Kedewasaan Beragama Dengan Takwa

Modal Jihad Al Akbar Untuk Memenangkan Inner Game Pribadi Muslim

Kondisi ruhaniah manusia setiap saat selalu berubah-ubah. Keimanan manusia juga ikut naik turun bagai gelombang. Supaya kondisi spiritual manusia tetap ajek, dan bisa selaras dengan kehendak Allah, maka manusia harus mampu mengendalikan interaksi yang terjadi di dalam dirinya, dengan Tuhannya, maupun interaksi dengan makhluk lain (eksternal). Hal ini penting disadari, mengingat kita memiliki panca indra yang secara langsung merupakan tentara-tentara hati. Selain itu, bagian-bagian tubuh manusia lainnya dapat menjadi jalur masuk dan eksekutor akibat interaksi manusia dengan lingkungannya.

Panca indra dan bagian-bagian tubuh ini harus dijaga agar tidak diserobot oleh was-was, bisikan-bisikan iblis dan setan yang membangkitkan nafsu kejahatan (simak QS 114). Bila bisikan-bisikan setan mengendalikan tentara-tentara hati, maka panca indra dan dan bagian-bagian tubuh lainnya akan diarahkan untuk melakukan kemaksiatan, kejahatan dan perilaku tercela lainnya sehingga kalbu pun menghitam, tertabiri, matahati membuta dan akhirnya akal pikiran pun akan menjadi sumber kejahatan. Untuk itu, diperlukan suatu upaya yang konsisten dalam memerangi dan mengendalikan unsur-unsur negatif yang timbul akibat semua interaksi yang terjadi pada manusia. Upaya inilah yang diinformasikan oleh Nabi Muhammad SAW seusai perang Badar sebagai “Jihad al-Akbar untuk melawan nafsu diri sendiri”.

Jihad Al Akbar ternyata melawan nafsu diri sendiri! Untuk bisa melawan diri sendiri maka kita perlu mengenali diri sendiri. Persis seperti kita akan maju ke medan perang, atau kalau kita ingin memasarkan suatu produk, maka pengenalan medan yang akan dimasuki menjadi suatu syarat yang mutlak. Bahkan dalam suatu kajian non-agamis, pelatih tenis terkenal W. Timothy Gallwey  sering menyebutkan kalau lawan terberat seorang petenis justru berasal dari dalam diri sendiri. Hal ini populer di awal tahun tujuh puluhan, pengalaman Gallwey kemudian dibukukan dengan judul “The inner game of tennis”, bahkan penerapannya bukan saja sekedar di bidang olahraga tenis, tetapi juga merambah di dunia bisnis. Gallwey adalah lulusan Harvard University bidang Literatur Inggris, namun juga menjadi seorang kapten tim tenis kampus. Di kemudian hari, dia menjadi seorang pelatih tenis bagi tim tenis dari Esalen Institute. Di buku yang terbit tahun 1974 itu, dia berbicara tentang dua tantangan yang dihadapi seorang pemain tenis. Pertama adalah lawan mainnya, tentunya tantangannya adalah keahlian si lawan. Kedua adalah dirinya sendiri. Lawan yang dihadapi di lapangan perlu dipelajari kelebihan dan kelemahannya, lalu menyusun strategi bertanding supaya dia dikalahkan atau ditaklukkan. Tetapi, dirinya sendiri adalah faktor yang penting. Bila mental diri seorang pemain lemah dan gampang menyerah, dianggap hal itu bisa membawa kekalahan. Hal sebaliknya akan terjadi, bila mentalnya positif dan tangguh, kemenangan tak sulit untuk diraih. Jadi, dalam sebuah kejuaraan, kalah atau menangnya sang pemain tenis bergantung dari mental dari dalam diri sendiri si pemain. Karena bukunya mengandung aplikasi yang lebih luas untuk mencapai tujuan kekinian, beliau kemudian banyak dipanggil untuk berbicara di perusahaan untuk mengupas apa yang dimaksud  inner game di lingkungan bisnis.

Pengenalan diri ini akan menjadi langkah awal bagi manusia agar unsur-unsur internal yang berkecamuk seperti was-washilkonnas (simak QS 114), nafsu kejahatan, kebaikan, daya khayal, angan-angan, akal rasional dan kalbunya, serta unsur-unsur eksternal seperti godaan kemewahan, ingin cepat kaya, dan lain sebagainya, dapat dikenali dan dikendalikan dengan sebaik-baiknya.

Pengenalan diri sebelum memasuki suatu medan jihad memerlukan suatu sikap. Sikap tersebut adalah keteguhan untuk secara terus menerus menghadapi musuh yang akan dihadapi yaitu istikamah dan berserah diri.

Bisa dikatakan bahwa istikamah inilah yang akan menjadi landasan pengasah pedang-pedang Tauhid kita untuk melakukan Jihad-Al-Akbar melawan nafsu yang menguasai kita. Sedangkan berserah diri adalah sikap rida kita atas apa yang sudah kita upayakan sehingga dari berserah diri inilah sebenarnya akan muncul karakter-karakter yang diperlukan untuk melakukan perjuangan Jihad Al Akbar mencapai musyahadah penyaksian dan penyingkapan al-Haq.

Inilah kondisi-kondisi yang diperlukan untuk menembus batas-batas psikologis manusia sehingga ia mampu meruntuhkan keakuannya, untuk merobohkan batas-batas pemahaman akalnya dan menetapkan keimanan dengan ilmu yang derajatnya haqqul yakin.

 

Dari bab 4, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi, revisi terkini 13/5/2017