Munculnya Penyakit-penyakit Hati

Dalam proses menjauh dari keseimbangan optimum, di dalam diri manusia terjadi peperangan yang sengit. Bila nafsu amarah kemudian berkuasa penuh, manusia akan melakukan suatu tindakan yang melanggar atas apa yang sudah diperintahkan oleh Allah melalui para rasul, nabi dan wali. Bila hal ini terjadi maka manusia berpotensi besar untuk menyimpang dan tidak selaras dengan kehendak Allah. Waspadailah, karena itulah saatnya setan berkuasa menjajah diri manusia, menjadi budak hawa nafsunya.

Ketika setan berkuasa, ia membawa berbagai penyakit iblis. Maka hatipun dinodai dengan virus-virus satanik yang mulai tumbuh subur didalamnya: kedengkian, kebencian, kemaksiatan, kebohongan, kemalasan, ketamakan, ketakutan terhadap kemiskinan, dan berbagai penyakit hati lainnya yang akan menutupi hati manusia. Sebagai contoh, penyakit KKN merupakan salah satu manifestasi dari penyakit-penyakit Iblis yang mewujud dalam bentuk tindakan manusia baik secara sendirian maupun kolektif. Untuk Indonesia, agaknya KKN merupakan penyakit yang sangat kronis yang menyebabkan rusaknya tatanan sosial dan nilai-nilai moral masyarakat dari bawah sampai keatas, yang menyebabkan Bangsa Indonesia menjadi pecundang di negeri sendiri, yang menyebabkan kemerosotan akhlak dimana-mana. Kesatupaduan maujud pun rontok. Realitas relatif yang dipahami pun menjadi seperti rumah-miring berhantu di taman hiburan yang compang-camping.

Pada kondisi labil, manusia dapat melakukan dua tindakan yang merugikan diri sendiri.

Pertama, manusia tidak mau untuk memilih tindakan yang benar tapi lebih cenderung memilih yang batil. Dalam pengertian yang lebih spesifik lebih condong mengikuti kesenangan hawa nafsunya. Tidak mau untuk memilih menunjukkan adanya penentangan dan ketidakharmonisan dengan perintah-perintah dan kehendak Allah. Persis seperti kondisi Iblis ketika membangkang perintah Allah karena terilusi kesucian dirinya sebagai makhluk yang beribadah ribuan tahun sebelum Adam diciptakan, yang akhirnya tergoda untuk menjadi sombong dan dengki.

Bagi manusia, selain menunjukkan kesombongan Iblis hal ini juga berarti mengabaikan pemberian akal yang dimaksudkan sebagai kendali, untuk memilah dan memilih tindakan yang sesuai dengan perintah Allah. Padahal seseorang mungkin tahu bahwa pilihannya itu tidak sesuai dengan nilai-nilai agama maupun hukum-hukum positif yang dia tahu. Namun, karena penyakit Iblis sudah bersemayam maka kesombongan, nafsu tamak, takut miskin dan lain sebagainya lebih menguasai sehingga seseorang kemudian melakukan korupsi, manipulasi, penipuan, pendusta, tukang fitnah, suka mengambil jalan pintas yang melanggar hukum, tidak berpikir mendalam, menjadi pelaku LGBT dan tindakan-tindakan tercela lainnya. Hal ini merupakan contoh nyata dimana manusia tidak lagi selaras dengan semua aturan main yang sudah ditentukan Allah. Akibatnya, kondisi ruhani dan kejiwaan orang tersebut semakin melenceng saja dari posisi keseimbangan. Bisa jadi, dampak dari penentangannya ini berpengaruh di dalam keluarga dan orang-orang sekitarnya (teman-temannya). Hubungan suami istri menjadi kurang harmonis, anak terlibat narkoba, terkena penyakit yang parah, terpapar HIV/AIDS, berfoya-foya, bermabuk-mabukan, dan lain-lain kesengsaraan yang pada hakikatnya akibat perbuatan menentang kehendak Allah. Dalam banyak hal, akan nampak gejala fisik akibat masalah psikis (mental spiritual) manusia yang terganggu keseimbangannya yaitu munculnya berbagai penyakit mulai dari penyakit mag, koresterol, darah tinggi, kanker dll. akibat ketidakseimbangan gaya hidup atau pola hidup yang tidak optimal di posisi keseimbangan.

Kedua, bisa jadi manusia tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang batil. Ini bisa terjadi kalau seseorang semenjak kecil tidak pernah diajarkan untuk mengenal nilai-nilai agama dan moral dengan benar. Bila hal ini terjadi maka manusia cenderung akan membolehkan apa saja. Kebebasan seksual, aborsi, homoseksualitas, lesbianisme, kegemaran untuk mengikuti gaya hidup hedonis, tidak peduli, tidak tahu malu, suka memamerkan aurat, berbohong, menipu, dan berbagai karakter jahiliyah lainnya yang sebenarnya menurunkan harkat kemanusiaannya sendiri ke tingkat yang sangat rendah menjadi penganut binatangisme (QS 95:5). Manusia yang seperti ini biasanya lebih mengandalkan jiwa hewaninya semata dalam melakukan tindakan. Padahal mereka telah dikaruniai akal dan kehendak bebas yang kelak harus dipertanggung jawabkannya.

Kedua kondisi labil ini biasanya disertai dengan penyakit-penyakit Iblis lainnya seperti suka pamer, riya, munafik, suka bergunjing (gosip), tidak berpendirian, dan lain sebagainya. Dampak terburuk bila seseorang sedang menjauhi posisi keseimbangan optimumnya adalah munculnya syirik dan ateis. Syirik adalah menyekutukan Tuhan, sedangkan ateis tidak mengakui adanya Tuhan. Keduanya bisa dikategorikan sebagai dosa besar bahkan kafir atau tertutupi dari kebenaran yang terang. Pada posisi demikian, manusia bisa dikatakan terpenjara di dalam kegelapan. Akalnya akan menjadi rantai jiwanya, nafsunya akan menjadi benteng akalnya, matahatinya akan buta sehingga tidak mampu lagi melihat kebenaran sejati. Dirinya seperti katak yang terpenjara di dalam tempurung ruang-waktu sebagai Bani Israil (Israil dalam arti sebagai manusia secara umum yang terjebak dalam ruang-waktu), terbelenggu oleh akal dan terpenjara oleh nafsunya. Nerakapun seolah tercipta dengan sendirinya akibat perbuatannya. Dalam arti fisikal, kesesatannya akan menjadi pemicu dari munculnya “neraka” secara mandiri akibat medan energinya dipenuhi oleh timbunan energi negatif dari kesesatan akhlak dan perilakunya. Oleh Allah SWT, manusia yang demikian digambarkan dalam firman :

Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutup; dan bagi mereka azab yang berat.(QS Al-Baqarah[2]:7)

 

Dari Bab 19, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi , rev 9/6/2017