Rakyat Soleh Tergantung Pemimpinnya, Jangan Dibolak-balik

Pemimpin dimanapun juga dipilih dari yang terbaik diantara suatu kaum. Bahkan dalam kalangan penjahat pun pemimpin yan dipilih adalah penjahat yang paling disegani.

Per definisi, menurut Wikipedia Indonesia, kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi atau suatu kelompok masyarakat. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah “melakukannya dalam kerja” dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, praktisi, perusahaan, aktif berorganisasi dll.

Jadi jelas pemimpin adalah orang yang patut diikuti, apalagi pemimpin suatu negara tentunya dipilih berdasarkan kriteria yang sangat mumpuni, bukan asal pilih. Kalaupun kelak yang terpilih ternyata tidak sesuai dengan harapan, maka semua itu baru dikembalikan kepada keadaan saat pemilihan apakah pemilihannya jujur atau banyak manipulasi.

Beriku ini tulisan seorang ustad yang menyoroti masalah kepemimpinan dan kekhawatirannya ada upaya untuk menjungkirbalikkan logika, sehingga orang akan terkecoh.

ooOOoo

“Sholehnya pemimpin tergantung rakyatnya. Jadi biar pemimpinnya sholih, rakyatnya dulu harus sholih”.

Begitulah kira-kita slogan pamungkas kaum penjilat penguasa (mulukiyyah). mereka hanya menggunakan satu dua atsar guna menebar doktrin taat penguasa tetapi membuang atsar yang lain…

Selama ini kita hanya mendengar dari merek slogan itu. “buruknya pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya”.

Apakah perkataan ini mutlak benar ?

Jawabannya, TIDAK MUTLAK. karena banyak perkataan perkataan salaf tentang baiknya pemimpin maka rakyatnya akan baik juga. Singkat kata, kesolehan rakyat juga bergantung pada kesolehan pemimpin.

Jika kita mau menukil atsar dari salaf, jangan hanya menukil separoh-separoh saja sebagaimana budaya kotor kaum Talafi, akan tetapi semua atsar yang berkaitan dengan masalah itu harus kita nukil dengan adil dan objektif, di antaranya adalah masalah ” BAIK DAN BURUKNYA PEMIMPIN ADALAH CERMINAN RAKYATNYA “.

Seorang wanita dari Bani Ahmas bertanya kepada sahabat Abubakar Ash-Shiddiq Radhiallahu anhu, :

” Apa hal yang menjamin kami akan senatiasa berada di atas kebaikan yang Allah datangkan setelah masa Jahiliyah? Abu Bakar menjawab: “Kalian akan senantiasa di atas kebaikan selama PEMIMPIN kalian bertindak lurus ( adil)”.

(Shahih Bukhari dalam shahihnya no.3834 dari sahabat Qais bin Abi Hazm radhiallahu anhu).

Al-Imam Fudhoil bin Iyyadh rahimahullah mengatakan :

” Jika ada di antara doaku yang mustajab, maka aku akan pakai untuk mendoakan PEMIMPIN, beliau di tanya,

“Kenapa bisa seperti itu wahai Abu Ali? Maka beliau menjawab : “Jika doa yang mustajab itu aku pakai untuk diriku, maka aku tidak akan mendapatkan balasan, dan jika aku pakai untuk mendoakan pemimpin, MAKA BAIKNYA PENGUASA AKAN BERDAMPAK BAIK KEPADA RAKYAT DAN NEGERI NYA”.

(Lihat kitab Hilyatul Auliyaa 6/328 oleh Imam Abu Nuaim, lihat juga Syarhus Sunnah hal. 346, oleh Al Imam Al Barbahary, dan juga kitab Imaamatul Udzma ad Dumaiji 1/370).

Imam Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah menasehati pemimpin dengan tegas, yang bernama Abu Ja’far al Manshur. beliau berkata :

” Sungguh aku tahu tentang seseorang yang bila ia baik, maka umatpun menjadi baik, dan jika ia buruk maka umat pun buruk, Al-Manshur bertanya: “Siapa yang engkau maksud? Ats-Tsauri menjawab : “Engkau.! ”

(Lihat kitab Siroojul Muluuk 1/35 oleh al Imam At Thurthusy rahimahullah)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan :

“…Oleh karena itu, Ulil Amri itu ada dua bagian, yaitu Ulama dan Umaraa’, karena jika mereka itu BAIK maka rakyatnya akan baik, dan jika mereka BURUK, maka rakyatnya pun akan buruk”.

(Lihat kitab Majmu’ Fatawa juz 28/171).

Demikianlah sejumlah atsar yang saya nukil agar akal kita tidak mudah di jungkir-balik oleh kaum talafi…

Wallahu a’lam.

penulis : Ustad Abu Ulya Al-Mubaarak,Lc., beredar dari WAG SBI