Rahasia Takdir

Rahasia takdir merupakan salah satu jenis pengetahuan yang paling agung. Menurut Syekh Al Akbar Muhyidin Ibnu Arabi, dalam bukunya Fusus al-Hikam, disebutkan bahwa rahasia takdir merupakan anugerah Allah kepada seseorang sebagai instrumen penglihatan-Nya yang sudah Dia pilih untuk mendapatkan gnosis yang sempurna. Pengetahuan tentang rahasia ini akan membawa kepada ketenangan sempurna atau pun siksaan menyakitkan.

Kenapa bisa begitu? Karena pengetahuan ini sebenarnya mempertentangkan penggambaran tentang Allah sebagai Yang Murka (al-Gadab) dan Yang Rida (ar-Rida). Dan dengan rahasia inilah Nama-nama Ilahi nampak seperti dipertentangkan atau saling kontradiksi. Tanpa pemahaman yang mendalam orang bisa jadi keliru memahami apa yang tampil dipermukaan.

Dengan uraiannya tersebut, Ibnu Arabi menegaskan bahwa berkenaan dengan ukuran dan proporsi, takdir menentukan kapan, dimana, dan bagaimana tentang penciptaan, kapan kejadiannya (manifestasinya), serta konteks dan hakikat eksistensinya. Jadi, takdir sebenarnya tidak banyak berhubungan dengan pencurahan semesta dari suatu tindakan kreatif (kun, jadilah), tetapi lebih banyak berkaitan dengan jatah atau takaran atau ukuran (qadar) bagi wujud-wujud ciptaan secara individu dalam batas-batas eksistensi mereka (sesuai potensi dan sunnatullah masing-masing), yang kemudian melihat dan secara individual menegaskan tindakan kreatifnya masing-masing, sesuai dengan pemahaman dan potensinya masing-masing (fayakuun, menjadilah ia). Jadi seseorang menjadi beriman atau pun tidak sebenarnya merupakan proses bagaiman takdirnya kelak akan terjadi. Selama ia masih berada di titik antara kelahiran dan kematian, atau dalam bentang kehidupannya, takdirnya belum berakhir. Takdir yang berjalan inilah yang kemudian sering kita sebut sebagai nasib sesuai dengan kehendak bebas individu tapi masih dalam pengarahan Allah sebagai Rabbul Aalamin atas apa yang kelak akan menjadi kehidupannya. Misalnya, orang menjadi pelaku LGBT dan enggan berubah sebenarnya bukan takdir, tapi masih dalam koridor nasib yang ia tentukan sendiri sebagai suatu preferensi kebiasaan seksualnya. Jadi, selama hidup dirinya sebagai manusia sebenarnya terjajah di dalam mindset atau hawa nafsu sendiri. Kalau sudah terbelenggu nafsu, Ia pun menjadi enggan untuk melakukan perubahan atas nasibnya sendiri bagaikan katak dalam tempurung (simak lagi QS 11:13). Upaya-upayanya untuk berubah seringkali gagal karena tidak ada niat yang kokoh untuk memerdekakan dirinya dari belenggu penjajahan nafsunya yang buruk. Padahal, sekiranya ia mau sadar dan bertobat kalau apa yang dilakukannya keliru, maka Rahmat Allah selalu terbuka untuk merangkul hamba-hamba-Nya kembali ke jalan lurus yang luas.

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

Dari perjalanan proses menjadi inilah, kita atau pengamat yang serius seperti ilmuwan atau filsuf akan mendapatkan kesan tentang kausalitas dan keselarasan alam semesta dengan hukum-hukumnya. Fisikawan kuantum David Bohm menyimpulkan kesan demikian dan dia menaksir adanya gelombang pengarah dalam setiap maujud ciptaan yang nampak mengikuti pola-pola yang merupakan fungsi dari “Inteligence Being” atau sebut saja dengan bahasa spiritual sebagai Allah-Rabbul ‘Aalamin (Allah, Pencipta, Pemelihara dan Pendidik semua makhluk ciptaanNya). Allah, yang Maha Hidup dan kekal untuk secara terus menerus menghidupkan dan mematikan makhluk, difirmankan-Nya dalam QS 3:1-2:

1. Alif laam miim.

2. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.

Allah sebagai pemilik al-Kursy yang memiliki Kemahagungan dan Kemahaindahan sebagai Rahmat yang dapat melawan MurkaNya (kiasan filosofisnya berhubungan dengan suatu pertanyaan filsafat “dapatkan Tuhan menciptakan sesuatu yang lebih besar dan lebih berat dari DiriNya?” Nabi Muhammad SAW hanya menjawab “Rahmat-Nya mendahului atau lebih besar dari Murka-Nya”) dimana dari setiap nasib buruk tersimpan juga sebenarnya nasib baik sebagai kesejajaran kejadian. Jadi apakah yang aktual itu nasib baik atau buruk sebagai suatu kepastian yang sudah terjadi atau takdir tergantung pemahaman seseorang, maupun sekelompok masyarakat dalam menanggapi penampilan Asma, Sifat dan Perbuatan Allah yang nyata melalui semua manifestasi-Nya dalam maujud kemakhlukan atau kehambaan. Artinya takdir yang terjadi pada seseorang, suatu kaum, atau suatu bangsa di satu Negara, pada akhirnya tergantung pada keselarasan antara hati, pikiran dan tindakan/perbuatan manusia atau masyarakat sendiri dengan Kehendak Tuhan sebagai Rabbul Aalamiin. Karena itu, QS 2:255 yang dikenal sebagai ayat “pengusir setan” sebenarnya berhubungan dengan setan dalam diri kita sendiri, hawa nafsu dan syahwat yang tak terkendali dan berpotensi untuk menghadirkan takdir buruk kepada kita maupun makhluk lainnya (akibat perbuatan atau perilaku kita yang buruk). Coba kita renungkan kembali ayat Al Kursy secara lebih mendalam dikaitkan dengan apa-apa yang kita lakukan dengan kedua pasang tangan kita yang mempunyai lima jemari kanan dan kiri.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Al-Kursy Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. (QS 2:255).

Dari Bab 8, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi, Rev 22/5/2017