Mentalitas Gen Era Milenial

Ada hal kritis dalam sikap mental bangsa kita berdasarkan fakta-fakta yang sering terjadi. Hal ini berkaitan dengan kata-kata kunci berikut : Literasi, Apresiasi, Crab Mentality, Instan Achiever, Grit . 

Literasi

Sudah jamak diketahui dengan hasil riset maupun kenyataan yang ada , kemampuan literasi masyarakat Indonesia umumnya rendah. Umum disini berarti sudah jauh diatas 50 %. Dan ini terjadi di level bawah sampai atas, miskin sampai kaya, rakyat jelata sampai penguasa, lemah maupun berotot, tidak berpendidikan sampai yang punya seabrek titel dan gelar.

Apresiasi

Apresiasi rendah karena kurangnya wawasan, baik wawasan hidup maupun wawasan yang terkait literasi tadi. Jadi tidak heran kalau tingkat apresiasi masyarakat sangat rendah untuk hal-hal yang sifatnya pencapaian intelektual maupun kerja nyata. Anehnya, apresiasi level rendah , komentar negatif, risak, dan cemooh justru lebih dominan. Lihat saja statistik Twitter, sebagian besar cuitan maupun meme negatif di ranah maya itu datang dari Indonesia. Lihat saja hari ini, orang masih mempermasalahkan kata “pribumi” hanya karena melihat siapa yang bicara, asalkan dia musuh (yang tak jelas karena apa) atau bersebarangan dengan kepentingannya risakpun bertaburan dan dilakukan mulai dari kelompok iq200 sampai yang merasa sudah jadi intelektual kelas atas.

Crab Mentality

Crab mentality adalah suatu istilah yang menggambarkan suatu sifat buruk : bila tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya, maka tidak akan membiarkan seseorang pun mendapatkannya (“if I can’t have it, neither can you”). Istilah ini diambil dari kebiasaan dari sekumpulan kepiting di dalam baskom / wadah. Ketika seekor kepiting dari kumpulan itu berusaha keluar, maka kepiting-kepiting lain akan berusaha menarik masuk kembali. Tentu saja, mentalitas kepiting ini tidak lepas dari dua hal diatas, literasi dan apresiasi yang rendah, sehingga tidak bisa dengan ikhlas melihat orang lain maju.

Instant Achiever

Instant achiever disini ranahnya para penipu, pembohong, plagiator dll. Kasus remaja yang diunggah ungguh sebagai remaja berprestasi tapi akhirnya ketahuan kalau dia plagiat, kasus yang terjadi di PTN UNJ juga memprihatinkan karena plagiasi terjadi di dunia akademis dan birokrat, dan yang heboh baru-baru ini kebohongan publik tak tanggung-tanggung seorang mahasiswa doktoral luar negeri yang mengaku penemu, peneliti, periset handal dll. Ketika terungkap semua itu kebohongan masyarakat ilmuwan dan umum Indonesia terperangah begitu parahkah kita membiarkan kebohongan di muka publik? Instant Achiever juga mengindikasikan karakter koruptif yang menjangkiti bangsa kita. Suatu kebiasaan buruk yang nampak seperti mendarah daging dan menjadi mitos seolah sulit di berantas.

Dan semua itu kalau kita telisik tak lepas dari peran media masa era digital yang penuh ironi. Ketika komunikasi semakin mudah, cara untuk mengakses informasi semakin mudah, tapi niat untuk tabayun untuk memverifikasi fakta dan data malah semakin lemah. Sehingga media pun menjadi alat manipulasi yang ampuh. Jurnalis yang bodoh, malas, dan kurang telitipun dengan mudahnya membuat kabar bohong menggaung cepat di dunia maya, membuat orang terkagum-kagum sampai akhirnya ketika kebohongan terungkap membuat orang termehek-mehek karena sadar dengan bodoh dan mudah di tipu dengan kabar bohong prestasi palsu, kompetensi abal-abal, maupun rendahnya kejujuran.

Dan kabar bohong alias hoax alias fake news pun semakin menjadi di era yang mestinya cek fakta dan data menjadi mudah. Kitapun kebanjiran arus informasi yang, kalau kurang wawasan karena daya literasi dan apresiasi kita rendah, akan menjadi korban berita-berita bohong dari para pembohong yang melihat kesempatan betapa rentannya dunia saat ini. Info bohong saja jadi santapan pikiran dan jiwa. Dan bayangkan seberapa rusak sudah pikiran dan jiwa kita ketika kita lebih menyukai kabar bohong ketimbang kabar benar, meskipun tidak mengenakkan.

Akhir semua itu, sebagai suatu bangsa kita memang, umumnya , mempunyai apa yang disebut GRIT lemah dan kurang kuat.

Apa itu GRIT?

GRIT

Istilah GRIT diperkenalkan Angela Duckworth seorang psikolog Amerika mendefinisikannya sebagai Grit dalam psikologi adalah sifat positif dan non-kognitif berdasarkan gairah individu untuk meraih tujuan jangka panjang atau akhir tertentu, ditambah dengan motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan masing-masing. Grit adalah gabungan dari purpose, passion, dan perseverance atau TUJUAN, SEMANGAT dan KETEKUNAN (ISTIKAMAH).

Jadi, sebenarnya ini penjelasan yang lebih psikologis dan lebih terinci untuk apa yang sering kita dengan sebagai “cita-cita”. Orang tua kita dulu menyebutnya begitu, bertanya kepada kita “apa cita-citamu nak?”. Lantas kita jawab “jadi anu!”. Namun seringkali cita-cita itu hanya sekedar menyebutkannya saja tanpa menjelaskannya bagaimana supaya cita-cita anak tercapai. Untuk keluarga berpendidikan, mungkin saja ada petuah dan panduan untuk mencapai cita-cita hidup anaknya. Tapi ada juga yang berkembang secara alamiah dan akhirnya matang dengan sendirinya karena pendidikan dan pengalamannya.

Belakangan ini banyak pemimpin perusahaan, ataupun pemimpin negara yang menyingggung soal GRIT ini. Mungkin karena istilahnya keren dan seperti istilah milenial. Tapi banyak juga yang hanya sekadar mengutip. Ada juga yang menyadari kalau itulah yang sudah dilakukannya tanpa penjelasan ilmiah sebelumnya. Ini yang namanya, anggurnya sudah masak dan nikmat tanpa perlu penjelasan anggur itu minuman terbuat dari apa.

Menurut T.P. Rahmat, dalam suatu pidato di acara Indonesia Most Admired CEO 2017, adanya grit membuat orang akan konsisten, tahan uji, dan tidak mengenal lelah dalam mewujudkan misinya. Adanya grit membuat kita bangun paling pagi, pulang paling malam untuk memastikan eksesusi yang disiplin dan militan. Grit yang membedakan Anda semua dengan ordinary leaders.

@tmo