Pabrik Tipu-tipu “Like” Di Media Sosial

Media sosial menciptakan cara bagaimana sebuah informasi dapat menyebar dengan cepat melalui fitur yang ditambahkan yaitu fitur “Like”. Fitur “like” yang diperkenalkan oleh Facebook ini akhirnya begitu popular dan menjadi salah satu parameter apakah sebuah pesan berhasil disebarkan kepada khalayak ramai. Namun, popularitasnya mengundang banyak pihak untuk melakukan manipulasi “Like” sehingga kemudian muncul istilah”Pabrik Like” dimana sekelompok orang melalukan penipuan tag “Like” dengan menggunakan puluhan hingga ratusan bahkan mungkin ribuan handphone dengan akun bodong dan ratusan ribu kartu telepon.

Click Farm

Baru-baru ini kasus pabrik “Like”  terungkap di China dan Thailand. Dulu, sewaktu saya aktif di Instagram, seorang teman dari Rusia menawarkan ribuan Like dengan bayaran tertentu. Saya tak tahu persis bagaimana caranya. Tapi pastilah manipulatif pikir saya.  Sebuah video yang beredar di internet belakangan ini memperlihatkan jawabannya.

Video tersebut direkam oleh seseorang dari Rusia yang mengunjungi tempat berjuluk “click farm” di China. Di sinilah “pabrik” tempat dibuatnya berbagai like, rating, atau ranking palsu untuk aneka aplikasi mobile dan posting di media sosial. Rekaman video memperlihatkan sebuah ruangan yang penuh berisi ponsel. Perangkat-perangkat tersebut disusun di rak-rak khusus dan tersambung ke kabel, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Daily Mail, Senin (22/5/2017).

Sekelompok orang duduk di depan komputer dan menjalankan ponsel secara otomatis untuk memberikan like palsu. Menurut laporan pembuat video, click farm di China itu mengoperasikan lebih dari 10.000 smartphone. Para penyedia jasa like palsu semacam ini banyak terdapat di wilayah Rusia dan China dengan pelanggan internasional.

Penggerebekan di Thailand

Laporan terbaru dilansir oleh The Verge dan dikutip Kompas Tekno (14/6/2017), dimana sebuah click farm terungkap di wilayah Thailand. Awalnya polisi menduga rumah sewaan yang berada di perbatasan Kamboja itu digunakan sekelompok orang untuk menjalankan bisnis call center palsu untuk praktik penipuan. Kepolisian dan tentara pun melakukan penggerebekan. Di rumah itu ditangkaplah tiga orang asal China, yakni Wang Dong, Niu Bang, dan Ni Wenjin. Setelah diinterogasi para tersangka itu kemudian mengaku bahwa mereka dibayar oleh sebuah perusahaan China untuk menjalankan akun bot di WeChat.

Akun bot tersebut dipakai untuk memproduksi ” Like” dan menaikkan engagement terkait berbagai produk yang dijual secara online di China.

Untuk menjalankan operasinya, ketiga pria tersebut diberi modal berupa 474 iPhone, yang terdiri dari seri 5S, 5C, dan 4S. Selain itu ada juga 347.200 kartu SIM milik operator telekomunikasi Thailand, 10 unit komputer, dan berbagai peralatan elektronik lain. Semua barang itu disita sebagai barang bukti.

Ketiga pria itu mendapatkan bayaran 150.000 baht atau sekitar Rp 58,7 juta per bulan untuk menjalankan tugasnya memproduksi engagement dan Like palsu di WeChat. Mereka memilih markas operasional di Thailand karena biaya telekomunikasi yang cenderung murah.

Saat ini, ketiga tersangka itu ditahan pihak berwenang Thailand dengan berbagai tuduhan, mulai dari tinggal melebihi batas waktu visa, bekerja tanpa izin, hingga soal pemakaian kartu SIM tak terdaftar.

Pantauan Drone Emprit

Para pengelola media sosial belakangan mengambil sikap lebih keras terhadap para pemberi like palsu. Instagram, misalnya, beberapa waktu lalu memaksa penutupan Instagress yang menawarkan komentar dan like otomatis dengan bot. Tawaran-tawaran melonjakkan Like memang  sering bermunculan di Instagram khususnya dari akun-akun Rusia dan Eropa Timur.

Selama pilkada DKI yang baru lalu, drone Emprit Ismail Fahmi yang memantau aktivitas SNA Twitter mengindikasikan ada akun robot yang meningkatkan rating sebuat pesan twitter. Hanya saja, tidak tahu persis apakah itu ulah click farm yang beroperasi di Indonesia atau bukan. Namun, patut dicurigai adanya sekelompok orang China yang ditangkap di sebuah kawasan Elit di beberapa kota besar di Indonesia terlibat juga dalam operasi semacam click farm ini.

Penelusuran Tim Khusus Tempo menguatkan temuan Ismail Fahmi, doktor sains informatika lulusan Universitas Groningen, Belanda, bahwa hoax atau berita palsu dan berita pelintiran benar-benar dirancang dan sengaja disebar. Motifnya, ada yang mendapat keuntungan bisnis dari iklan di Internet. Lewat media sosial mereka menggoreng isu mulai dari gosip tenaga kerja Cina hingga Jokowi digosipkan keturunan Tionghoa. Dan tidak tertutup juga kemungkinan dalam suatu pilkada di Indonesia atau bahkan pemilu banyak pihak yang memanfaatkan click farm atau yang semacamnya untuk menggoreng dukungan palsu. Makanya tidak heran kalau ada ironi demokrasi dimana “harapan” yang ditampilkan dengan popularitas dunia maya dapat berbeda jauh dengan “kenyataan” misalnya kok Donald Trump bisa menang melawan  Hillary Clinton dan kok bisa Ahok yang pengikutnya “nampak militan di medos” akhirnya keok dengan selisih nyaris 15 persen dari pasangan Anies-Sandi yang menyebabkan pendukung pentahana itu merana berkepanjangan.

Jadi, sehebat-hebatnya jumlah “Like”, jumlah “testimoni”, jumlah pengikut, maupun tingginya rating di dunia maya masih tetap hanya seperti gema di ruang kosong atau gema tong kosong yang nyaring bunyinya saja kalau kenyataannya malah berbeda.

Maka menjadi jujur itu lebih penting.

 

Dirangkum dari berbagai sumber oleh @tm