In Memoriam KH Abdul Djalil Mustaqim

Catatan pribadi ini sempat dipublikasikan di sufinews.com ketika Guru Mursyid pondok Peta Tulungagung KH Abdul Djalil Mustaqim wafat di tahun 2005, 13 hari setelah Aceh dilanda bencana besar Tsunami.

Pertemuan Pertama : Ridha dan Istiqomah

Syekh Luqman Hakiem

Suatu hari dikantorku aku diperkenalkan oleh Pak Luqman Hakiem yang menjadi redaktur majalah Sufi. Setelah berkenalan dengan Pak Luqman, aku pun menjadi ingin tahu kembali tentang dunia tasawuf saat ini. Nah Pak Luqman waktu itu menyebutkan kitab Al Hikam sebagai rujukan bahan kajian tasawufnya. Terus terang, walaupun aku  sudah banyak baca buku tasawuf, sampai saat itu aku belum tahu kalau ada buku yang dijadikan rujukan oleh banyak guru tasawuf. Dari penjelasan singkat itulah aku pun kemudian memburu buku Al Hikam di toko Buku. Mulanya kupikir buku Al Hikam ini sangat tebal. Ternyata cuma berupa buku tipis, cetakan lama (tahun 1984). Ada juga pensyarah yang menuliskannya lebih lengkap. Terjemahan dari syarah Mesir yang nampaknya cukup baik sebagai langkah awal mengenal Al Hikam.

Selain memburu buku Al Hikam, aku pun kemudian membuka lagi beberapa buku tasawufku yang sudah lama terbengkelai, salah satunya adalah buku “Jalan Ruhani : Panduan Tasawuf Untuk Para Aktivis“ karya Said Hawwa yang untungnya, entah kenapa tidak termasuk kedalam buku-buku ku yang kusumbangkan ke anak-anak Salman dulu. Baru aku memahami kembali bahwa selama ini buku Said Hawwa banyak mengutip kitab Al Hikam sebagai bahan untuk merumuskan metode dakwah tasawuf untuk para aktivis. Dari situlah kemudian rasa tertarik untuk mengkaji tasawuf dan mengikuti tarekatnya Pak Luqman muncul. Tarekat Sadziliyah namanya, suatu tarekat sufi dari Kawasan Maroko. Dan mulai dari situlah aku mulai mendengar tentang Pak Yai ini yang merupakan guru mursyid dari Pak Luqman.

Walhasil, setelah mengikuti beberapa sesi pengajian Pak Luqman tentang Al Hikam akupun jadi ikut juga mencari tahu tentang Pak Yai. Tidak banyak memang yang aku ketahui. Paling banter beberapa kawan memang pernah ketemu Pak Yai langsung di Tulungagung dan menceritakan kesan-kesannya. Beberapa teman pun dalam waktu dekat berencana untuk sowan ke Pak Yai seusai Lebaran. Aku ditawari juga, tapi berhubung lagi kere dan waktu yang tidak memungkinkan akupun tidak bisa ikutan ke Tulungagung.

Dari obrolan-obrolan pengajian itu juga aku tahu kalau Pak Yai suka juga bolak-balik ke Jakarta. Ada anak-anaknya disini katanya. sampai disitu akupun belum begitu ngebet dengan Pak Yai. Aku pikir memang belum waktunya berhubung amalanku masih jauh dari amalan sufi. Masih suka mengikuti godaan hawa nafsu dan terjengkang habis.

Aku cuma membayangkan barangkali Pak Yai yang dimaksud itu berperawakan seperti layaknya Pak Yai yang bersorban, berambut putih atau paling banter berjangkut putih penuh kewibawaan sebagai pemimpin umat. Mirip gambaran wali-wali jaman dululah. Ini barangkali karena banyak dipenuhi gambaran mengenai para kyai di TV atau film horor Indonesia yang suka sekali menampilkan sosok kyai dengan gambaran seperti wali, atau setidaknya kita terbiasa melihat gambaran bahwa para wali dan orang saleh itu ya seperti tampilan yang diinginkan film dan sinetron televisi.

Suatu hari, seusai pengajian ada khabar bahwa Pak Yai ada di Jakarta. Lantas koordinator pengajian pun bersepakat untuk menemui Pak Yai. Bersama dengan rombonganku ternyata beberapa rombongan pengajian Al-Hikam lain yang ada di Jakarta juga ikut sowan ke Pak Yai. Jadinya malam itu rumah tinggal anak Pak Yai di kawasan Cempaka Putih benar-benar ramai menjadi tempat sowan.

Cukup lama juga kami akhirnya menunggu Pak Yai di ruang yang sudah disiapkan. Aku duduk di ujung dalam garasi yang disulap menjadi ruang pertemuan bersama temanku yang rada semprul Pedro alias Odrep. Beberapa rombongan baru masuk sehingga garasi yang disulap jadi pertemuan itu menjadi penuh sesak oleh murid yang menunggu Pak Yai. Kebetulan tempat dudukku yang diujung pintu dalam garasi itu menjadi tempatnya yang lebih lowong alias untuk tempat duduk Pak Yai.

Pedro sendri sudah pindah kesebelah kiriku karena tempatnya akan digunakan sebagai tempat duduk Pak Yai. Aku dag dig dug juga belum pernah ketemu Pak Yai kok ya dapet kesempatan berdekatan dengan beliau. Sampai saat itu aku masih membayangkan Pak Yai pesis seperti stereotip yang ada di TV. Tak lama kemudian dengan ramah seorang laki-laki yang cukup berumur  masuk. Para tamu yang kebetulan dekat pintu serentak berdiri dan salaman sambil mencium tangan Pak Yai. Akupun berdiri di lutut berhubung kalau berdiri penuh aku bisa kelihatan nggak sopan dan mencium tangan Pak Yai yang wangi dengan hormat. Pak Yai memang bau wangi semerbak. Wanginyapun tidak menusuk namun menenangkan. Pak Yai sendiri kelihatannya rikuh juga. Ditempat yang sempit semua hadirin mulai pada berdiri  untuk menyalami beliau. Akhirnya beliau berinisiatip untuk menyalami tamunya dan meminta supaya tetap duduk sambil salaman.

Begitulah perkenalanku dengan Pak Yai berlangsung dengan suasana akrab dan nampaknya penuh kerinduan dari murid-muridnya. Pak Yai pun kemudian duduk, Pak Luqman wakil Pak Yai yang menjadi mursyid kami pun kelihatan duduk takzim disamping kanan beliau. Sementara di kiri beliau aku duduk malu-malu dengan blue jean belel dan t-shirt setengah lusuh karena seharian kupakai ngantor. Dengan ramah juga Pak Yai mempersilahkan tamu dan muridnya untuk mengabil kue dan minuman yang memang sudah disediakan oleh tuan rumah. Karena lapar, akupun main comot saja mengunyah kue dan minuman yang ada di depan mata. Baru belakangan kutahu kalau menjamu tamu ini merupakan hobi Pak Yai.

Kesan karismatis melingkupi ruang pertemuan yang dijejalali para murid. Pak Yai kelihatan mahfum kalau sebagian murid takut-takut dan malu-malu kepada beliau. Termasuk aku yang duduk disamping beliau malu-malu juga. Tidak ada kesan formal dalam pertemuan itu. Pak Yai pun nampaknya biasa meledek para tamunya yang seperti para tikus di depan kucing.

Pertama-tama beliau berbasa basi menanyakan khabar pengajian di Jakarta yang dibimbing Pak Luqman. Pak Luqmanpun menjelaskan pengajian yang ada saat ini di Jakarta. Ada beberapa lokasi pengajian sebenarnya. Pengajianku lokasinya di Fatmawati Mal , ada yang di Kebon Nanas, Depok, dan beberapa tempat lainnya di Jakarta. Yang hadir di kesempatan ini memang dari beberapa pengajian itu tapi tidak begitu banyak sebenarnya, paling banter 40 -an orang.

Setelah sejenak berbasa-basi, tanpa terasa Pak Yai mulai masuk ke wejangan-wejangan beliau. Sepintas sebenarnya wejangan beliau biasa saja. Yang menarik Pak Yai tidak sungkan-sungkan menceritakan apa adanya tentang dirinya. Ternyata beliau pernah di Jakarta di awal tahun 60-an. Dan sejak muda, nampaknya beliau menjalani hidup penuh tirakat dan karomah. Soalnya beliau juga bercerita kalau sering dipanggil untuk menyembuhkan orang sakit, diskusi dengan habib-habib Kwitang yang nampaknya menghormati beliau.

Tak lupa juga beliau ceritakan tentang upaya tirakatnya seperti puasa mutih, puasa 41 hari dan melakukan tirakat di lokasi tertentu. Pak Yai memang blak-blakkan dalam berbicara. Malah cenderung menurut aku ceplas – ceplos apa adanya. Bukan saja dalam soal-soal keseharian, namun dalam soal-soal yang gaib pun ia termasuk blak-blakan. Ia bercerita misalnya bagaimana beberapa temannya seperti melihat dia di beberapa tempat dalam waktu yang sama. Atau malah ketemu di Mekah melaksanakan ibadah haji padahal ia nggak kemana-mana cuma kontemplasi di rumah.

Selain cerita ngalor-ngidul diselingi petuah, Pak Yai ini termasuk pandai bercerita lucu juga. Ada beberapa cerita menarik yang ia ceritakan seperti ada salah satu muridnya yang diberi “alamat” bisa mengetahui kapan orang meninggal. Misalnya suatu hari si murid bermimpi kalau tetangganya akan meninggal. Berhubung ia tahu, maka ia kemudian menceritakan mimpinya itu ke teman yang bersangkutan. Walhasil temannya yang setengah tak percaya itu pun mengundangnya ke rumah di jam saat ia diperkirakan ia meninggal. Dan didalam perkiraan si muridpun tepat. Pada saat ia sowan kerumah temannya itu, beberapa detik kemudian si teman meninggal.

Karena alamat-alamat yang diterimanya itu, si murid bukannya menjadi bangga malah ketakutan. Ketakutan itu semakin menjadi kenyataan manakala ia bermimpi tentang waktu meninggalnya sendiri. Karena takut, ia datang kepada Pak Yai dan memberikan sebagian hartanya kepada beliau, sebagian lagi kepada istrinya. Istrinya sudah bersiap-siap untuk mempersiapkan kematian sang suami. Sementara itu Pak Yai tenang-tenang saja malah mengajak ngobrol si murid yang sudah bersiap menyambut kematiannya itu. Obrolan pun terjadi dan ngalor ngidul sampai waktu subuh tiba. Setelah shalat subuh, si murid tertidur sementara Pak Yai menutup semua jendela mushalla supaya tidak ada cahaya yang masuk. Walhasil sampai jam 9 siang si murid masih tertidur di dalam Musholla kemudian ia terbangun dan kaget mendapatkan dirinya masih segar bugar tanpa kekurangan suatu apapun. Hikmah apa yang diambil dari ini bahwa sebenarnya takdir itu tidak bisa dipastikan dan alamat yang diterima si murid itu tidak selalu benar.

Pak Yai pun kemudian bercerita kalau dia sebenarnya bukan apa-apa. Semua orang yang datang meminta pertolongan dia sebenarnya ia cuma mendoakan saja tanpa hal lain yang aneh. Yang membedakan adalah keridhaan kita pada saat berdoa yaitu keridhaan kepada Kehendak Allah SWT. “Ridha Allah” itulah kata kunci yang kutangkap setika aku berkenalan saat itu.

Setelah beberapa waktu bercengkerama ada beberapa isyarat lain yang bisa kutangkap yaitu “istiqamah”. Lagi-lagi, karena pengetahuan agamaku secara teknis belum memadai aku cuma bisa manggut-manggut saja  dengan satu pengertian dasar istiqamah yaitu ketekunan. Ya, pada saat itu pengertianku tentang istiqamah baru berhubungan dengan harfiah saja sebagai “ketekunan”. Namun, dalam uraiannya yang singkat Pak Yai sepertinya menekankan bahwa istiqamah sangat penting bagi para murid yang melalui jalan suluk yaitu konsisten dan ketekunan. Tak perlu terburu-buru atau bernafsu untuk menempuh jalan ruhani. Sebab, ketekunan atau istiqamah meskipun kelihatannya kecil dan sepele kalau dilaksanakan dengan konsisten ternyata merupakan suatu karomah tersendiri. Karomah dan keramatnya para wali, secara tidak langsung beliau mengisyaratkan.

Cukup banyak juga wejangan yang kami terima, khususnya saya saat itu yang baru pertama kali dengan beliau. Menjelang jam 23-an WIB petemuan dengan Pak Yai pun usai. Para tamu pun dipersilakan untuk membubarkan diri tanpa perlu salaman, maklum saja memang banyak sekali tamu yang hadir yang tentunya akan repot kalau disalami satu per satu.

Jadi, begitulah Pak Yai itu pikirku dalam hati. Memang orang tidak akan mengira kalau Pak Yai yang nama lengkapnya K.H. Abdul Djalil Mustaqim itu seorang mursyid tarekat sufi yang rendah hati. Beliau nampaknya tidak banyak mau dikenal orang meskipun banyak tokoh-tokoh nasional yang sowan padanya atau mohon doa restunya, bahkan tokoh sekaliber Gus Dur maupun Nurcholis Madjid. Beliau pun nampaknya tidak sekedar mursyid satu tarekat namun juga mempunyai wewenang untuk membaiat tarekat Qadiriyyah-Naqsabandiyyah yang pengikutnya sangat banyak di Indonesia.

Dalam perjalanan pulang aku semakin termenung, ada banyak yang terpikirkan yang banyak mempengaruhi jalan kehidupan di kemudian hari. Dua keywords penting yang kutangkap dalam pertemuan pertamaku singkat saja, suatu kalimat sederhana yang sering didengar namun seringkali pula diabaikan makna terdalamnya  “ridha” dan “istiqamah”.

Pertemuan Kedua : Ikhlas

Setelah beberapa bulan mengikuti pengajian al-Hikam, beberapa pengetahuan tasawuf semakin lama semakin terpahami dengan baik. Bukan saja mempengaruhi beberapa aspek kehidupanku yang sebenarnya tidak terlalu ekstrim dan jungkir balik. Namun, kajian kitab al-Hikam Ibnu Athaillah itu membuka wawasan-wawasan keruhanian yang sebenarnya sudah lama aku ketahui, pernah dialami, namun nampaknya tersumbat atau tidak tersalurkan dengan baik, nampaknya wawasan itu menemukan jalannya sendiri.

Sejauh ini, aku sendiri memang mempunyai kecenderungan otodidak dalam mempelajari sesuatu. Bukan saja mempelajari pengetahuan agama, namun dalam pengetahuan profesional pun aku lebih banyak belajar sendiri. Keahlian komputer muncul dari hobi, desain grafis juga muncul begitu saja seakan-akan membangkitkan hobi semasa SMP dulu mencoret-coret kanvas di ketrampilan  seni lukis, kemudian inipun menjadi suatu profesi, sementara keahlian akademikku yang berhubungan dengan rancang bangun pesawat terbang dan wahana antariksa sudah lama aku tinggalkan meskipun konsep mendasarnya sebagai pengetahuan “rancang bangun atau mendesain sesuatu” tetap melekat dalam profesiku sebagai konsultan TI khususnya Internet yang masih baru berkembang di Indonesia.

Sekolah bagiku memang sudah sekedar mempelajari proses saja. Proses menjadi pemecah masalah, sehingga seringkali aku tidak terikat pada substansi keilmuannya yang menurutku menjadi seperti kotak-kotak permen belaka. Dengan mempelajari proses, aku mempelajari suatu aturan main, rules of the game, suatu sunnatullah bagaimana itu terjadi, mengatasinya, dan menyodorkan alternatif-alternatif solusinya.

Boleh dibilang, meskipun aku banyak membaca buku, seringkali solusi yang kutawarkan tidak selalu mengikuti apa yang ada di buku. Walaupun prinsip dasarnya solusinya serupa, namun hasil akhirnya seringkali berbeda-beda. Aku seakan-akan memberikan suatu alternatif solusi sesuai dengan apa yang dimiliki pada lingkungan tersebut.

Mengikuti pengajian tasawuf khususnya mengkaji kitab al-Hikam memang membangkitkan gairah keruhanianku yang sudah lama terpendam. Setelah membolak-balik kitab al-Hikam , baru aku menyadari kalau penulis al-Hikam, Ibnu Athaillah as-Sakandari, seorang sufi yang memang piawai dalam olah ruhani. Kitab tasawuf rujukannya yang ringkas tersebut setelah dihayati dengan baik dan seksama sepertinya menceritakan kondisi ruhani semua orang, baik dalam periode jam, harian, mingguan, bulanan, tahunan, sampai satu periode kehidupan seseorang – dari lahir sampai kematian tiba.

Ini kitab yang luar biasa, pikirku. Singkat, namun tepat menggambarkan kondisi ruhani seseorang di setiap zaman. Jadi, kitab al-Hikam memang mempunyai suatu aspek keabadian dalam isi maupun formatnya yang kalau kugambarkan seperti grafik sinusoidal, suatu gelombang naik turunnya  siklus ruhani semua orang. Pantas saja kitab ini menjadi rujukan tasawuf dari hampir semua tarekat sufi.

Sesi-sesi ruhani yang kuikuti semakin membuahkan hasil, khususnya dalam pengolahan keruhanian diriku sendiri. Pengertian-pengertian fundamental jalan sufi pun semakin lama semakin terang benderang. Dari pengajian al-Hikam, akupun semakin berminat kembali mempelajari buku-buku tasawuf seperti risalah Qusyairiyah dan kitab al-Luma yang sangat teknis. Al Qur’an pun semakin sering ku bolak-balik kembali seolah sebuah kitab lama yang telah kutemukan kembali.

Beberapa bulan setelah pertemuan pertama dengan Pak Yai, berbagai aspek penting petuahnya semakin kusadari kebenarannya. Jalan ruhani itu sebenarnya sederhana, setiap orang mestinya bisa melaluinya, namun berat sekali mengimplementasikannya kalau saja kita tidak mengetahui aspek-aspek detil yang saling berhubungan antara satu sikap dengan sikap lainnya, adab dengan adab lainnya. Khususnya dalam pengelolaan nafsu atau manajemen kalbu dan penataaannya sebagai manusia atau umat yang beragama Islam.

Suatu hari, Pak Luqman berkata bahwa sekitar awal tahun 2004 akan ada acara pertemuan akbar di Tulungagung, sowan ke Pak Yai dalam rangka peringatan kematian ayahandanya. Akupun kemudian langsung ikut untuk sowan tanpa pikir panjang lagi. Dengan pimpinan regu Pak Liwa, rombongan pengajian kami pun berangkat terpisah. Ada yang naik bus, kereta api, dan pesawat. Aku dengan Pak Liwa memilih menggunakan kereta api dengan pertimbangan praktis saja. Di kereta ternyata beberapa murid pun ketemu.

Ramai juga pertemuan tahunan untuk memperingati wafatnya sesepuh Pak Yai atau sesepuh thariqat PETA Tulungagung. Kami menginap di hotel yang dekat dengan pesantren PETA (Pesulukan Thariqot Agung) yang ternyata ada di pusat kota Tulungagung. Beberapa grup pengajian juga sudah ada di hotel tersebut, kamipun bergabung disitu. Perayaan tersebut ternyata berskala nasional juga. Beberapa tamu undangan yang hadir adalah tokoh-tokoh nasional yang populer seperti Gus Dur dan Nurcholis Madjid, serta beberapa tokoh nasional lainnya. Ketika malam peringatan tiba, ternyata jamaah yang menghadiri begitu banyaknya sehingga rombongan kami cuma kebagian duduk-duduk di jalanan yang nampaknya sudah mahfum bakal kebanjiran tamu dari seluruh Indonesia. Tidak kurang dari 50 ribuan orang nampaknya hadir di perayaan tersebut kata Pak Luqman, yang kebagian mengisi acara membacakan silsilah tarekat Syadziliyyah.

Selama acara berlangsung, tahlilal dan wiridan berkumandang, kemudian dilanjutkan dengan beberapa ceramah dari tokoh-tokoh nasional, pembacaan silsilah dan entah apalagi. Yang jelas selama acara berlangsung aku dan Pak Liwa serta beberapa teman lainnya sempat bertanya-tanya juga, busyet dengan tamu sebegitu banyak berapa lama mempersiapkannya, bagaimana mengurus tamu yang membanjiri kota kecil Tulungagung, dan mengurusi konsumsinya. Diskusipun bergulir seputar manajemen acara. Menjelang tengah malam, konsumsi dibagikan oleh beberapa puluh panitia. Dengan nasi bungkus dan air, nampaknya semua tertib-tertib saja kebagian konsumsi. Sesuatu yang sebenarnya saat itu sangat susah ditemui di tanah air. Akupun teringat pembagian sedekah di Jakarta di salah saru rumah dermawan yang malah nampak meminta korban beberapa nyawa karena rebutan sedekah!

Ini sedikit aneh juga kataku. Pembagian konsumsi ribuan orang dengan tenang, barangkali memang yang hadir di acara itu sudah memiliki karakter ruhaniah yang tertentu dan lebih tertib dan tertata pikirku. Akupun tak lebih jauh lagi mengulas hal itu. Malam semakin larut mendekati tengah malam, sebagian jamaah memutuskan untuk kembali ke hotel yang tidak begitu jauh. Jadi, kami pun pulang sambil ngobrol ngalor ngidul dan mendengarkan ceramah yang masih jelas terdengar di hotel. Obrolan pun ternyata tidak jauh bergulir dengan banyaknya jumlah pengunjung yang hadir dan bagaimana mengelolanya dengan tertib.

Esoknya, kami pun bersiap-siap untuk sowan dengan Pak Yai yang semalam hajatan besar. Namun, nampaknya Pak Yai mungkin tidak bisa menemui rombongan Jakarta karena kelelahan kata Pak Luqman. Kamipun kemudian berangkat ke rumah Pak Yai dan berkumpul di mushalahnya. Setelah menziarahi Kyai sepuh dan doa bersama, aku kemudian berdoa secara personal untuk Kyai sepuh dengan al Fatihah. Pak Haji teman sekamar dan ngobrolku  kulihat berdoa juga.

Mbah Ghofur

Mbah Ghofur

Beberapa saat kemudian, kamipun berkumpul kembali di musholla dan menunggu Mbah Ghofur (kakak Pak Yai Mustaqim) yang akan mewakili Pak Yai. Mbah Ghofurpun kemudian menemui kami dan ngobrol ngalor ngidul. Pertama kali, Mbah Ghofur berbicara tentang Jin, yang intinya kita itu jangan bergaul dengan Jin katanya. Aku celingukan kepada jamaah, busyet pikirku, apa ada yang bawa jin. Setelah itu akupun lebih jauh mendengarkan petuah-petuah Mbah Ghofur.

Setelah kurang lebih setengah jam dengan Mbah Ghofur, tiba-tiba Pak Yai muncul. Mbah Ghofurpun kemudian undur diri dan Pak Yai meneruskan menemui jamaah yang bersuka cita karena Pak Yai bisa menemui kami. Padahal aku pikir semalam acaranya berat juga. Jadi paling banter Pak Yai masih beristirahat. Pak Luqman pun nampaknya terkejut juga kalau Pak Yai bisa menemui kami. Dalam hati sebenarnya aku mempunyai sesuatu yang ingin ditanyakan. Namun, nampaknya Pak Yai sudah mahfum atas apa yang akan aku ditanyakan. Entah kenapa, tiba-tiba saja Pak Yai langsung nyeletuk dengan topik “Manajemen Ikhlas”.

Aku lirik Pak Liwa yang ada disebelahku tersenyum malu-malu. Sebenarnya apa yang diungkapkan Pak Yai berhubungan dengan apa yang kami bicarakan semalam dan pagi harinya. Bagaimana mengelola acara yang besar dengan tertib semalam. Dan juga berhubungan dengan apa yang ingin aku tanyakan yaitu “bagaimana menjadi ikhlas”. Sekali dayung nampaknya dua tiga pulau terlampaui oleh Pak Yai. Bahkan boleh jadi sebagian yang ingin ditanyakan para jamaah pun sudah terjawab sekaligus. Aku melongo juga “lho kok tahu”.

Akhirnya aku lebih banyak diam saja mendengarkan apa yang diutarakan Pak Yai dengan Manajemen Ikhlas, dan khususnya tentang ikhlas itu sendiri. Cukup lama juga kami bercengkerama, beberapa jemaah nampaknya kena sentil juga dengan ceramah Pak Yai yang sebenarnya lebih tepat mengobrol bukan sekedar ceramah yang kita lihat di televisi. Setelah beberapa waktu, Pak Yai pun kemudian mengakhiri pertemuan dan ditutup dengan doa untuk keselamatan kami semua. Begitulah, bagi aku sendiri pertemuan yang singkat ini mempunyai makna yang lebih banyak arti lagi khususnya tentang pengertian “ikhlas”. Sore harinya kamipun kembali ke Jakarta.

Setelah pertemuan kedua dengan Pak Yai akupun lebih banyak berpikir tentang “ikhlas” dan beberapa keywords yang diungkapkan Pak Yai sebelumnya yaitu “istiqamah” dan “ridha”. Tanpa kusadari, nama Pak Yai pun nempel ketika topik tersebut bersinggungan dengan “Shiraathal Mustaqiim”, “Jalan Yang Lurus” atau  kalau menurut terjemahan M. Quraish Shihab dalam kitab tafsir al-Mishbah-Nya “Jalan Yang Luas atau Lebar”. Kiranya, topik-topik tersebut sepertinya suatu topik yang menjadi bagian dalam suatu langkah selanjutnya untuk memasuki jalan ruhani.

Beberapa minggu kemudian, musim hujan tiba. Seperti biasanya Jakarta pun banjir dimana-mana. Repot memang. Tapi, anehnya aku malah lebih memperhatikan fenomena banjir ini. Pertama karena memang mengganggu aktivitas kerja. Dalam menikmati banjir itulah secercah sinar berkelebat. Kok bisa begini ya? Cetusku dalam hati. Entah kenapa pemikiran banjir, Jakarta, dan fenomena alam lainpun sambung menyambung merangkai sendiri seperti sebuah untaian sejarah tentang kehidupan. Maka jadilah! Suatu hari yang dingin karena kebanjiran, sebuah draft awal yang menjadi risalah panjang mulai diketikkan. Judulnya ”Kun Fa Yakuun” dan hubungannya dengan sunnatullah, kehendak Allah sampai akhirnya kepada diri sendiri – akhlak dan perilaku. Lho kok bisa begitu? Aku sendiri kebingungan. Namun, hasrat sudah meletup menjadi semangat. Sejak itu, akupun menguraikan draft awal itu dengan lebih sistematis dan terperinci sebagai suatu risalah wawas diri (pembaca silahkan unduh beberapa bagian risalah Kun Fayakuun disini).

Pertemuan Ketiga : Baiat

Dalam penguraian draft risalah “Kun”, suatu kabar diterima bahwa sekitar bulan April atau Mei akan ada baiat di Tulungagung. Akupun lalu ikut serta untuk di baiat. Saat itu risalah Kun masih berupa risalah pendek sekitar  100 halaman yang menguraikan aspek-aspek dasar penciptaan dan hubungannya dengan tindakan dan perilaku manusia, serta kaitannya dengan berbagai peristiwa di Indonesia seperti bencana alam, kebobrokan moral, tampilan seronok di televisi dan yang lainnya. Benang merahnya sudah jelas, bahwa manusialah yang menjadi variabel dominan semua itu.

Menjelang waktu baiat, sekitar akhir April, saat itu aku sudah tidak bekerja di kantor. Kantorku ditutup karena merugi. Jadi, praktis sehari-hari aku lebih banyak membaca literatur dan mengkonsep ulang draft Kun Fa Yakuun. Aku bukannya malah puyeng tidak ada pekerjaan, malah tenang-tenang saja di rumah seolah-olah memang waktunya sudah tiba untuk melakukan wawas diri lebih intensif. Umurku menjelang memasuki kepala empat. Single Fighter. Dan tenang-tenang saja tidak risau ataupun bimbang. Malah, kehilangan pekerjaan pun masih tidak kuanggap hal yang besar.

Aku lebih banyak waktu di rumah dan berpikir, kontemplasi, dan tenggelam dalam medan tafakkur. Bulan April (kalau tidak salah kemudian diundur awal Mei) aku dan serombongan kecil bersama Pak Liwa yang sudah dibaiat pergi ke Tulungagung. Beberapa teman sudah jalan duluan sehingga ketika sampai disana musholla pondok PETA sudah ramai dengan orang yang berbaiat. Beberapa teman malah sudah dibaiat duluan karena sudah tiba terlebih dahulu. Aku yang berbekal seadanya pun kalang kabut mencari pinjaman kopiah untuk berbaiat, untung seorang panitia sudah menyiapkan.

Menjelang siang, rombonganku pun dibaiat. Sebelumnya Pak Yai menjelaskan tatacara dan prosedur baiat yang singkat dan jelas. Beberapa saat kemudian, rombongan wanita dulu di baiat, kami yang lelakipun menunggu di luar. Pembaiatan kamipun kemudian dilakukan oleh putra Pak Yai yaitu Gus Sholeh (Syekh Salhudin al-Ayyubi bin Mustaqim). Pak Yai nampaknya kecapaian dan sedang beristirahat. Prosedur baiat pun tidak rumit, hanya berjanji untuk mengikuti tarekat Syadziliyyah, berdoa bersama dan beberapa menit kemudian selesai.

Akupun lega, dalam arti setidaknya “ladangnya sudah siap dicangkul dan disuburkan”, kata Pak Liwa. Semua orang mempunyai modal yang sama, namun capaiannya mungkin berbeda tergantung bagaimana kita mengelola ladang itu. Ladang itu tidak lain adalah bumi hati kita, bumi hati yang harus kita siangi, kita olah, kita suburkan sehingga siap untuk ditaburi berbagai rupa biji tanam-tanaman. Terserah kita mau menanam apa saja. Apapun bisa ditanam asalkan tanaman yang bermanfaat, yang nanti menumbuhkan berbagai rupa buah dan biji-bijan, menumbuhkan berbagai ranting yang menjulur ke tempat tujuan, yang menjadi bekal, yang siap menerima kilatan cahaya dan hujan dari langit yang mencurahkan air pengetahuan kepada hati manusia. Dan petir serta hujanpun nampaknya siap-siap menjadi penyubur bumi hati yang dengan ikhlas menerimanya.

41 Hari Di Maqam Ikhlas

Awalnya sekelebat saja berbagai topik diuraikan. Namun, lama kelamaan topik kecil itupun nampaknya cuma sekedar puncak sebuah gunung es. Setelah didraft ulang dengan seksama, aku terkejut bahwa apa yang semula pemikiran sekilas menyangkut dengan proses penciptaan semua makhluk. Kemudian menjadi risalah perjalanan pencarian jati diri, kemudian menjadi risalah tasawuf wujudiah, lantas menjadi filsafat integralisme, kemudian menjadi penguraian atau syarah al-Hikam, lantas berubah menjadi teori-teori fisika dan metafisika, kemudian menjadi tafsir Basmalah dan al-Fatihah, dan terakhir menjadi penguraian al-Qur’an dalam numerik dan angka-angka, sampai akhirnya muncul abajadun – ilmu tentang huruf Abjad Arab dan nilai numeriknya atau gematria. Topik demi topik yang diulas malah bergulir kian kemari sampai akhirnya terpetakan sebagai suatu risalah wawas diri, risalah untuk memetakan jalan kembali kepada-Nya.

Kilatan cahaya petir itu nampaknya sudah menjadi hujan deras di bumi hatiku. Terus terang akupun sempat gelagapan. Setelah baiat, suatu kebiasaan yang sulit kulakukan nampaknya tiba-tiba saja ada mandiri di dalam diriku. Aku sholat tahajud dengan mudah. Benar, saya sendiri kebingungan kok bisa-bisanya menjadi penjaga malam. Padahal, terus terang saja, tidur pagi sudah biasa karena membuat program komputer. Tapi selama itu, melakukan shalat tahajud susah benar. Bahkan nyaris tak pernah kulakukan. Namun, setelah baiat itu, dan akupun diam saja dirumah tidak kemana-mana, setiap malam aku tahajud dengan enteng. Bukan dua atau empat rakaat, tetapi 11 rakaat penuh. Lho kok bisa? Akupun sempat heran juga. Lebih heran lagi, risalah pendekku demikian cepat berkembang berkelebat kesana kemari seperti mengungkapkan sesuatu. Curahan hujan tiba-tiba saja seperti turun dari langit membasahi dan membanjiri bumi hati ku. Akupun setengah takut juga sampai akhirnya kuuraikan ke Pak Luqman, katanya itu karomah Syadziliyyah yang membuat aku setengah gila. Busyet dah. Akupun tercenung dan membiarkan saja keadaan ruhaniku apa adanya. Mengalir seperti sungai waktu dan air menuju ke samudera. Beberapa hari kemudian Pak Luqman mengirimkan SMS, rupanya beliau sudah menceritakan keadaanku kepada Pak Yai. SMS itu singkat saja “Salam dari Pak Yai”.

Berminggu-minggu aku diam saja di rumah, sesekali aku pergi dengan keperluan pertemuan 2 mingguan al-Hikam. Setelah itu, ya kembali ke rumah bertafakkur. Entah kenapa aku sendiri tidak tahu bahwa selama itu pula tak ada telepon yang masuk ke handphone-ku selain aku sendiri yang menelpon ke rumah di Cirebon, atau telpon dari ibuku atau aku yang menelpon Pak Luqman, dan satu dua kawan lainnya. Selain itu, Blank. Tak ada kerjaan rutin. Aku kok menikmati suatu kebebasan dan dalam suatu lingkupan kerahasiaan dari makhluk lainnya kecuali memang yang penting-penting saja. Apakah ini yang disebut-sebut 40 hari itu? Aku bertanya-tanya dan kemudian malah berniat membuktikannya. Dan terbukti! Dengan suatu teori fisika yang sederhana, teori gelombang harmonis, umur 39 sampai 40 gelombang kehidupan seseorang dalam frekuensi ruhani tertentu memang mempunyai suatu lekukan, suatu ceruk dimana seseorang seolah-olah masuk dalam suatu gua. Suatu genggaman Allah.  Dan ini terjadi pada semua orang ketika ia saat itu mulai lebih wawas diri dalam usia menjelang akhir 30-an dan memasuki awal 40. Wah, ini dia rahasia angka 40 kataku. Dan angka 40 ini pula kemudian berbagai misteri penciptaan tersingkap didalamnya sebagai suatu ketentuan Ilahi.

41 hari lebih sedikit di genggaman ikhlas. Mungkin itulah yang tepat kugambarkan saat itu. Aku seperti manusia yang berada dalam genggaman Ilahi, dalam gua kontemplasi. Tak ada gangguan yang berarti saat itu kecuali yang dikehendaki-Nya. Selama 40 hari itu, memang kodisi ruhani memasuki suatu cerapan yang sangat sensitif. Bisa kukatakan saja sejuta citarasa. Bagaimana mengungkapkannya susah dijelaskan kecuali dengan menjalaninya langsung. Selama itu pula semua hubungan yang tak perlu nampaknya diputuskan oleh-Nya. Akupun menjadi seperti sendirian saja. Ketika saat-saat akhir masa itu aku berjalan keluar, duniapun sedikit nampak berbeda. Kok menjadi tidak ada artinya? Aku sedikit bergumam ketika naik angkutan kota sembarangan, dan keliling kota tanpa juntrungannya. Akupun bingung sendiri. Ketika beberapa literatur kubaca-baca, memang itulah yang terjadi saat itu. 40 hari atau mungkin 41 hari di suatu maqam ruhani yang membuat semua pandangan tentang kehidupan berbeda dan dijungkir balikkan. Selama itu pula risalahku sudah berkembang menjadi 600-an halaman! Risalah versi pertama pun kemudian kuterbitkan online dan gratis di Internet di awal Ramadhan 2004 , kepada penerbit yang semula akan menjadi penerbit buku “Kun” kubilang saja dibatalkan karena ada koreksi besar-besaran .

Berita Duka

Sore itu aku menerima kabar dari seorang teman bahwa ada orang tarekat yang meninggal, namun ketika kutanyakan temanku sediri belum jelas siap yang meninggal. Kata meninggal dan kematian waktu itu atau dua minggu ini sedang menghantui semua penduduk Indonesia.

On December 26th, 2004 a Tsunami devastated the city of Banda Aceh leaving many thousands of people dead and millions homeless. Photoshelter.com

Dua minggu sebelumnya gempa dan gelombang dahsyat mengguncang Serambi Mekah Aceh. 230 ribu orang dipastikan tewas di propinsi Nangroe Aceh Darussalam, puluhan ribu tak tahu rimbanya, ratusan ribu lainnya terhempas menjadi pengungsi kemanusiaan. Aceh, India, Srilangka, Thailand dan beberapa negara di kawasan Asia Tengah diguncang malapetaka berupa gelombang Tsunami, totalnya kurang lebih 300 ribu jiwa melayang dalam sekedipan mata. Saat itu aku pikir Allah SWT sedang menunjukkan Kemahakuasaan-Nya.

Iseng-iseng kuungkapkan ke temanku (Ismail), “Ada Wali yang mati kali, ye”, kataku hari itu (26 Desember 2004). Sebuah tulisan pendek kutulis sebagai ungkapan dukacita untuk beberapa suratkabar di seluruh penjuru Indonesia. Entah dimuat atau tidak aku tidak tahu (aku sudah tak pernah membaca koran sejak bulan April 2004, soalnya isinya monoton dan sama saja).

Jadi, saat itu memang aroma Malaikat Izrail sedang bertebaran di Indonesia. Sedikit banyak beberapa teori dalam risalahku bersinggungan dengan asal usul bencana-bencana. Bagiku memang tidak heran, namun sebagai manusia memang mengguncangkan juga melihat tayangan televisi yang mengabarkan ratusan ribu orang meninggal dalam sekejap mata. Dan khabar kematian itu pula yang mengejutkanku tanggal 7 Januari 2005 itu, Guru Mursyidku Bapak K.H. Abdul Djalil Mustaqim mangkat kembali kepada Sang Kekasih tercinta. Aku melongo.

Hari itu Jum’at 7-1-2005, menjadi hari duka cita yang lebih khusus bagi aku dan kawan-kawan tarekat Syadziliyyah. Pak Luqman sudah di Tulungagung ketika aku telepon sore itu setelah SMS-nya sampai mengabarkan dukacita. Aku tercenung mengenang tiga kali pertemuanku dengan beliau yang semakin memantapkan keadaan  ruhaniku. Saat ini, aku sedang memasuki medan ruhani angka-angka. Tanggal wafat Sang Guru seperti menyiratkan satu makna tertentu 7-1-2005 jam 2:30 kalau kuuraikan dengan teorema jumlahan sebagai pelimpahan rahmat dan kasih sayang Allah dalam menciptakan segala sesuatu (Basmalah) adalah rangkaian angka 7-1-7-5.

Dua malam sebelumnya, atau tepatnya dua hari sebelum tanggal 7-1-2005 aku memang tidak enak hati, jasmani dan ruhaniku memang agak sedikit menurun semangatnya. Rupanya itu pertanda akan kemangkatan Beliau yang bagiku secara non fisik mentransmisikan energi keruhaniannya yang melimpah-limpah.

Malam sebelumnya, dengan Ismail (teman satu rumah) aku mendiskusikan makna-makna tersembunyi dalam angka 1,2,3,5,7 yaitu bilangan prima untuk tambahan risalah “Kun Fa Yakuun”. Angka Satu adalah Prima Kausa, Allah Yang Maha Esa, sebagai penyebab segala sesuatu. Dan tanggal 7 Januari sore itu pula kabar duka cita kuterima, Sang Guru Mursyid telah kembali pada-Nya pada jam 2:30 pagi, dan dikebumikan siang harinya, hari Jum’at 7-1-2005.

Ruh Makrifatullah

Rasanya ada sebagian energi tubuhnya yang terlepas. Sedikit lemes dan tidak biasanya. Dalam perenunganku 7-1-7-5 seperti menyiratkan sesuatu. Tujuh angka adalah tujuh langit bumi yang kusingkap dirisalahku sebagai struktur mendasar alam jasmani dan ruhani, alam semesta dan manusia semua disandarkan pada angka tujuh itu. Sang Guru seperti mengisyaratkan, “Dakilah 7 langit bumi dengan 17 rakaat shalat 5 waktu. Darinya engkau akan temui tauhid sejati.” Jumlahan angka itu berjumlah 15 bahkan 20 kalau dijumlah dengan jam kematiannya (2:30 adalah 2+3+0=5), kalau dijumlahkan lagi diperoleh angka 6 dari tanggal, bulan, tahun; dan angka 5 dari jam wafatnya; kalau digabungkan menjadi angka 65 (QS 6:5 dan QS 65:1), atau angka 11 (QS 1:1, QS 11:1) “Bismillaahir rahmaanir rahiim”, atau totalnya menjadi 1+1=2 (QS 2:1) “Alif laam miim”.

Angka 6 itu adalah 6 ayat al-Fatihah setelah Basmalah yang kuulas dirisalahku sebagai awal mula penciptaan dengan hirarki tujuh alam. Itu pula ayat no 6 dalam al-Fatihah yang menyebutkan nama Sang Guru, “Ihdinash Shirathaal Mustaqiim (Tunjukilah kami jalan yang lurus/luas)”(QS 1:6). Ketika al-Qur’an kutelusuri kubuka beberapa ayat:

  1. Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Majidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS 17:1)
  2. Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. (QS 6:1)
  3. “Alif Laam Mim”( QS 2:1)
  4. Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, (QS 11:1)
  5. Alif, laam, raa. (Surat) ini adalah (sebagian (ayat-ayat) Al Qur’an yang memberi penjelasan.(QS 15:1)
  6. Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al Qur’an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.(QS 6:5)
  7. Itulah hukum-hukum Allah dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.(QS 65:1)
  8. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS 7:17)
  9. Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. (QS 71:7)
  10. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS 57:3)
  11. “Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.” (QS 57:5)

Bagiku, rangkaian 7-1-7-5 itu seperti menyiratkan suatu pesan terakhir dari Sang Guru Mursyid bahwa 7 ayat al-Fatihah QS 1:1, QS 1:6, QS 1:1-7, QS 1:6, QS 6:5, QS 65:1, QS 17:1, QS 6:1, QS 2:1, QS 11:1, QS 15:1, QS 17:1, QS 7:17, QS 71:7, QS 57:3, dan QS 57:5 seperti menceritakan bahwa manusia itu harus mengikuti suatu jalan yang lurus dan luas (Shiraatal Mustaqiim, QS 1:6) dengan mendaki atau menyingkap 7 ayat al-Fatihah untuk menyingkap 7 langit bumi jasmani dan ruhani, dengan 17 rakaat shalat agar tercapai mi’raj (QS 17:1) dan menauhidkan-Nya (QS 6:1). Angka 17 itu juga menyiratkan bahwa bekalilah dirimu dengan 6236 ayat (jumlahnya 17) yaitu al-Qur’an (QS 2:1, 11:1, 15:1) selama mi’rajmu kepada-Nya. Jangan mengabaikan al-Qur’an (QS 6:5) karena siapapun mereka yang mengabaikan al-Qur’an tidak akan selaras dengan ketentuan dan ridha-Nya yang akan berakhir dalam bencana (QS QS 6:5 dan 65:1, membaca ayat ini aku teringat Tsunami yang melanda Aceh dan Kawasan Asia Tengah terutama frase “….Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.”). Dalam perjalananmu, engkau akan dihadang oleh Iblis dan Setan terkutuk yang akan menghadangmu dari “depan, belakang, kiri dan kanan” (QS 7:17), dan juga dari mereka yang sombong yang mengabaikan seruan kepada Allah – Tuhan Yang Esa (QS 71:7, QS 65:1). Sang Guru juga menyiratkan untuk membaca-baca surah no 71 (Nuh), 75 (Al Qiyamaah), dan tengah-tengahnya surah 73 (Al Muzammil).

Ketahuilah, bahwa hanya dengan tauhid hakiki yang tercantum dalam QS 57:3 (5+7+3=15, lihat juga QS 15:1) dan QS 57:5 (jumlahnya 17) maka makrifatmu akan wusul pada-Nya sebagai, “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu(QS 57:3, atau 5+7=12 dan 3).” Dan ketahuilah, “Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan (QS 57:5, atau 12 dan 5).” Dari jumlahan 7-1-7-5=20, maka beliau pun berpesan dalam ketauhidannya bahwa cintailah Rasulullah dan ikutilah akhlak dan perilakunya bila engkau mencintai Allah,” Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman.(QS 57:8, atau 12 dan 8, jumlahnya 20)”.

Tiga surah al-Hadiid itu menyiratkan pengertian tauhid. Dari angka 12 diperoleh 12 huruf tauhid “Laa Ilaaha Ilallaah” dari angka 3, 5 dan 8 diperoleh angka 16 atau 1+6=7 (7 ayat al-Fatihah, juga 7 lapis langit-bumi), dari 12+7 diperoleh angka 19 yaitu jumlah huruf Basmalah, jumlahan 1+9 adalah angka 10 atau angka 1+0=1, Allah Yang Maha Esa.

Bunga itu telah mekar di Taman Bunga Cinta Kasih Ilahi.
Ia menjadi satu dari bunga-bunga yang tumbuh di Sidratul Muntaha
yang harumnya semerbak mewangi menjadi
pedoman bagi para Pecinta Ilahi dan Pejalan Ruhani.
Cium dan hiruplah semerbak harumnya,
maka engkaupun akan terhisap kedalam gravitasi ruhaniah universal
yang menunjukkanmu pada Shiraathal Mustaqiim,
jalan yang mestinya ditempuh oleh semua manusia
yang menauhidkan Dia – Allah Yang Maha Esa.

Pesan Pak Yai ketika beliau kembali pada-Nya pada tanggal 7-1-2005 jam 2:30 bagi kita semua (setidaknya bagi saya) kiranya sudah jelas benar.  Ikutilah jalan tauhid untuk wusul kepada Allah SWT karena ruh dan ujung makrifat adalah penyaksian tauhid.

“innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali)” (QS 2:156, 2 dan 12 ), maka manusia, kita ini, sebenarnya tidak memiliki apapun juga dan kita pun akan kembali kepada-Nya.

Semuanya adalah milik Allah SWT – Sang Kekasih bagi manusia yang menauhidkan-Nya. Dari uraian 2 dan 12 diperoleh 2×12=24 huruf tauhid “Laa Ilaaha Illallaah, Muhammadurrasulullah” yang tidak lain adalah jawaban dari QS 1:6 “Bimbinglah kami atau tunjukilah kami jalan yang lurus atau luas?” (dijawab :”Laa Ilaaha Ilalaah”), dan jawaban dari pertanyaan pada QS 1:7 yaitu, “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat (dijawab “Muhammadurasulullah”), Bukan orang yang Engkau murkai, dan bukan orang yang sesat jalan”.

@ Lbk Bls  11-1-2005, @tmo founder myQuran
Tulisan ini dibuat sebagai kenangan untuk Guru Mursyid Tercinta K.H. Abdul Djalil Mustaqiim yang wafat  tanggal 7-1-2005 jam 2:30 pagi di Tulungagung.