Menyingkirkan Was-was Dan Khawatir

Dalam surat terakhir al-Qur’an, yaitu surat ke-114 an-Naas secara lugas difirmankan kalau manusia itu sebenarnya mengidap penyakit yang hampir sama yaitu “was-wasilkhonnas” . Penyakit inilah yang menjadi sumber kekhawatiran dan menumbuhkan bisik-bisik dihati sampai akhirnya manusia lalai dan terjebak dalam lumpur dosa. Penyakit ini nampaknya penyakit keturunan Adam dan Hawa. Jadi semua manusia memilikinya dan sudah diketahui sejak zaman baheula seperti tersirat dalam QS 114 yang dinyatakan sebagai was-wasilkonnas tadi.

Hebatnya, penyakit ini nampaknya melekat di semua manusia baik manusia itu diam saja maupun lincah dan bergerak. Baik setelah berbuat salah maupun setelah berbuat baik. Misalnya, dalam beramal sedekah memberi uang atau sumbangan kita sering dihinggapi khawatir, “Wah itu nanti uang dikemanain ya…, mungkin buat ini..itu..ini..itu, dan seterusnya”.

Walhasil, amal yang mestinya menentramkan jusru malah membangkitkan was-was sampai akhirnya orang menunda amal, menunda kebaikan, melihat amal dengan melihat siapa yang meminta dan seterusnya. Kalau sudah begitu, jeratan setan pun masuk lehernya dan akhirnya manusia lalai dan tergelincir dalam pasungan tipu daya setan was-was dalam kalbunya yang semakin suka bolak-balik, pikirannya yang juga bolak-balik, dan perbuatanya yang juga bolak-balik.

Di zaman modern, para pakar psikologi juga ternyata menemukan bahwa was-was yang tidak lain adalah khawatir dan sejenisnya hampir dimiliki oleh semua manusia. Bahkan di zaman modern ini khawatir merupakan penyakit kejiwaan yang sudah kronis. Psikologi modern nampaknya, entah sadar atau tidak, menyimpulkan juga kalau was-was alias khawatir merupakan penyakit yang mengendap dalam pikiran dan jiwa semua manusia. Jadi, boleh saja dikatakan was-was termasuk jenis penyakit jiwa juga.

Secara psikologis dapat dikatakan bahwa “sering kali kita atau orang-orang di sekitar kita dipusingkan oleh hal-hal yang sebetulnya tidak terlalu besar. Kita bisa tiba-tiba merasa begitu tak berguna karena hal-hal yang remeh. Dan, yang lebih parah lagi adalah kadang hal-hal yang membuat kita merasa tak berguna adalah hal-hal yang hanya ada dalam kepala kita.”

Denis Waitley dalam bukunya Seeds Of Greatness (1983) (Diterjemahkan menjadi Benih-benih Kebesaran, penerbit Binarupa Aksara, 1994) memaparkan satu hasil penelitian yang mengejutkan.

 

·         60% kekhawatiran kita sebetulnya tidak mendasar. Ketakutan itu tidak pernah menjadi kenyataan.

·         20% kekeliruan kita terfokus pada masa lalu.

·         10% kekhawatiran kita disebabkan pada hal-hal sepele sehingga tidak menghasilkan perbedaan dalam hidup kita.

·         10% sisanya, hanya empat sampai lima persen ketakutan yang dianggap beralasan.

 

Statistik yang diungkapkan Denis ini sekaligus menunjukkan bahwa setiap waktu atau energi yang kita serahkan kepada kekhawatiran itu sama sekali sia-sia dan 95% tidak produktif. Bahkan, hal itu pula yang membuat kita enggan untuk melakukan sesuatu. Kita sibuk berkutat dengan kekhawatiran semu yang berputar di otak kita. Dan, tahukah kita bahwa sesuatu yang berputar dalam otak kita itu bisa menjadi suatu kenyataan manakala kita betul- betul meyakininya. Bahkan dalam beberapa kasus seringkali kita terjebak kedalam mindset yang keliru sehingga sulit untuk berubah. Contohnya, orang yang mempunyai preferensi seksual homoseks seolah-olah menganggap kalau perilakunya itu sudah takdir hidupnya. Padahal itu hanya mindset dirinya saja yang tertipu  dan terjajah oleh kebiasaan pemuasan syahwat dan nafsu menyimpang.

David J Schwartz dalam bukunya yang sangat laris dan fenomenal, The Magic Of Thinking Big, menuliskan bahwa tiga dari empat tempat tidur di rumah sakit diisi oleh mereka yang sebetulnya sehat. Mereka hanya khawatir tentang kesehatan mereka dan mereka merasa diri mereka sakit.

Akhirnya, mereka betul-betul sakit dan terbaring di rumah sakit. Kita lihat, begitu hebatnya perasaan khawatir hingga mampu membuat kita sakit dan terbaring di rumah sakit. Begitu hebatnya perasaan khawatir hingga mampu membuat hidup kita menjadi begitu tidak produktif.

Untuk mengatasi was-was memang tidak mudah. Perlu latihan kontinu untuk bisa mengatasi was-was di hati atau khawatir yang berlebihan. Saya biasanya setelah menyelesaikan berbagai urusan mencoba mengatasi was-was berhasil tidaknya urusan saya dengan pasrah saja. Untungnya, sebagai Muslim saya memang mempunyai waktu yang khusus untuk menyerahkan semua urusan itu di waktu salat. Apakah urusan itu berhasil atau gagal saya selalu berupaya untuk melihat dua kemungkinan itu dalam koridor kepasrahan “terserah Allah saja”. Dan sehabis salat saya biasanya beristigfar, shalawat dan berdoa semau hajat saya, habis itu kalau sempat melakukan rutinan dengan rumus zikir 4×33.

Alhamdulillah, setelah bertahun-tahun, dan tentunya dengan konsisten memahami berbagai kenyataan hidup, tingkat kekhawatiran yang sering muncul setelah melakukan suatu urusan dapat diredam. Bahkan sampai akhirnya saya melihat berbagai masalah yang muncul dan dihadapi tidak terlalu didikte oleh rasa was-was itu. Tidak mudah memang karena kuncinya adalah mencoba memahami kehidupan saja dengan rasa berserah diri, sadar, dan tentunya dengan berbagai perniknya yang lebih terkendali, baik itu disebut orang kecemasan/takut dan harapan, kegagalan maupun keberhasilan dan berbagai karakter kejiwaan lainnya yang sering membolak-balik hati, pikiran maupun tindakan kita setiap saat.

Mungkin itu sikap terbaik sampai saat ini yang selalu harus dipertahankan dengan mawas diri dan waspada, setidaknya dalam tingkat ketenangan yang wajar bukan ketenangan kaya robot tanpa akal pikiran dan tak berjiwa ataupun diam seperti berhala.

Jadi, hilangkanlah was-was, khawatir, dan apapun yang membuatmu gelisah , yang membuatmu berburuk sangka, ataupun dampak negatif lainnya. Insya Allah, mengurangi was-was ini dapat meningkatkan produktifitas dan kualitas kita dalam kehidupan. Khususnya kualitas spiritual kita sebagai hamba Allah.

Dari Bab 21, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi, rev 9/6/2017