Menyikapi Nasib Buruk Sebagai Takdir

Dul Gepuk lunglai dan pucat wajahnya belakangan ini. Ia lebih suka sembunyi di kamar istimewanya. Caleg salah satu partai ini mendadak dangdut jiwanya. Bukan karena deg-deg plas karena senang. Justru ia deg deg plas, jantungnya makin kencang degupnya, setiap kali hitungan quick count tampil di tv dan parpol usungannya nyungsep peringkatnya.

Konon menurut sementara pengamat, hitungan quick count itu sudah jadi bayangan hasil pemilu sebenarnya. Maunya Dul Gepuk menimpuk saja komentator itu. Bikin hatinya mendadak makin deg-degan tidak karuan. Itu di hari pertama. Hari kedua ia tak sanggup melihat berita tv tentang pemilu. Hari ketiga kepalanya pening. Hari ke empat ia hanya bisa bengong saja. Hari kelima, bininya membawanya ke rumah sakit yang memang sudah menyediakan tempat eksklusif bagi penderita setress dadakan gara-gara pemilu.

 

Dul Gepuk yang saudagar sukses dan merasa pantas jadi wakil rakyatpun untuk sementara ini menjadi sumber berita di rw-nya yang dikira mendukung dirinya jadi caleg. Nyatanya cuma 2 orang yang milih dia. Ha, pasti ia sendiri dan bininya. Bahkan anak sendiri pun tak memilihnya. Apa kata dunia pikirnya. Dan di sanatorium “apa kata dunia” pun sering sadar dan tak sadar selalu diucapkannya sambil tetap bengong memikirkan amblasnya uang ratusan juga untuk kampanye caleg. Jiwanya guncang, seolah keberhasilannya sebagai saudagar bangunan selama lima tahun terakhir dan jurus bisnisnya yang biasanya ampuh sudah lenyap keampuhannya.

 

Saya tentu saja berandai-andai saja menggambarkan kondisi para caleg yang kalah dan jiwanya goncang. Ilustrasi diatas merupakan fenomena nyata di Republik ini setelah hingar bingarnya kampanye pemilu menjadikan setiap jalan, lahan, pohon, dan tempat publik dipenuhi spanduk dan poster para caleg yang berharap rakyat memilihnya. Ada yang pengusaha, pedagang, bekas preman, bekas koruptor, pegawai negeri, guru, dosen, politikus beneran, politikus gadungan, dan entah apa lagi. Yang jelas umumnya mereka memang merasa mampu jadi caleg. Minimal punya modal kuat lah untuk berbagai keperluan jadi caleg. Namun apa mau dikata, rakyat yang ikut pemilu dan rakyat yang golput cuek saja dan memilih semaunya.

 

Dan terjadilah apa yang terjadi, ternyata banyak caleg yang tadinya sumringah, lantas kemudian menjadi sumringih. Jiwanya goncang, nasib buruk bagaikan kabut gelap kehidupan yang mulai menyelimuti. Maka, seperti di duga sejak sebulan sebelum pemilu, banyak caleg yang akhirnya kapiran lantas se-tress. Baik stress karena tak biasa disebut kalah maupun stress mikirin yang lainnya.

 

Kondisi yang dialami caleg-caleg yang stress sebenarnya hanya satu terminal saja bagaimana jiwa kita sebenarnya sering mengalami goncangan hebat karena apa yang kita harapkan dengan susah payah ternyata gagal. Kalau kebetulan sekarang menjadi fenomena aneh tapi nyata mungkin karena sifatnya yang masal hampir bersamaan di berbagai tempat. Ini memang nampak mirip kesurupan masal yang sering menimpa anak-anak SMU kita. Cuma kesurupan biasanya tidak jelas sebabnya. Tapi fenomena caleg atau capres-cawapres gagal yang stress dan masuk panti pembenahan jiwa jelas sumbernya, yaitu gagalnya egosentrisme seseorang ketika berbenturan dengan kenyataan yang ternyata selama ini berbeda dengan harapannya. Orang yang condong berpikiran dalam kontek keruhanian kemudian menyebutnya sebagai nasib buruk. Bagaimana menyikapi nasib buruk? Atau sesuatu yang melenceng dari harapan kita?

 

Untuk menyikapi nasib yang sudah terjadi sebagai suatu takdir diperlukan keridhaan. Keridaan ini memang susah juga untuk dinilai, namun rida berkaitan dengan menetapnya hasil dari pelatihan keadaan ruhaniah manusia. Dengan keridaan, respon atas nasib sebagai takdir yang menimpa dapat dikendalikan dan dapat dijadikan sebagai suatu umpan balik yang lebih positif.

 

Allah SWT berfirman tentang takdir pada seseorang maupun sebagai suatu kaum dikaitkan dengan Diri-Nya yang Maha Baik maupun diri kita yang lalai dan lemah. Perbandingan itu tidak lebih dari pembelajaran untuk menetapnya Rida Ilahi di dalam sanubari kita sendiri sebagai hamba-Nya yang ditetapkan menerima keadaan tersebut.

 

Dalam surat Ar Ra’d ayat 11 (QS 13:11) difirmankan-Nya :

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Karena itu, dalam pandangan keruhanian yang lebih halus, apabila manusia ditimpa nasib buruk, musibah, ataupun sesuatu yang berada di luar harapan kita, maka kita sebagai manusia harus dapat melihat kedalam diri dulu sebelum melemparkannya ke sebab-sebab lain. Kemampuan untuk melihat kemudian mengubah diri sendiri dalam konteks apapun juga, baik itu musibah maupun bukan, merupakan bagian dari pembelajaran Ilahi untuk menetapnya sikap rida, ikhlas, sabar dan tawakal, tidak menggerutu, atau sikap putus asa lainnya sampai-sampai mengangkat tangan memohon kepada Allah agar Dia mengangkat musibah tersebut, karena Allah lebih tahu dirinya, dan Dia tidak perlu diperingatkan.

 

Jadi, dalam menyikapi suatu nasib yang buruk sebagai takdir yang berjalan, baik yang menimpa pribadi maupun masyarakat, sebenarnya yang dituntut adalah sikap mawas diri dengan mengelola nafsu kita supaya lebih rida, ikhlas, sabar dan tawakal. Mengoreksi diri sendiri apakah apa yang sudah dilakukan memang sudah selaras dengan Kehendak Allah atau malah sebenarnya semua musibah tersebut akibat dari kecondongan syahwat dan nafsu kita yang menjauhi keselarasan dengan kehendak Allah, atau ruang dan waktunya tidak tepat, atau dampak dari segala perbuatan kita sendiri selama ini karena telah membiarkan terjadinya suatu kejahatan dan memelihara kebodohan yang terjadi di masyarakat. Dengan kata lain, semua itu muncul karena lemahnya atau tidak adanya amar ma’ruh nahi munkar.

Dari Bab 11, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi