Oilfields Of Blood, Mereka Yang Mandi Darah Di Tanah Rohingya

Dalam buku Fields Of Blood , Karen Armstrong ingin menunjukkan bukti-bukti sejarah yang merentang hingga ribuan tahun silam bahwa kekerasan lebih banyak dimotivasi bukan oleh agama, tapi oleh motif ekonomi dan politik. Agama hanya dijadikan sebagai pembungkus dan stempel oleh kelompok tertentu demi meraup keuntungan material (sumber daya ekonomi) dan politik (kekuasaan) bagi kelompoknya dengan membangkitkan sentimen keagamaan. Dan itulah yang namapknya terbentang di depan mata saat ini ketika suku Rohingya mengalami genoside secara pasti sejak beberapa tahun yang lalu.

Tragedi kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya Burma tak pelak lagi merupakan konflik geopolitik. Khususnya  karena pertarungan kuasa dan kekuasaan yang tak seimbang di daerah Arakan-Rakhine, yang dihuni mayoritas etnis Rohingya. Dari data yang terungkap di banyak media, terjadi perebutan tanah dan sumber daya, khususnya minyak dan gas, di wilayah-wilayah tertentu.Siapa saja yang bermain di Oilfields of Blood Tanah Arakan itu? Berikut rinciannya.

Pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 193,6 juta kubik kaki per hari) dan pipa minyak (mulai beroperasi 1 Desember 2013 dengan kapasitas 400 ribu barrels per hari) dari Kyauk Phyu ke perbatasan China sepanjang 803 km. Dikelola oleh konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham :

  • 50,9 persen CNPC (China),
  • 25,04 persen Daewoo International (Korea),
  • 8,35 persen ONGC (India),
  • 7,37 persen MOGE (Myanmar),
  • 4,17 persen GAIL (India) dan
  • 4,17 persen investor-investor swasta lainnya;
Wilayah Rakhine di Maynmar – Wikipedia

Pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 105,6 juta kaki kubik per hari) dari Shwe ke Kyauk Phyu sepanjang 110 km. Dikelola konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham :

  • 51 persen Daewoo International (Korea),
  • 17 persen ONGC (India),
  • 15 persen MOGE (Myanmar),
  • 8,5 persen GAIL (India) dan
  • 8,5 KOGAS (Korea).

Blok-blok minyak dan gas di Semenanjung Rakhine, di mana Daewoo International (Korea), ONGC (India), MOGE (Myanmar), GAIL (India), KOGAS (Korea), Woodside Petroleum (Australia), CNPC (China), Shell (Belanda/Inggris), Petronas (Malaysia), MOECO (Jepang), Statoil (Norweigia), Ophir Energy (Inggris), Parami Energy (Myanmar), Chevron (Amerika Serikat), Royal Marine Engineering (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar), Total (Prancis), PTTEP (Thailand) dan Petronas Carigali (Malaysia) beroperasi dan berproduksi.

Daerah Semenanjung Rakhine dilaporkan memiliki cadangan terbukti sebesar 7,836 triliun kaki kubik gas dan 1,379 miliar barel minyak, yang beberapa blok di antaranya berproduksi sejak 2013, ditawarkan tahun ini sebagai temuan baru. Beberapa blok lain, jatuh tempo kontraknya tahun 2017 ini.

Terakhir, blok-blok minyak dan gas di daratan Arakan di mana North Petro-Chem Corp (China), Gold Petrol (Myanmar), Interra Resources (Singapura), Geopetrol (Prancis), Petronas Carigali (Malaysia), PetroleumBrunei (Brunei), IGE Ltd. (Inggris), EPI Holdings (Hongkong/China), Aye Myint Khaing (Mynmar), PTTEP (Thailand), MOECO (Jepang), Palang Sophon (Thailand), WIN Resources (Amerika Serikat), Bashneft (Russia), A1 Construction (Myanmar), Smart Technical Services (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar) dan ONGC (India) beroperasi dan berproduksi.

Di daerah terakhir itu, dilaporkan memiliki cadangan terbukti sebesar 1,744 triliun kaki kubik gas dan 1,569 miliar barel minyak, yang beberapa blok di antaranya jatuh tempo kontraknya pada tahun 2017 ini.

GP Ansor mempelajari konflik geopolitik yang sangat berdarah di daerah-daerah kaya sumber daya alam bukan fenomena khas Myanmar, dan bukan hanya menimpa etnis Rohingya, tapi juga terjadi di belahan bumi yang lain. Untuk menutupi operasi apropriasi kapital dan sumber daya, secara menjijikkan operator-operator di lapangan membungkusnya dengan konflik antar etnis, antar agama, antar kelompok masyarakat.

Proyek Pipa Gas Rakhine

Etnis Rohingya yang tinggal di daerah Arakan-Rakhine memang menjadi sasaran khusus dengan operasi terselubung (covered operation) apropriasi kapital dan sumber daya, yang secara biadab dan terencana menyasar praktik dan simbol agama serta membenturkan antar umat beragama.

“Termasuk di dalamnya dengan melakukan pembakaran Al Quran, pemerkosaan di masjid, mempersenjatai dan memprovokasi warga Rakhine untuk juga melakukan persekusi terhadap minoritas Rohingya,” ungkap Dr. Mahmud Syaltout, Wakil Sekjen Pimpinan Pusat GP Ansor.

sumber : Republika

Informasi lebih lanjut mengenai Potensi Rakhine Basin di Myanmar silahkan unduh laporan ini.