Tawakal

Sikap sabar akan membawa kepada tawakal yang secara harfiah dapat dimaknai sebagai melemparkan diri dalam penghambaan (Ubudiyah) sesuai dengan firman, “Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya(QS 25:58)”, ketergantungan hati kepada sang maha Memelihara (rububiyyah) “dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.(QS 33:3)”, dan tenang dengan kecukupan. Dalam arti, jika diberi akan bersukur, jika tidak diberi akan bersabar dan rela dengan takdir yang sudah ditentukan, demikian menurut Abu Tuab an-Najhsyabi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (http://www.kbbi.web.id) mengartikan tawakal pasrah diri kepada kehendak Allah; percaya dengan sepenuh hati kepada Allah (dalam penderitaan dan sebagainya).

Didalam al-Qur’an Allah SWT menginformasikan beberapa kategori tawakal misalnya dalam firman,

 

Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal. (QS 14:11-12)

 

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.(QS 65:3)

 

Pada QS 14:11 Allah mengkhususkan tawakal kepada orang Islam, pada QS 14:12 Allah menyebutkan tawakalnya semua orang yang bertawakal bagi mukmin yaitu yang telah menjadi Islam dengan syariat yang berkaitan dengan perintah dan larangan-Nya, kemudian pada QS 65:3 Allah menyebutkan tawakal bagi orang-orang khusus dimana perintah dan larangan-Nya telah menjadi bagian dari gaya hidupnya sebagai keyakinan yang kokoh dan kuat yaitu Islam sebagai adab dan agama, yang akhirnya secara langsung berkaitan erat dengan pengertian rezeki yang tidak disangka-sangka.

Allah tidak mengembalikan mereka pada sesuatu selain Dia sendiri yang mengembalikannya. Sebagaimana firmanNya yang ditujukkan kepada para rasul dan imam yang bertawakal.

 

Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya, (Qs 25:58)

 

Para penempuh jalan ruhani umumnya mengartikan tawakal sebagai suatu hakikat dimana tidak seorangpun dari makhluk-Nya ada yang sanggup berbuat sempurna. Sebab yang maha paripurna hanyalah Allah SWT. Syekh Abdul Qadir al-Jilani memaknai tawakal sbb:

 

“Janganlah engkau ingkar kepada Allah. Berpegang teguhlah kepada-Nya. kembalilah kepada-Nya dengan penuh kekhusyuan dengan merendahkan diri. Bertawakallah kepadanya dengan penuh penyerahan. Janganlah menuruti nafsu kebinatanganmu. Janganlah mencari kepentingan untuk mencari dunia atau akhirat saja ataupun mencari kedudukan yang lebih tinggi dan lebih mulia. Ketahuilah engkau hanyalah hamba-Nya, sedangkan hamba serta yang segala dimiliki hanyalah milik tuannya. Tuanlah yang memiliki segalanya. Hendaklah engkau bersopan santun dan jangan menyalahkan Tuanmu. Segalanya telah ditentukan olehnya.”

 

Sikap sabar dan tawakal yang membangun watak berserah diri sebenarnya mempunyai kepentingan untuk mengendalikan hawa nafsu dan ambisi. Khususnya untuk mencegah dari hal-hal yang sudah jelas diperintahkan oleh Allah kepada makhluk-Nya maupun apa yang dilarang-Nya.

Dengan demikian, kendati manusia diperkenankan untuk berikhtiar, namun ikhtiar tersebut harus disertai sikap positif dengan keistikamahan atau ketekunan yang konsisten, kesabaran, dan tawakal. Manusia boleh berupaya dengan seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. Namun sekiranya hal itu sudah dilakukan maka semua itu harus dikembalikan kepada Allah SWT karena bagaimanapun juga Allah lah yang menentukan hasil akhirnya.

Dengan sabar, tawakal dan berserah diri maka sikap sombong ketika upaya makhluk itu berhasil dapat ditekan bahkan dihilangkan. Bahkan pada banyak aspek sukur lah yang mesti dimunculkan bahwa semua ini tak lebih dari adanya Kemahakuasaan Allah SWT yang memberikan pertolongan. Sedangkan bila kegagalan yang diperoleh maka sabar dan tawakal akan membuat kita tidak ambil pusing karena kita sadar bahwa itulah yang dikehendaki Allah SWT saat itu.

Pada titik akhirnya maka puncak segala zikir, fikr dan ikhtiar adalah suatu keadaan dimana seluruh keberdayaan yang kira rasakan diungkapkan dengan kesadaran fitriyah dengan tertunduk dan berserah diri. Itulah adab Islam sebagai sikap fitriyah hamba di hadapan Allah yang akan menimbulkan sikap Rida kita kepada ketentuan Allah yang terjadi dan aktualisasi dari Rida Allah.

 

Dari bab 14, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi, Rev 31/5/2017