Kopi dari Perjamuan Mistikus hingga Minuman Programer Java

Bagi sebagian besar dari kita, ngopi adalah aktivitas yang biasa. Saking biasanya seringkali kita tak membicarakan lagi tentang kopi itu sendiri. Dikalangan mistikus, kaum sufi, kopi sering kali jadi ungkapan bagaimana mereka menyelam di dunia mistis, minum saja dan rasakan. Bukan meneliti isi dan kandungan kopi itu zat apa, tapi just drink it! maka engkau akan tahu apa itu citarasa kopi dan apa itu Tuhan. 

Bagi Steven Topik penulis buku Coffe as Social Drug, kopi mengingatkan kita bahwa di berbagai tempat dan waktu, biji kopi telah mewakili praktik spiritual, kontroversi politik, dan bahkan bentuk komoditas yang bisa jadi uang.

Dari Ethiopia Mendunia

Sejarah kopi bisa dilacak sampai ke Ethiopia, di mana ia bisa tumbuh liar. Dalam bukunya, Steven Topik menulis bahwa penduduk setempat menggunakannya sebagai sakramen dalam upacara komunal dan untuk menjaga energi dan rasa lapar saat berburu. Kopi memang seperti sebuah stimulan energi, makanya tidak heran sebagian besar kemasan minuman energy drink saat ini mengandung kopi.

Saat biji kopi menyebar ke bagian lain Afrika, beberapa kelompok membuat biji kopi segar menjadi minuman seduhan, sementara yang lain memanggangnya dengan lemak atau mentega, atau mengunyahnya dengan mudah. Di Indonesia malah ada kebiasaan mengunyah kopi campur gula tanpa air. Itu kebiasaan masa kecil saya dulu. Kopi sebagai bijih cukup ringan dan cukup berharga sehingga orang Haya di Tanzania mengadopsi kopi sebagai mata uang, atau sebagai komoditas berharga dan tentu saja laku dijual.

Beberapa budidaya kopi, perdagangan, dan tentu saja yang paling awal sekali didokumentasikan dicatat di Yaman, yang terletak di sudut barat daya Jazirah Arab. Paling tidak sejak pertengahan tahun 1400-an, Sufi Yaman menggunakan minuman tersebut sebagai bagian dari praktik keagamaan mereka, namun pada abad ke-16, biji-biji kopi yang banyak dijual adalah jenis kopi keturunan dari Yaman.

Kata kopi di kosakata modern berasal dari koffie Belanda, yang berasal dari versi bahasa Turki dari kata Arab “qahwah” yang artinya kekuatan atau sumber energi. Sumber asal minuman ini diduga dari dataran tinggi Ethiopia dan sudah dibudidayakan sejak 1000 SM. Sekilas di peta menunjukkan bahwa Yaman berjarak kurang dari dua lusin mil dari Afrika (Ethiopia saat ini tidak memiliki pantai) melintasi Selat Bab al-Mandab. Dataran tinggi pedalaman Yaman ternyata sangat cocok untuk menanam tanaman kopi.

Kopi pun alhirnya memasuki pasar global atas jasa para pedagang Arab. Muslim sufi di Yaman sangat menghargai minuman tersebut, yang menjadi bagian dari ritual nyanyian malam mereka. Bahkan di Indonesia, dengan tradisi tarekat yang kental kopi menjadi minuman sekaligus pernyataan ekspresi spiritual yang menjadi gambaran tentang perjalanan ruhani seorang hamba. Makanya, ada banyak cerita tentang kopi di komunitas-komunitas sufi baik hanya sekedar guyon maupun ilustrasi yang serius tentang perjalanan ruhani itu sendiri. Dalam ekspresi ekstrim tidak jarang  peminum kopi sufi menyatakan “Allah sedang minum Allah” padahal maksudnya ya ngopi itu.

Minuman Kaum Sufi

“Pria dan wanita bersama-sama berbagi mangkuk yang diedarkan,” ujar Topik Steven . “Tujuan awal minum kopi adalah untuk mengatasi dunia material dan menemukan kedamaian.”

Kopi Yaman juga memiliki efek kembali di dunia material. Bangsa ini menjadi sumber kopi yang dominan selama 250 tahun, yang mempengaruhi kekayaan ekonomi dan militer Kekaisaran Ottoman.

Di seluruh negara-negara Muslim, kopi kontroversial. Hal itu tentu menarik perhatian  bagi orang-orang yang menghindari alkohol, atau karena larangan agama minuman yang memabukkan diharamkan. Minum kopi terutama pada perayaan menjelang malam Ramadhan menjadi suatu kebiasaan tersendiri. Namun beberapa ulama keberatan, prihatin dengan sifat obatnya dan diyakinkan oleh interpretasi Alquran yang memperingatkan penggunaannya. Di kesultanan muslim abad pertengahan , kopi juga sempat dianggap minuman yang memabukkan. Namun, seiring dengan berkembangnya zaman dan nilai ekonominya yang tinggi pendapat ini perlahan memudar, kopi halal untuk dikonsumsi Umat Islam sampai hari ini.

Pada Abad 13-15, agama Islam disebarkan oleh kaum Shadhiliyaa (Syadziliya, tarekat sufi dari Maroko) dengan menggunakan “qahwa” atau kopi. Mereka memang dikenal sebagai kaum sufi yang berdagang. Minuman yang kemudian menjadi populer di antara kaum Sufi selalu diminum agar mata mereka selalu terjaga saat melakukan zikir. Bahkan seorang sufi yang bernama Shadhili Abu Bakr ibn Abd’Allah al-‘Aydarus menulis sebuah lagu kasidah sebagai penghormatan terhadap kopi. Sementara seorang ahli agama lainnya, Shaikh ibn Isma’il Ba Alawi, mengatakan bahwa kopi dalam membantu manusia untuk mengalami “qahwat al-Sufiyya” atau sukacita karena umatNya diperkenankan untuk menguak misteri pewahyuan Illahi.

Penggunaan kopi pun sampai ke Mekkah, dan menurut para ahli sejarah Arab yang mula-mula, pernah ada tertulis seperti begini:

“It was drunk in the Sacred Mosque itself, so that there was scarcely a dhikr or mawlid where coffee was not present.”
– Jaziri

Melalui para pengelana, pedagang, pelajar, sufi pengembara, dan para petualang, kopi akhirnya menyebar ke negara-negara Islam lainnya. Al-Azhar kemudian menjadi pusat orang minum kopi, dan banyak kegiatan keagamaan yang menyertakan kopi ke dalam ritualnya. Pada Abad 16, seorang penulis mendeskripsikan pertemuan-pertemuan keagamaan di Kairo seperti begini:

“They drank coffee every Monday and Friday eve, putting it in a large vessel made of red clay. Their leader ladled it out with a small dipper and gave it to them to drink, passing it to the right, while they recited one of their usual formulas, mostly “La illaha il’Allah…”
– Ibn ‘Abd al-Ghaffar

Seorang Sufi yang berasal dari Yaman membuat ritual yang melibatkan acara minum kopi yang diikuti dengan “ratib” dengan menyebutkan nama “Ya Qawi” selama 116 kali. Kopi dianggap sebagai sumber dari segala kekuatan.

Kopi dalam sejarah Islam juga melibatkan para malaikat. Menurut sebuah legenda dari Persia, manusia yang pertama menikmati kopi adalah Nabi Muhammad yang ketika mengantuk disuguhi kopi oleh Malaikat Jibril.

Lahirnya Budaya Warung Kopi

Popularitas kopi sebagai minuman mendorong lahirnya kedai-kedai kopi. Karena pembuatan minuman kopi menuntut keterampilan teknis, pedagang tidak bisa hanya menjual biji kopi  ke pelanggan yang belum tahu. Jadi mereka membuka kedai kopi kemanapun mereka pergi. Tak pelak lagi, kedai-kedai ini menjadi tempat kumpul-kumpul baru bagi penikmat minuman ini sehingga membuat khawatir beberapa pemimpin agama. Sebabnya, mereka khawatir orang lebih suka nongkrong di warung kopi ketimbang ke masjid sebagai ruang sentral untuk sosialisasi dan diskusi politik. Tapi kekhawatiran itu perlahan lenyap tapi warung kopi tetap menjadi favorit untuk masyarakat perkotaan maupun pedesaan sampai hari ini.

Pada tahun 1500, minuman ikopi semakin populer di sekitar Jazirah Arab.  Di Al Qur’an memang ada beberapa ayat yang melukiskan makanan dan minuman dari surga misalnya madu, susu tapi tidak ada sebutan eksplisit kopi. Tapi setiap kenikmatan yang bisa diraih di Bumi umumnya memang dikaitkan dengan minuman surgawi termasuk di Betawi – Bir Pletok pun dikatakan minuman surgawi saking enaknya.

Orang-orang Timur Tengah minum kopi pekat dan tanpa pemanis, dan ketika orang-orang Eropa mulai menemui minuman itu, mereka umumnya tidak terkesan dengan rasa itu. Tapi mereka menghubungkan kualitas menarik lainnya, termasuk sifat obat dan hubungan umum dengan kekayaan dan kemewahan “Orient.”

Seiring waktu,  asosiasi rasa nikmat kopi tersebut bergeser. Kopi menjadi minuman akademisi Eropa dan kapitalis yang baru muncul kemudian di masa kolonial, kopi karena itu dianggap sebagai sebuah “anti-Bacchus” atau “Great Soberer.” Atau sebagai stimulan energis yang mampu menciptakan terobosan inovatif. Di era digital, efek kopi ini kemudian menjadi legendaris ketika James Gosling dan sekelompok programer Sun Microsystem menciptakan bahasa pemrograman real-time yang kemudian disebut “Java” karena para pengembangnya minum kopi Jawa sebagai stimulan.

Overhead shot of a cup of coffee in plain white coffee cup with soft shadow, isolated on white background.

Tapi, seperti di Timur Tengah, sifat sosial kedai kopi mengkhawatirkan beberapa penguasa. Kekhawatiran ini ternyata bisa dibenarkan ketika kedai kopi berfungsi sebagai markas untuk merencanakan revolusi di tahun 1789 Prancis dan 1848 Berlin, Budapest, dan Venesia. Bahkan kalau kita tinjau sejarah kemerdekaan Indonesia, tidak heran kalau diskusi menuju Indonesia merdeka sampai masa revolusi dan sesudahnya kedai kpi jadi pusat-pusat revolusi kaum muda. Hanya saja, saya belum menemukan bukti sejarahnya apakah memang begitu.

Dengan pertumbuhan masyarakat konsumen di Eropa dan A.S., minum kopi menyebar ke kelas pekerja. Dimana tentara Revolusi Amerika telah menerima ransum rum, tentara Perang Saudara mendapat kopi. Seorang pejuang mengklaim kemudian bahwa “jika ada penghormatan yang cukup di antara para veteran untuk membentuk dasar sebuah agama baru, Allah mereka adalah Fire and Coffee.”

Minum kopi hanya menjadi lebih umum di abad ke-20 karena penemuan baru mempermudah pembuatan kopi di rumah atau di kantor, dan semua itu akhirnya mengubahnya menjadi aktivitas sehari-hari seperti sekarang ini. Kita minum kopi tiap pagi sambil ngobrol kesana kemari tanpa lagi peduli itu kopi.

Sampai hari ini, kedai-kedai kopi yang populer di Eropa dimulai sekitar tahun 1650, keadi kopi berfungsi sebagai tempat pertukaran informasi bagi para penulis, politisi, pengusaha dan ilmuwan. Seperti halnya situs web, weblog, dan papan diskusi saat ini, kedai kopi sejatinya adalah sumber informasi untuk  topik atau sudut pandang politik tertentu. Mereka adalah gerai untuk selebaran buletin, pamflet, lembaran iklan dan selebaran gratis. Bergantung pada kepentingan pelanggan mereka, beberapa kedai kopi menampilkan harga komoditas, harga saham dan daftar pengiriman, sementara yang lain menyediakan buletin asing berisi gosip-gosip menarik maupun abal-abal. Di Indonesia kedai kopi menjamur bak cendawan di musim hujan, apalagi Indonesia adalah negeri penghasil kopi yang sangat terkenal mulai dari Aceh, Gayo, Medan, Lampung, Jawa, dll. Kebiasaan nongkrong di minum kopi pun tetap eksis, baik hanya sekedar ngobrol kesana kemari dan selfie dengan berbagai gaya, ataupun menjadi tempat bekerja bagi mereka yang suka bekerja di warung-warung kopi.

Selamat hari kopi.

@tmo dari berbagai sumber, sebelunya dipublikasikan di djimat.com