Medsos dan Renungan Selepas Ramadan

Tiap kali bulan Ramadan masuk, ada rasa yang menghinggap seolah hari-hari di bulan Ramadan, siang maupun malam, memang berbeda dengan hari lainnya. Makanya pas memasuki bulan Ramadan seperti ada energi yang meliputi yang menyemburatkan spirit khusus.

Terutama spirit untuk lebih berhubungan lebih intens kepada ASllah SWT maupun melakukan kegiatan sosial kepada semua makhluk. Demikian juga, bagi yang terbiasa olah ruhani, Ramadan pun sebenarnya memang bukan bulan biasa dan laku lampah ruhaninya semakin lebih intens.

Nah seusai Ramadan, banyak orang mengungkapkan perasaannya dan harapannya semoga masih diberi usia untuk bisa memasuki Ramadan berikutnya. WAG tentu menjadi tepat curhat pertama dewasa ini. Tentu saja ini berbeda dengan katakan saja, sepuluh tahun yang lalu ketika WhatsApp dan aplikasi medsos lainnya belum muncul.  Zaman yang belum lewat itu seolah sudah lama sekali berlalu, zaman dimana orang tidak bisa mengekspresikan dirinya seperti sudah lama lewat, dan kini kita memasuki era ekspresionis dahsyat sepanjang sejarah manusia dimana semua orang bisa menuliskan curhatnya di media sosial. Salah satunya curhat seperti ini yang menyebar kemana-mana seusai Ramadan.

Baru kemaren kita menunggu datangnya Ramadhan dengan antusias, lalu dia pun datang dan pergi begitu cepat.

Kemudian datang hari Idul Fitri dengan kemeriahan dan kegembiraannya, dan ia pun berlalu dan pergi dengan segera.

Lalu segalanya kembali seperti sediakala, sunyi kembali.

Begitulah kehidupan dunia.. dan pada saatnya nanti, semuanya akan berakhir dan engkau akan kembali ke asalmu.. sendirian, tanpa ada yang menghiburmu, kecuali amalmu, maka perbaikilah amal itu.

Ikhlaskan ibadahmu hanya untuk Allah, dan sesuaikan caranya dengan tuntunan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.. Ikhlas tanpa mengikuti tuntunan beliau akan sia-sia, sesuai tuntunan beliau tanpa keikhlasan takkan diterima.

Di dunia ini, kita kadang senang kadang meriang.. tidak ada yang abadi, pasti akan silih berganti keadaannya.. dan semuanya hanya sementara.

Fokuslah pada akhiratmu..

Banyak manusia semangat membangun dunianya, padahal itu akan dia tinggalkan.. tapi, dia malas membangun akhiratnya padahal itulah rumah abadi masa depan.

Semoga Allah mengumpulkan kita semua di surga firdaus-Nya.. amin.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,