Menjelang Idul Fitri

Ini puasa hari ke-24, jalanan menuju Jakarta mulai berkurang ramainya. Tidak dapat dikatakan sepi juga sih. Jelasnya, kemacetan yang sudah biasa dan lazim ditemui di hari kerja menuju Jakarta belakangan ini makin menyurut. Sebaliknya, arus lalu lintas ke luar kota Jakarta alias arus Mudik Lebaran makin hari nampak lah makin meningkat. Tentu saja, wong kurang dari seminggu lagi Hari Raya Idul Fitri kok.

Itulah suasana dan tradisi yang setiap tahun hanya dapat ditemui di Indonesia – mobilisasi massa Mudik Lebaran besar-besaran – dimana jutaan manusia dalam waktu singkat melakukan mobilisasi sendiri, atas niat sendiri, untuk kembali ke kota asal, kampong asal, tanah asal, atau apalah namanya yang bisa di sebut Kampung Halaman.

Bagi yang sudah tidak punya kampung, tidak jarang juga maksa dipunya-punyain biar berasa tetap punya kampung halaman. Orang betawi yang sudah tergusur ke pinggiran Jakarta pun tak luput pula melakukan acara mudik. Setidaknya mudik ke kampung asal yang mungkin sudah jadi apartemen, mall, showroom, lapangan bola, ataupun malah jadi kuburan. Sambil jalan kembali masuk ke dalam kota, melintas di kampung yang lama, dan berupaya lirak-lirik masih ada nggak sodare atau temen yang tersisa. Sebelum akhirnya mungkin hanya bisa sekedar nyekar ke kuburan ortu di Jakarta.Acara mudik orang betawi pun memang boasanya ya sebatas jalan2 kembali kedalam kota mengenang kejayaan masa lalu dan menyesali nasib masa kini yang mungkin dirasa apes.

Lebaran menjelang dan kita kembali ke kampung asal? Ah rada aneh juga kalau mau menghubungkan Hari Raya Idul Fitri yang artinya hari kemenangan dari nafsu dan menyucikan jiwa dihubungkan dengan Pulang Kampung. Kalau dipaksakan sih memang ada juga artinya. Tapi ini harus dipahami dengan manuver kata-kata, yaitu manuver dari kata-kata ruhani menjadi kata-kata literal lahiriah yang lebih nyata dilihat tapi seringkali dangkal artinya. Kecuali sekedar hura-hura dan pamer semata.

Idul Fitri sebagai hari kemenangan ruhani Umat Islam untuk menyucikan jiwa dengan menahan haus dan lapar maupun segala syahwat memang mempunyai tujuan yang erat kaitannya dengan pengertian kembali ke asal dengan takwa sebagai tujuan utama puasa Ramadan. Tapi yang dimaksud selain mencapai takwa adalah kembali ke asal muasal jiwa manusia yang fitri, jiwa yang pernah menjadi saksi ke-Esa-an Ilahi (Qs 7:172). Suci bersih dan tentunya tulus dan jujur guna menjalani kenyataan hidup dengan bekal takwa. Jadi, sudah ada kemiripan kan dengan “kembali ke asal” dalam pengertian “kembali ke kampung halaman”. Mungkin disinilah “kesamaannya” antara arti Idul Fitri sebagai Hari Raya Kemenangan Umat Islam melawan nafsu syahwatnya sendiri selama bulan Ramadan seperti yang diungkapkan hadis nabi yang sekarang malah dianggap palsu “Jihad besar adalah melawan nafsu diri”, dan pengertian “pulang kampung” suku-suku Bangsa Indonesia yang biasanya dilakukan pas akhir Ramadan. Jadi pulang kampung di bulan Ramadan sebenarnya tradisi lokal karena yang pulang kampung bukan saja orang mudik yang agamanya benar-benar Islam. Banyak yang non-muslim (dan Umat Islam tidak mau puasa pun) juga ikut pulang kampung, misalnya taoke-taoke China, orang yang beragama kristen, kejawen, bahkan yang ateis pun pulang kampong di waktu-waktu lebaran juga karena ikut dapat jatah libur lebaran. Yang jelas, pas musim pulang kampung atau mudik ini putaran uang rakyat dari kota ke desa demikian dahsyat. Saking dahsyatnya, tidak tanggung-tanggung banyak juga yang mensponsori acara pulang kampung ini. Sebut saja mulai dari pabrik jamu, obat kuat, sampai operator telepon seluler. Jadi bisa dilihat kan, sponsor yang berani tentu dengan harapan besar jika produknya makin dikenal masyarakat dan akhirnya kelak semakin laris manis tanjung kimpul, barang jualannya habis duitnya kumpul. Soal biaya mudik lebaran bersama yang besar itu digratiskan tak seberapa dibandingkan dari keuntungan trilyunan rupiah yang kelak akan diraupnya karena mereknya semakin dikenal dan disayang masyarakat muslim Indonesia karena mau jadi sponsor mudik lebaran.

Sayangnya, meskipun putaran uang demikian besar, bahkan gonjang ganjing masalah dunia pun lenyap senyap kalah dengan hiruk pikuk acara mudik lebaran, kalau diukur atas dasar capaian bulan Ramadan acara mudik ini justru mengundang kontradiksi. Karena disaat mudik itu pula kita melihat tanda-tanda “kegagalan menyikapi bulan Ramadan”. Bahkan, indikasi kegagalan ini tidak tanggung-tanggung melanda langsung kelompok maupun perorangan yang mengaku beragama Islam dan membela Islam pula. Jadi kalau pas bulan Ramadan banyak pemudik yang tidak puasa, atau membawa barang apa saja ke kampungnya, ya harap maklum saja. Tidak jarang juga di bulan Ramadan tiba-tiba muncul banyak anomali mulai dari jatuhnya korban zakat maut, pertengkaran massa berbau agama, pertengkaran di ruang sidang, dll.  Nah itulah sekelumit tanda kegagalan Masyarakat Indonesia ketika menyikapi Ramadan dan Idul Fitri yang tanpa malu-malu jadi kebiasaan yang dipertontonkan kepada semua orang.

Sebentar lagi lebaran, mudah-mudahan kita termasuk orang yang masih berada di koridor Umat Islam yang menyikapi Ramadan dan lebaran dengan benar, lurus, dan jujur sehingga barokahnya terasakan di waktu-waktu mendatang. Itulah berkah malam seribu bulan alias al-Qadr dimana nilai-nilai al-Quran jatuh kedalam hati yang diridai Allah dan menjadi cahaya sakinah yang menerangi perjalanan hidupnya kelak sebagai jiwa-jiwa yang tenang, yang kembali dengan rida-Nya.

Taqobbalallohu minaa wa minkum. shiyamana wa shiyamakum. mohon maaf lahir dan bathin. selamat idul fitri dimanapun Anda berada dan dalam keadaan apapun.

End, met liburan ya…jangan lupa oleh-oleh pulang kampungnya lho….

Eh jangan lupa, bagi yang mau mudik dan perjalanan jauh  berdoa dengan baca ini :

 

Mahasuci Allah yang telah menundukkan semua ini, kami selalu bersama-Nya, dan hanya kepada Rabb kamilah, kami dikembalikan.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau kebaikan, ketaqwaan, dan segala perbuatan yang Engkau ridhoi. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan berilah kami kemudahan melintasi jauhnya perjalanan ini.
Ya Allah, Engkaulah pemilik perjalanan, penjaga anak dan keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala bencana perjalanan, pandangan yang tidak menyenangkan, dan akibat yang buruk pada harta, keluarga dan anak-anak.

 

Wass, reblog artikel menjelang lebaran dari sini.