ROHINGYA: Analisis Opini

Rohingya kembali menarik perhatian kita, khususnya Umat Islam, yang hak-haknya tertindas di sebuah negeri bernama Birma. Masalah yang kembali mengemuka ini menarik banyak perhatian publik khususnya di media sosial. Bagaimana isu Rohingya berkembang? Berikut ini analisis Ismail Fahmi melalui tool SNA-nya yang terkenal Drone Emprit.

Bagaimana publik mengaitkan isu Rohingya dengan topik lain yang menjadi perhatian mereka? Lebih spesifik, ketika bicara Rohingnya, siapa yang banyak mereka asosiasikan, dan bagaimana kecenderungan sentimennya? Bagaimana hubungan Rohingnya dengan Pemerintah, Jokowi, dst dalam opini tersebut?

Dan pertanyaan paling penting: adakah potensi IMPOR KONFLIK ke Indonesia?

Kali ini saya tidak menampilkan analisis SNA dari Drone Emprit. Namun, kita akan membedah isu ini dengan fitur Opinion Analysis, dimana opini akan dikelompokkan berdasarkan kategori tertentu. Kategori dibuat khusus setelah kita menganalisis secara cepat asosiasi-asosiasi yang muncul dalam beberapa twit populer.

KATEGORI OPINI

Untuk isu Rohingnya ini, saya ingin melihat opini publik terkait 5 topik yaitu:

– Pemerintah Indonesia
– Jokowi
– Umat Budha
– Aung San Suu Kyi
– Jenderal Min Aung Hlaing

Ketiga topik pertama terkait dengan kondisi di dalam negeri. Seberapa besar publik mengaitkan isu Rohingya dengan pemerintah, Jokowi, dan umat Budha. Kaitan dengan Pemerintah dan Jokowi ini bisa menunjukkan tekanan publik kepada pemerintah untuk bersikap. Sementara kaitan dengan umat Budha, bisa menunjukkan seberapa besar ancaman disintegrasi di dalam masyarakat bisa muncul karena isu agama.

Sementara kedua topik terakhir, kita ingin melihat sebarapa jauh publik memahami problem Rohingnya. Mereka melihat ini sebagai problem yang terkait dengan lemahnya Aun San Suu Kyi, atau besarnya peran jenderal Min Aun Hlaing dalam mengatur segala kebijakan Myanmar, khususnay terkait Rohingya.

HASIL ANALISIS

Ok, kita lihat hasil analisis. Dari 10.218 status yang masuk dalam filter terkait 5 topik di atas, kita temukan hasil sebagai berikut:

Sebanyak 33% status publik mengaitkan isu Rohingya ini dengan Pemerintah, 25% dengan Jokowi, 19% dengan Umat Budha, 18% dengan Aung San Suu Kyi, dan 6% dengan Jenderal Min Aung Hlaing.

Ternyata, publik melihat isu ini lebih banyak berkaitan dengan pemerintah dan Jokowi, dibandingkan dengan Aung San dan Jenderal Min. Tekanan ke dalam negeri lebih besar dibanding tekanan kepada pemerintah Myanmar.

Yang mengkhawatirkan adalah, kaitan isu ini dengat Umat Budha di Indonesia ternyata cukup tinggi. Lebih tinggi dibandingkan dengan Aung San. Artinya, potensi disintegrasi bangsa bisa muncul di Indonesia gara-gara isu Rohingya.

Pemerintah dan seluruh komponen bangsa, musti menyikapi kecenderungan ini dengan bijak. Pada masa sulit seperti ini, potensi disintegrasi harus ditangani dengan baik. Dengan cara yang lebih mengutamakan persatuan, bukan malah polarisasi.

Ok, kita lihat lebih detail bagaimana opini di masing-masing kategori.

sumber : Facebook Ismail Fahmi

PEMERINTAH

Kecenderungannya sebagian besar negatif (25%) dan hanya 7% yang positif. Contoh opini dalam kategori ini adalah:

@rmolco: Lieus Sungkharima: Pemerintah Jangan Beretorika, Usir Dubes Myanmar Dari Indonesia! #rohingya https://t.co/9Sb1ExMLYo

@CondetWarrior: Bagaimana bisa Pemerintah Indonesia malah mengecam para pejuang #ROHINGYA? Padahal UNHCR mengatakan bahwa ini adalah PEMBERSIHAN ETNIS! 😬

Pemerintah perlu melihat ini sebagai masukan yang penting, berupa harapan dan tekanan dari publik agar bersikap.

JOKOWI

Dari 25% opini terkait Jokowi, sebanyak 21% sentimennya negatif, dan hanya 4% yang netral. Contoh opini terkait kategori ini:

@Ni35a_: Saya tak faham apa yg membuat pak @jokowi lemah dalam bersikap, Rohingya dibantai dgn cara yg sangat keji. #UsirDubesMyanmar.

@AdiSetia_wan: Pak Jokowi. Tunjukkan bahwa kita bangsa yg menjunjung tinggi nilai2 kemanusian. Protes Keras pembantaian Rohingya

@awemany: Sekedar saran ya. Buzzernya Jokowi mbok ya ikut aktif untuk menyebarkan keprihatinan terhadap Rohingya. Jangan cuma basa-basi.

Di sini kita lihat, tekanan dan dorongan agar Jokowi menunjukkan ketegasan sikap sangat diharapkan oleh publik. Sepertinya publik membandingkan pernyataan Jokowi tentang Rohingya (kalau ada), dengan pernyataan keras dari Erdogan (Turki).

UMAT BUDHA

Dari 19% opini yang terkait Umat Budha, 14% bernada negatif, dan hanya 1 % yang positif. Berikut ini beberapa contoh opini dalam kategori ini.

@KristiAnonYM: Bagaimana dgn kelompok Budha di Indonesia ini RT @voaislam: Kelompok Buddha Desak Militer Myanmar Lebih Keras Lagi Perangi Muslim Rohingya

@KedahTawakal: Budha Indonesia Sebut Kekerasan di Rohingya Tak Terkait Agama, Sesepuh Katolik: KAMU PASTI BOHONG!…

@EVALockheart: PENGKABURAN FAKTA 👉 RT @serujinews: Budha Indonesia: Kekerasan Yg Menimpa Muslim Rohingya Tidak Terkait Agama

Membaca opini ini, kita bisa lihat adanya potensi disintegrasi bangsa. Kencenderungan publik untuk membenturkan isu Rohingya dengan kelompok Budha di Indonesia bisa berbahaya.

CLOSING

Saya melihat adanya potensi impor konflik dari Rohingya ke Indonesia, melalui asosiasi isu Rohingnya dengat umat Budha di Indonesia. Ini harus diwaspadai, jangan sampai disintegrsi terjadi.

PUblik harus cerdas dan hati-hati, karena yang diinginkan oleh pihak luar dari masalah regional ini adalah melebarnya isu ini ke negara2 sekitar, khususnya Indonesia yang sangat besar populasinya, kaya sumber daya alamnya. Jika sampai terjadi perpecahan, yang rugi adalah bangsa ini sendiri.

Pemerintah harus bisa bersikap adil, tegas, dan bijak dalam isu-isu seperti ini. Suka atau tidak, beberapa isu terakhir yang diangkat oleh lembaga pemerintah, malah berpotensi menimbulkan polarisasi yang jauh lebih besar. Harus dievaluasi lagi ini.

Organisasi massa besar di Indonesia, sperti NU dan Muhammadiyah, dimana anak-anak mudanya dalam beberapa tahun terakhir ini mulai aktif dalam percaturan di sosial media, harus mengedepankan persatuan, silaturhami. Mereka harus mengingatkan anak-anak mudanya, agar mengedepankan persatuan, bukan meonjolkan hebatnya kekuatan masing-masing, dan mencela kelompok lain.

Wallahu al’am.

sumber :