Teknologi Spiritual Menuju Takwa

Ketika tradisi puasa umat terdahulu diformalkan sebagai ibadah wajib bagi Umat Islam, puasa kemudian dinyatakan sebagai puasa di bulan Ramadan, yaitu bulan penyucian jiwa. Pelaksanaannya sebagai ritual bukan sekedar untuk memenuhi kuota kewajiban sebagai Umat Islam semata.

Laku puasa memang bukan monopoli Umat Islam. Pada beberapa tradisi agama, baik agama langit maupun agama bumi, tradisi puasa dengan berbagai variasinya masing-masing banyak ditemukan. Di Agama Islam, ketika ia ditetapkan menjadi bagian dari syarat akidah Islam, ia merupakan metode praktis yang boleh saja disebut sebagai metode pewarisan pengetahuan Nabi Muhammad SAW. Karena itu, puasa Ramadan erat kaitannya dengan upaya untuk membangun manusia yang berkarakter takwa dan mulia yaitu manusia berakhlak Muhammad, dan tentunya pantas sebagai pewaris ajaran Nabi Muhammad SAW dengan sebutan sebagai Umat Islam.

Sejarah panjang puasa ditemukan di banyak peradaban di Planet Bumi ini. Karena itu, formalisasi puasa sebagai Kewajiban Agama Islam bukan suatu ritualisasi tradisi dari suatu budaya sektarian misalnya suku Quraish dari Arabia semata. Namun merupakan metode spiritual universal, cara pembelajaran universal supaya Umat Manusia secara umum tidak dilalaikan dan dilenakan dengan kehidupan dunia yang fana tapi amat sangat menggoda. Sehingga, universalitas puasa sebenarnya berhubungan dengan metode empiris dan aplikasi teknologi spiritual yang nyata dimana pendidikan lahir dan batin manusia langsung dilibatkan dengan fenomena-fenomena kehidupan, dimana ia terlibat didalamnya sebagai pelakon dan bagian dari alam semesta. Manusia dengan menjalankan ritual puasa misalnya dalam satu periode tertentu setiap tahun seperti ibadah Ramadan justru dituntut untuk menjadi pelaku sekaligus pengamat dari semua kenyataan hidup yang dijalaninya. Kalau ciri-ciri ini tidak dibiasakan muncul selama proses puasa dijalani, maka boleh jadi capaian umat untuk menjadi manusia takwa kualitasnya tidak optimal.

Di dalam Al Qur’an tujuan puasa secara lugas dinyatakan untuk menjadi Takwa (lihat Bab 2). Takwa bagi setiap orang yang beragama Islam berhubungan dengan perlindungan dari ancaman yang merugikan jiwa dan raganya. Karena itu, menjadi takwa dengan puasa Ramadan dapat dikiaskan bagaikan mengenakan baju keyakinan dan keimanan yang dilekatkan untuk menutupi ketercelaan jiwa yang selama satu tahun telah robek dan compang camping berjuang untuk selalu menghadirkan Jamal dan Jalal Allah dalam kehidupannya. Tentunya dengan potensi kemanusiaannya masing-masing, potensi buruk maupun baiknya masing-masing (simak QS 91:7-10).

Kita, sebagai manusia pun selama setahun, sadar atau tidak selalu melakukan kelalaian yang dapat mengganggu jiwa kita secara psikologis. Sehingga, dalam masa sebulan dalam periode satu tahun sepanjang hidup dengan naungan keyakinan Islam, dengan teknologi pemurnian dan penyucian jiwa yang “mature” semua itu harus dilakukan secara formal dengan istikamah sebagai kewajiban agama.

Ini berarti puasa Ramadan juga merupakan aplikasi praktis dari semua rahasia pengolahan ruhani dimana disiplin diri dilatih kembali dalam koridor sebagai Umat Islam yang mengikrarkan universalitas Rahmat Allah dengan Ukhuwah Islamiyah sebagai permadani dari kenyataan hidup. Semua itu harus dijalani Umat Islam dengan sadar dan tentunya dengan pengetahuan, teknik praktis yang sederhana dan benar, dan keyakinan yang kokoh bahwa semuanya akan bermuara dalam ketakwaan dan Rida-Nya. Muara keberhasilan itu adalah menjadikan setiap Umat Islam menjadi al-Mukmin yang pantas menjadi wakil-Nya yang bertanggungjawab kepada semua makhluk.

Tanpa berupaya untuk mencapai ketakwaan yang benar, maka boleh jadi itulah yang sering disebut dalam al-Qur’an maupun hadis bahwa puasa seseorang atau suatu kaum menjadi sia-sia ibadahnya karena hanya sekedar menjalankan ritual agama dengan wara-wiri dan hura-hura semata. Perlu kita renungkan, tanpa pemaknaan dengan kesadaran sebagai manusia yang bertakwa, seluruh aktivitas ritual kita tidak menyatakan apa-apa, tetapi hanya sekedar rutinitas robotika saja. Emang mau jadi robot yang tidak punya jiwa?

 

Dari bab 3 e-book Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, @tmonadi, revisi terkini 13/5/2017