Mengendalikan Kuda Liar Nafsu

Selain peperangan di dalam diri, kita juga melakukan interaksi dengan makhluk Allah lainnya sesuai dengan prinsip keseimbangan yang telah ditetapkan-Nya. Dengan tanaman, binatang, manusia sekitarnya, jin, setan bahkan dengan malaikat-malaikat Allah yang ditugaskan menjaga setiap bagian dari makhluk-Nya. Mata melihat, tangan menyentuh, hidung mencium, kulit merasakan, dan telinga mendengar merupakan sensor-sensor bagi kita untuk merasakan hasil interaksinya dengan makhluk lain. Mata yang melihat kemolekan seringkali membangkitkan syahwat birahi, telinga yang mendengar gunjingan membangkitkan nafsu kemarahan, tangan yang menyentuh perhiasan membangkitkan ketamakan, hidung yang mencium kelezatan makanan membangkitkan kerakusan dan berbagai interaksi lainnya yang bisa berdampak merugikan bagi kondisi ruhaniah kita bila kita tidak dapat mengendalikannya.

Interaksi kita dengan makhluk lain yang patut kita waspadai adalah dengan makhluk sejenis iblis, setan dan jin. Tidak jarang, interaksi ini mengakibatkan penyesalan yang mendalam bagi kita sebagai manusia yang semestinya lebih mulia. Tidak sedikit diantaranya interaksi negatif yang dibiarkan mengakibatkan syirik yang dilaknat Allah karena menjadi budak makhluk lainnya (manusia), iblis, setan dan jin. Dari segi keimanan, kita harus percaya bahwa makhluk gaib itu ada, namun jangan sampai rasa “percaya” ini berkembang menjadi “mempercayai”, “mempercayakan”, atau menjadi suatu “kepercayaan”, karena yang muncul adalah syirik.

Nafsu ammarah , lawammah, mulhammmah dan muthmainnah saling berebut dominasi untuk dapat bersemayam didalam kalbu manusia, yang selanjutnya akan mempengaruhi keputusan-keputusan yang hendak diambilnya melalui akal dan ikhtiar-ikhtiar yang dilakukannya. Sepanjang sejarah Umat Islam, perjuangan untuk melawan nafsu yang membawa kepada kejahatan merupakan fokus perhatian pengolahan ruhani manusia. Hal ini memang sudah diingatkan oleh Nabi Muhammad SAW dimana didalam suatu hadisnya menamakan kalbu sebagai kunci kemasalatan dan kemafsadahan sekaligus. Tidak mengherankan kalau sesudah jaman Nabi, nafsu yang bersemayam didalam kalbu masih tetap menjadi fokus perhatian para ulama seperti Al Harit Al –Muhasibi yang terkenal dengan mahzab mawas dirinya, lalu Al-Gazhali, Abu Hasan As-Syadzily, Abdul Qadir al-Jilani, Ibn Athaillah As-Sakandari, Al Habib Alwi Al Haddad, dan ulama-ulama lainnya yang mengintegrasikan semua aspek peribadahan Islam (aqidah-syariat-tarekat-hakikat-makrifat) dalam mengelola nafsu manusia. Jadi yang dikelola sebenarnya adalah nafsu manusia sebagai objek utama seperti tersirat dalam QS 91. Demikian juga sampai saat ini, nafsu merupakan fokus utama dari pengolahan ruhani Umat Islam, sebagai pusat dari Kecerdasan Spiritual manusia yang sebenarnya.

Saat ini metode untuk melakukan perlawanan terhadap nafsu dan bisikan-bisikan setan dikenal sebagai “penyucian jiwa” (QS 91:9-10) dan ada pula yang menyebutnya dengan manajemen kalbu atau manajemen nafs. Keduanya sebenarnya merujuk pada tata cara yang sama yaitu berbagai upaya untuk mengenali sumber-sumber dari gerak-gerik nafsu untuk kemudian menaklukkan dan mengendalikannya sehingga tidak akan mencemarkan dan menunggangi kalbu manusia tempat dimana berbagai aktivitas ruhaniah dan jasmaniahnya bermuara.

Nafs atau nafsu dalam pandangan kaum sufi ibarat kuda liar di dalam diri manusia yang harus dikendalikan. Shah Syahidullah Faridi di dalam essaynya “Psikologi Spiritual Islam” yang dikutip oleh Kapten W.B. Rabbani mengilustrasikan (redaksional diubah):

 

Sebagai kuda liar, nafsu harus kita kendarai untuk menyelesaikan perjalanan kehidupan duniawi kita. Sebagai perbandingan atau ibarat, kuda adalah perbandingan yang tepat. Karena seekor hewan yang belum dijinakkan adalah kekuatan yang liar dan tidak terkontrol. Jika dibiarkan berkelana ke tempat-tempat yang ia sukai dan melakukan apa yang ia inginkan, maka akibatnya tak lain adalah pergolakan dan kehancuran. Jika si pengendara tidak dapat mengendalikannya, maka ia akan lari bersamanya jatuh keluar jalan yang membawanya ke tujuannya dan akhirnya melemparkan dia ke reruntuhannya yang terakhir. Tetapi jika si kuda bisa dijinakkan dan dengan hati-hati diajari untuk mengikuti perintah tuannya, maka ia akan menjadi kendaraan sehingga ia bisa sampai ke tujuan yang sebenarnya.

 

Jadi nafsu bila dibiarkan liar dan tidak terkendalikan akan membawa manusia ke rimba belantara hawa nafsu dan syahwat yang kotor, dimana ia tidak menemukan tempat istirahat dan berakhir dalam keadaan tertinggal dan rusak; sementara jika ia menerima pelajaran disiplin dan pelatihan yang panjang maka ia akan menjadi sahabat dan penolong manusia yang dipercaya untuk memenuhi takdirnya yang paling mulia, yaitu mengenal Tuhan dan bermanfaat untuk tujuan-tujuan-Nya.

 

Bab 18, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi, 5/6/2017