‘Tut Wuri Angiseni’ Pedoman Dakwah Islam Para Wali, Bukan Indoktrinasi Tapi Jalan Dibelakang Sambil Mengisi

Walisongo sosok yang legendaris di Indonesia, khususnya di Tanah Jawa. Sampai hari ini banyak ahli yang tidak tahu persis bagaimana dakwah Walisongo dilakukan sehingga dalam waktu yang relatif tidak lama mampu mengislamkan tanah Jawa. Harian krjogja dot com melansir suatu tulisan singkat yang menarik kalau dakwa Walisongo itu mempunyai konsep TuT Wuri Angiseni . Kalimat ini memang jarang terdengar di telinga masyarakat Indonesia. Sebenarnya dalam kalimat inilah tersembunyi intisari strategi yang digunakan oleh para wali untuk menarik hati masyarakat untuk masuk Islam, tanpa paksaan.

Media daring krjogja.com merujuk pada buku Teknik Jurnalistik Sistem Pers Pancasila  yang ditulis Pemimpin Redaksi Kedaulatan Rakyat M Wonohito,  bab terakhir dari buku yang terbit tahun 1977 mejadikan tut wuri angiseni sebagai judul. Bab tersebut secara khusus membahas bahwa bangsa ini sudah punya teori tentang komunikasi massa sejak lama.

Guru Besar Falsafah Islam Universitas Gadjah Mada (UGM) Ki Musa Al Mahfud menemukan naskah di makam salah satu Wali Songo yaitu Sunan Bonang yang berisi laporan tentang musyawarah alim ulama.

Dalam naskah tersebut ada pedoman bagi dakwah Islam, bunyinya : Dalam melakukan dakwah para alim ulama hendaknya berpegang kepada tut wuri angiseni. Cara berdakwah tersebut kemudian dijalankan dan berhasil.

Tut wuri angiseni artinya, jalan di belakang sambil mengisi. Para ulama tidak bicara dengan nada harus-harus-harus, melainkan mengajarkan agama Islam dengn cara yang tidak kentara tapi kontinyu dan mendalam.

Sunan Bonang sendiri dikenal sebagai sunan yang suka berdakwah dengan musik gamelan. Guru Sunan Kalijaga inilah yang menciptakan alat musik Bonang, Kenong dan Bende. Salah satu seni asal muasal pencetusan Tut Wuri Angiseni adalah acara Grebeg Besar di serambi Masjid Agung Ampel Dento Surabaya. Pelaksanaannya dimulai setelah walisongo angkatan I mengadakan sidang di serambi Masjid Agung Ampel Dento Surabaya,yang menelurkan keputusan sidang sebagai berikut :

“NGENANI ANANE SOMAWONO KIPRAH MEKARE TSAQOFAH HINDU ING NUSA SALALADANE, JUWAJIBAN PORO WALI AREP ALAKU TUT WURI ANGISENI. DARAPUN SUPOYO SANAK-SANAK HINDU MALAH LEGO-LEGOWO MANJING ISLAM.

Artinya: Dengan adanya perkembangan ajaran Hindu di pulau wilayah ini, tugas para wali dakwah menyesuaikan adat istiadat setempat sambil mengisi nafas Islam, agar supaya masyarakat Hindu hatinya rela dan tulus ikhlas masuk Islam.

Keputusan itu ditulis Sunan Bonang dengan Huruf Arab Gondil. Pada tahun 1938 M, masih tersimpan di dalam mushola Astana Tuban dirawat oleh juru kunci yang bernama Raden Panji Soleh. Sejak itu, Sunan Kaljaga mulai bertindak sebagai pelopor pembaharuan (Reformis) dalam menyiarkan agama Islam.Untuk mengimbangi kepentingan masyarakat, beliau ciptakan jenis kesenian baru yang disebut Wayang Purwo (wayang kulit). Semua jenis kesenian rakyat yang hampir mati karena Majapahit runtuh sehingga kesanian rakyat dibangkitkan lagi.Hal itu dibenarkan juga oleh Dr. W.F Stutterheim dalam tulisannya “Culture Geschidenis Van Indonesia”.

Bukti keberhasilan dakwah dengan cara tut wuri angiseni bisa dilihat dengan berbondong-bondongnya masyarakat pindah dari agama sebelumnya ke agama Islam dengan damai. Candi Prambanan peninggalan zaman Hindu dan Candi Borobudur peninggalan agama Budha tetap tegak.

Hal itu dinilai sebagai keberhasilan dakwah Islam dengan cara tut wuri angiseni, bukan indoktrinasi. Sebab indoktrinasi menanamkan gagasan baru ke jiwa orang lain (dengan paksa). Akibatnya gagasan baru tersebut akan ditelan mentah-mentah. Tidak dicerna oleh pikiran dan rasa. (*)

sumber :