukur karena sejatinya sejak dari rahim, ruh ditiupkan, berzikir, fikir dan berikhtiar dalam menjalani kehidupan, sampai meninggal dan kemudian di akhirat mendapat pahala masing-masing tidak lebih dari suatu rahmat, kasih sayang dan pertolongan Allah yang tak ada habisnya bagi yang bisa mensukuri-Nya.

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersukur.(QS 32:9)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersukur.(QS 16:78)

Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersukur. (QS 23:78)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.(QS 31:41)

Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau Ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.(QS 27:19)

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.(QS 2:172)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahan kamu bersukur. (QS 30:46)

Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersukur. (QS 35:12)

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin memgambil pelajaran atau orang yang ingin bersukur.(QS 25:62)

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersukur kepada-Nya.(QS 28:73)

Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersukur.(QS 2:56)

Selain berkaitan erat dengan penciptaan, sukur juga berkaitan dengan rahmat dan kasih sayang Allah yang tiada batasnya tanpa pamrih, maka bersukur maupun tidak sebenarnya tidak akan mengurangi Kemuliaan Allah SWT karena Dia Maha Pemberi.

Apapun yang dilakukan manusia sejatinya cuma terjadi karena Kemurahan Allah SWT semata maka hanya kedurhakaan sajalah yang akan ditimpakan bagi mereka yang tidak bersukur meskipun Allah masih membuka pintu ampunan bagi hambanya yang memahami.

Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh.

Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensukuri.(QS 42:23)

Tanpa adanya sifat sabar, tawakal, dan sukur seorang manusia bisa terseret kepada sifat-sifat Iblis seperti sombong dan takabur, dan pada akhirnya ketika kesempitan melanda yang muncul adalah sikap putus asa dari rahmat Allah SWT dengan bersandar pada keakuan maupun kehambaan pada selain Allah (ghairullah) yaitu syirik.

Dalam kehidupan kita sering kali melihat manusia yang ingin cepat kaya dan serba instan yang sebenarnya menunjukkan tidak adanya sikap berserah diri, sabar, sukur, dan tawakal yang tidak lain menunjukkan tidak adanya keimanan pada manusia yang bersangkutan. Ketika kondisi demikian terjadi maka nafsu-amarah pun menguasai. Ancaman Iblis menjadi sangat nyata bagi mereka yang tidak bersukur,

kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersukur (taat).(Qs 7:17)

Sikap sukur adalah sebuah pupuk bagi terciptanya bumi hati yang menyuburkan bagi tumbuhnya berbagai rupa tanaman, tempat tumbuhnya cahaya kearifan, tumbuhnya pilar-pilar keimanan seperti halnya ladang yang subur dan terawat dengan baik, maka bersukur adalah merawat apa yang sudah dikaruniakan oleh Allah SWT sebagai suatu nikmat, rahmat dan kasih sayang, dan pertolongan-Nya.

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersukur.(QS 7:58)

 

Bab 15, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi, revisi 31/5/2017