Luruskan Niat

Luruskan Niat

Bulan Ramadan segera tiba, saatnya kembali kita melakukan evaluasi diri atas segala perbuatan kita mulai dari niat sampai tindakan nyata. Karena itu, MyQadmin kembali mempublikasikan tulisan-tulisan yang mudah-mudahan menjadi pencerah bagi pembacanya. Tulisan ini sebenarnya sudah dijadikan e-book karena pernah dipublikasikan di beberapa blog sejak tahun 2006 namun tetap dikaji ulang dan di revisi disana-sini oleh penulisnya yaitu saya sendiri. Versi lengkap edisi terbarunya saat ini belum kembali di-online-kan, jadi di media maya myQuran.id ini saya kembali me-reblog tulisan-tulisan yang sebenarnya sudah dibundel dalam sebuah buku berjudul “Menaklukkan Gunung Keseombongan Jiwa”. Nah tulisan pertama (bab 1) adalah “Luruskan Niat”. Semoga bermanfaat.

Bahasa Arab mengartikan niat sebagai keinginan dalam hati untuk melakukan tindakan yang ditujukan hanya kepada Allah. Niat merupakan hal utama bagi Umat Islam sebelum melaksanakan suatu pekerjaan. Apakah pekerjaan itu berhubungan dengan peribadahan formal seperti salat, puasa, dan lain sebagainya. Maupun ibadah dalam arti yang luas seperti keluar rumah untuk mencari nafkah, online untuk diskusi di situs myQuran[1], chatting di WhatsApp[2], atau aktivitas lainnya, semuanya harus dilandasi dengan niat yang lurus untuk mendapat Rida Allah selain manfaat praktisnya tercapai misalnya mendapatkan upah/gaji atau manfaat lainnya.

Apakah arti dan makna niat sesungguhnya? Niat sebagai suatu titik tolak tindakan manusia merupakan starting point yang kelak menentukan nilai dari semua perbuatan kita. Niat tidak lain adalah ilham ilahiyah yang fitri. Karena itu asal semua niat adalah baik. Bahkan dalam penelusuran yang lebih jauh, dapat disimpulkan bahwa semua niat awal yang ditetapkan Allah kepada hamba-Nya adalah menjadi penyaksi ke-Esa-anNya (Qs 7:172).

Dengan niat yang baik, yang seringkali secara umum diartikan “hanya karena Allah semata”, maka semua proses yang dijalani ketika niat itu berkembang menjadi proses berpikir, merencanakan, dan akhirnya menjadi tindakan lahir dengan seluruh jasad dan jiwa kita semata-mata terjadi karena “kesadaran fitriyah kita” untuk menyatakan kalau semua itu atas izin dan kehendak Allah.

Seluruh tindakan kita memang bermula dari niat yang hadir di hati maupun berupa bersitan ilham. Makanya, tidak mengherankan kalau Allah berfirman dalam al-Qur’an di surat Al-Zalzalah ayat 7 dan 8 bahwa segala perbuatan kita yang sebesar zarah pun, baik dan buruk, akan diberi balasan.

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS 99:7-8)

Kenapa Allah membalas semua pekerjaan kita dengan cara yang berbeda kalau semua niat sesungguhnya bersumber dari Allah juga?

Niat dalam arti sebagai Pesan Allah yang ditetapkan dalam hati hamba-Nya, esensinya murni. Namun, ia bisa berkembang menjadi tindakan baik maupun buruk. Jadi, secara tidak langsung antara niat dan nafsu kita sebenarnya saling berhubungan dan berkelindan dimana nafsu yang fitri bisa menjadi jahat ataupun Takwa (simak QS 91:7-10). Dengan kata lain, nafsu merupakan pengembangan dari setitik niat yang aslinya murni yang menjalar bagaikan setetes embun yang jatuh di atas kolam yang meluas menjadi ombak dan gelombang.

Karena itu, niat yang telah mengembang menjadi perbuatan sebesar zarah pun telah berada di wilayah tanggung jawab manusia, baik personal maupun kolektif. Setelah zarah niat berupa ilham ilahiyah yang dititipkan kedalam hati hamba-Nya dimekarkan menjadi perbuatan, maka baik buruknya tergantung dari pengendalian nafsu kita. Jadi titik tolak perubahan sejatinya ada pada pengendalian wa nafsi kita sendiri sebagai keadaan yang inheren dalam diri sendiri seperti diisyaratkan di QS 91:7-10 dan QS 13:11 yang populer ini.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri

Ketika niat yang baik diselewengkan menjadi tindakan buruk, maka keburukan seseorang dengan semua tindakannya adalah tanggung jawabnya. Bukankah ditegaskan juga pada ayat-ayat lainnya bahwa semua kebaikan muncul karena keselarasan kita dengan kehendak Allah. Dan keburukan berasal dari diri kita sendiri karena kelalaian kita yang membiarkan hawa nafsu diri kita menjadi jahat sehingga tidak dapat menanggapi dan mempertahankan niat baik yang hadir dengan tindakan yang sesuai dengan kehendak Allah.

Kota Patriot, 12/9/2007, revisi terakhir Desa Sampora 9/5/2017, Bab 1 Buku Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa

[1] MyQuran.Com Komunitas Muslim Indonesia terbesar di Internet, forum diskusi, chat, dll. didirikan tahun 1999 oleh penulis dkk.

[2] Media chat daring