Kesempurnaan Cinta Seorang Eko Pratomo

Kesetiaan tidak cukup hanya dengan berilmu, namun ada rahasia didalam hati yang menjadi kekuatan tiada tanding dan tiada banding yaitu ikhlas yang menjadi rahasia kekuatan ilahiyah bagi yang menerimanya dengan tulus tanpa batas.

Ir. Eko Prio Pratomo MBA, lulusan Teknik Mesin Penerbangan ITB angkatan 1982, sekitar tahun 2000-an namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri Reksadana di Indonesia dan juga pernah menjadi direktur dari Fortis Asset Management yang sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment.

Merawat Istri yang sakit Lupus & Low Vision

Dalam posisinya saat itu, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Selain keberhasilannya sebagai eksekutif keuangan, ada sisi kesehariannya yang luar biasa! Eko Prio Pratomo masih bersemangat merawat istrinya (Dian Wahdhini Syarief) yang sedang sakit lupus dan low vision. Mereka menikah tahun 1990, keduanya lulus dari ITB, Eko dari jurusan teknik Mesin Penerbangan dan Dian dari jurusan Farmasi.

Awalnya Dian Syarif hidup normal dan bahagia bersama suami dan keluarganya. Tanpa ada pertanda sebelumnya, setelah hampir 9 tahun berkarir di Bank Bali dan menjalani mahligai rumah tangga cobaan pun datang. Suatu hari di bulan Ramadhan tahun 1999, bermula dari gejala-gejala yang dianggap Dian sebagai gejala penyakit biasa, barulah Dian tersadar akan hadirnya penyakit ganas yang bersarang dalam tubuhnya.

Hadirnya bintik-bintik merah di kulit Dian, dianggap sebagai masalah kulit biasa. Ia pun memutuskan untuk memeriksakan ke dokter kulit. Namun, dokter menyatakan bintik-bintik merah itu bukanlah penyakit kulit biasa. Ia lantas disarankan untuk melakukan pengecekan darah di laboratorium. Tak hanya kulit yang berbintik merah saja, wajah Dian pun memucat. Kendati begitu, kala itu ia merasa fisiknya terasa sehat dan tidak merasakan sakit apa pun. Setibanya di rumah, Dian diberitahu oleh petugas laboratorium bahwa kadar trombositnya hanya tinggal 10 persen dibandingkan dengan trombosit normal. Bintik-bintik merah itu ternyata merupakan pertanda pendarahan di kulit.

Khawatir dengan kadar trombosit yang terus menurun, pada malam itu juga Dian dengan ditemani sang suami pun langsung memeriksakan ke salah satu rumah sakit di Jakarta Selatan. “Ternyata hasil ceknya semakin gawat,” ujar Dian singkat. Menjelang Shubuh, akhirnya ia memutuskan untuk dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah. “Kata dokterku, bila trombositnya turun sedikit lagi, pembuluh darah akan pecah kemana-mana,” kenang Dian yang memiliki hobi memasak ini. Barulah pada keesokan harinya, sum-sum tulang belakang Dian diambil untuk dilakukan pengecekan ulang. “Baru ketahuan saya bukan terkena demam berdarah, melainkan terserang lupus,” lanjutnya.

Penyakit yang bernama lengkap Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau biasa dikenal dengan nama penyakit seribu wajah, karena gejala-gejalanya yang sukar dikenali, mulai merampas banyak hal dalam kehidupannya. Mulai dari berkali-kali menjalani operasi bongkar pasang tempurung kepala karena ternyata ada infeksi pada otak, hysterectomy (pengangkatan rahim) yang menutup keinginan Dian dan suami untuk memiliki momongan, hingga harus kehilangan daya penglihatan (low vision) karena serangan Lupus dan efek samping dari obat yang dikonsumsi.

“Jenis penyakit lupus yang saya alami menyerang darah, karena itu diberi obat-obatan yang bisa meningkatkan trombosit. Namun, efeknya wajah saya menjadi membesar seperti moon face. Sehingga ketika itu banyak teman-teman yang tidak mengenal wajah saya. Akibat samping lainnya, saraf mata saya terkena sehingga sekarang sisa penglihatan tinggal lima persen saja,” kata Dian.

Dari hari ke hari kondisi fisiknya semakin memburuk, akibatnya sejak Maret 1999 Dian tak mampu bekerja seperti semula. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menjalani pengobatan. Dian sudah menjalani 17 operasi baik di dalam maupun di luar negeri. Di RS Mount Elisabeth, Singapura dalam kurun waktu sebulan ia sudah menjalani 6 kali operasi tempurung otak. Infeksi yang menimpa otaknya sudah menjalar kemana-mana. Tempurung kepalanya dibongkar pasang hingga tak lagi rata karena sudah dipasangi slang. Dian menjalani pemasangan VP Shunt (ventriculoperitoneal shunt) semacam slang dari bagian otak ke rongga perut untuk memperlancar sirkulasi cairan otak. Kondisi Dian perlahan-lahan mulai stabil, bahkan pada tahun 2000 Dian sempat menunaikan ibadah haji dengan menggunakan kursi roda. Namun dua tahun kemudian kondisi fisik Dian kembali labil, ia kembali keluar masuk rumah sakit.

Tahun 2002 berdasar hasil MRI (Magnetic Resonance Imaging) VP Shunt tidak berfungsi. Akibatnya Dian merasa pusing dan mual. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit Singapura guna pergantian slang. Namun sayang pemasangan VP Shunt di Singapura tidak berfungsi dengan baik. Dian harus kembali ke meja operasi untuk pemasangan ulang VP Shunt di rumah sakit swasta di Jakarta. Di sela itu, Dian juga mengalami pendarahan hebat akibat siklus menstruasi yang tidak teratur. Pernah Dian tidak mengalami menstruasi selama lima bulan berturut-turut dan penebalan dinding rahim. Menurut Dian akibat mengkonsumsi tablet sejenis steroid berpengaruh pada keseimbangan hormonal yang bermuara pada siklus yang tidak teratur, penebalan dinding rahim dan pendarahan hebat.

Akibat dari penyakit lupusnya satu demi satu bagian tubuhnya mengalami efek buruk dari penyakit tersebut. Salah satunya rahim yang merupakan bagian penting bagi wanita. Tahun 2004 terpaksa Dian harus merelakan rahimnya untuk diangkat karena terjadi pendarahan terus menerus demi keselamatan jiwanya. Tentu ini merupakan pukulan berat bagi Dian karena tidak bisa menghadirkan keturunan. Tak mampu menghadirkan buah hati, tentunya menimbulkan kekhawatiran Dian kalau suaminya Eko Pratomo akan berpaling darinya.

Pasca pengangkatan rahim memang menjadi kesedihan bagi Dian. Tetesan air matanya tak bisa dibendung pasca siuman operasi. Harapan akan kehadiran anak semenjak awal pernikahan pupus sudah. Dian hanya terdiam semua sudah ada yang mengatur, Dian hanya berharap semoga ini merupakan operasi yang terakhir kalinya. Ia pun segera menanyakan kepada suami apakah berniat menikah lagi? tapi sang suami tak terpikir menikah lagi. Padahal saat itu, Dian sudah merelakan jika suaminya akan menikah lagi agar memperoleh keturunan. Tetapi sebagai suami Eko tetap setia mendampingi Dian dalam berjuang melawan penyakit lupus yang kapan saja bisa menggerogoti tubuhnya. Setelah selesai pengangkatan rahim, suaminya malah memberikan selamat karena telah melahirkan si uterina / rahim. Ungkapan-ungkapan seperti ini membuat hati Dian terhibur.

Pasca Operasi

Pengalaman hidupnya memberikan banyak inspirasi bagi odapus-odapus (sebutan penderita lupus) lainnya dan masyarakat awam. Dari penyakit berkepanjangan dan hilangnya satu indra penting ini merupakan kasih sayang Alloh kepada hambanya agar kembali ke jalan yang benar. Dengan cobaan ini Dian tersadar akan tujuan hidup sebenarnya. Masa-masa sulit yang dilaluinya ia bersyukur itu merupakan peluang yang Alloh berikan agar dirinya bisa “naik kelas”. Semasa sakit membuat Dian semakin mendekatkan diri kepada Alloh. Meski sedang sakit, Dian masih bisa menyempatkan diri untuk pergi ke Tanah Suci. Dalam menjalani pengobatan ia selalu menyerahkan hasilnya kepada Sang Pencipta. Di saat kondisi kritis Dian percaya selalu ditemani Alloh dengan cara berdzikir. Ia percaya dengan berdzikir dan menjalani perintahnya menjadi bekal jika ia kembali kepada-Nya.

Ketulusan Cinta Keluarga

Beruntung Dian memiliki suami yang setia. Bagi Eko, Dian adalah ladang amal baginya. Eko Priyo Pratomo merasa bersyukur karena dititipi Dian sebagai istrinya, sehingga tujuan hidupnya menjadi lebih terarah.

Menyertai hari-hari orang tercinta saat mengatasi derita sakit memang membutuhkan ketulusan yang luar biasa. Apalagi bila penyakit yang diderita bukanlah penyakit biasa, melainkan penyakit yang hingga kini belum ada obatnya. Namun, kasih sayang dan kelapangan dadalah yang dapat membuat Eko Priyo Pratomo dapat bertahan dalam ketulusannya mendampingi istrinya tercinta menghadapi deraan penyakit Lupus.

Menurut suami Dian, Eko Priyo Pratomo sebelum Dian diuji sakit, suaminya dulu juga pernah mengalami cobaan dan sempat down. Saat itu Eko percaya bahwa setiap orang memiliki ujian yang sudah ditentukan oleh Alloh. Tidak mungkin Alloh memberikan ujian diluar batas kemampuannya. Karena Eko sudah pernah mengalami ujian sebelumnya, ketika Dian yang mengalami, satu-satunya yang bisa dilakukan Eko adalah membuat Dian tetap kuat.

Eko selalu mengatakan kepada Dian bahwa ujian yang Alloh berupa sakit adalah bagian untuk melebur dosa. Dengan adanya ujian ini, Eko jadi mendapatkan formulasi tujuan hidup. Semula hidupnya hanya mengalir saja , sekolah, bekerja dan seterusnya. Dengan sakitnya Dian, menjadikan Eko memperoleh kesempatan untuk belajar agama lrbih mendalam.

Dalam suatu kesempatan, majalah Hidayatullah edisi Maret 2010 mengajukan pertanyaan “pernahkah Anda mendapatkan tekanan dari pihak keluarga atau pihak lain untuk meninggalkan istri Anda? Dan bagaimana Anda menyikapinya?”

Eko menjawabnya : “Tidak pernah, keluarga saya justru sangat mendukung dan berusaha turut membantu saya untuk mendampingi istri. Justru istri saya sendiri yang pernah menanyakam kepada saya perihal keinginan untuk menikah lagi. Namun saya menjawab, insyaALlah tidak berniat. Saya menganggap istri saya bukan hanya menjadi lading amal bagi saya, tapi juga keberadaannya di samping saya yang justru memberikan banyak kekuatan luar biasa bagi saya”

Bagaimana cara Anda mengatasi kerinduan akan hadirnya seorang buah hati? Eko menjawab : “Saya masih merindukan buah hati ketika istri masih sehat. Setelah melihat penderitaan dan perjuangan yang pernah ia alami, termasuk ketika ia harus merelakan rahimnya diangkat, saya menyadari Allah SWT memang punya rencana lain. Saya juga banyak belajar bahwa memiliki keturunan juga adalah ujian, sehingga saya juga meyakini, bahwa Allah SWT punya rencana yang lebih indah dengan tidak memiliki keturunan. Musibah ini atau lebih tepatnya ujian menjadi jalan untuk belajar dan menggali ‘pesan-pesan’ Allah SWT”

Selain suami, orang yang berperan besar dalam mensupport hidupnya adalah ibu kandungnya dr. Oemmy R. Syarief MMBAT. Satu kalimat penyemangat dari ibunda tercinta yang masih terus terngiang di telinganya adalah saat Dian harus menghadapi kenyataan menurunnya fungsi penglihatan. “Dian, kalau sekarang mata kita tidak bisa digunakan lagi, kelak fungsinya akan digunakan oleh yang lain. Bisa oleh telinga, oleh hidung, oleh kulit, oleh rambut, oleh perasaan dan lainnya.” tutur Dian mengenang ucapan sang ibunda.

Dian Wahdhini Syarief

Mengharu Biru Kick Andy

Kisah Eko Priyo Pratomo dan Dian Syarief menghadapi musibah menginspirasi banyak orang, terutama para suami yang istrinya menghadapi penyakit berat. Sampai suatu hari, di bulan Juli 2010 Pak Eko dan istri diundang oleh acara Kick Andy di Metro TV untuk menjadi narasumber dan merekapun mengajukan banyak pertanyaan kepada Pak Eko Priyo Pratomo khususnya kenapa mampu bertahan selama 11   tahun merawat Istrinya.

Disitulah Eko Priyo Pratomo kurang lebih bertutur Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan.  Intinya, dibutuhkan keikhlasan dan ketulusan tanpa batas untuk menghadapi segala ujian yang hadir dalam kehidupan kita.

Menurut Dian kalau saja tujuan menikah hanya untuk mendapatkan keturunan, mungkin sekarang sudah bubar. Dalam pernikahan hal yang penting adalah toleransi, keterbukaan, komunikasi dan tentu saja cinta. Kekuatan cinta dapat menimbulkan keajaiban, mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin, bisa menjadi sumber energi, menimbulkan semangat hidup.

Kisah hidup Dian yang bergelut dengan lupus ditulis dalam sebuah buku berjudul Miracle of Love: Dengan Lupus Menuju Tuhan. Tak berlebihan bila pasangan ini mendapat kehormatan untuk tampil di salah satu episode acara Kick Andy yang tayang pada Juli 2010, bertajuk kesempurnaan cinta.

Eko Priyo Pratomo dan Dian Wahdhini Syarief memang pasangan yang luar biasa. Sampai hari ini Eko Priyo Pratomo banyak membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongannya, bukan saja untuk penderita lupus, namun siapapun yang datang kepadanya dan membutuhkan pertolongan dia bantu. Salah satunya adalah saya sendiri yang dua tahun lalu (2014)  menderita sakit parah karena gejala gagal jantung akibat katup jantung yang lemah dan masuk UGD sebuah RS Swasta di BSD City. Namun karena fasilitas dan pelayanan yang kurang memadai, akhirnya diputuskan saya harus pindah rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap.  Belakangan, melalui penuturan beberapa teman, saya baru tahu kalau Mas Eko Priyo Pratomo berupaya untuk mendapatkan tempat perawatan di RSPAD saat kondisi saya sangat parah dan membutuhan perawatan ICU. Melalui tulisan ini saya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas ketulus ikhlasan beliau yang tanpa batas. Semoga Allah SWT selalu membarokahi kehidupan Mas Eko sekeluarga. Aamiin.

myQadmin (@tmo M84), 

sumber (diakses 9/10/2017):

Biodata :

Eko Priyo Pratomo

Lahir di Bandung 7 Agustus 1963. Ia adalah Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan spesialisasi di bidang Aeronautika. Mempunyai pengalaman empat tahun dalam bidang riset dan pengembangan teknologi, sempat menjalani riset selama 1,5 tahun di Delft University of Technology, Netherlands. Pada tahun 1991 menyelesaikan program MBA pada Institut Pengembangan Manajemen Indonesia (IPMI), Jakarta. Mengawali karirnya pada bidang marketing sebagai Deputy Marketing Manager PT KSCI, salah satu anak perusahaan MITSUI And Co. LTD pada bidang bidang property selama tiga tahun kemudian bergabung dengan Jababeka Investment Group sebagai Marketing Manager untuk PT Padang Golf Cikarang. Bergabung dengan PT MeesPierson Finas Investment Management (sekarang bernama Fortis Investments) pada tahun 1996. Sejak tahun 2004 ia ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Fortis Investments.

Saat ini Eko Priyo Pratomo (Lulusan teknik mesin penerbangan 1982)  bersama istri Dra. Dian Wahdhini Syarief (lulusan Farmasi ITB) mengelola Yayasan Syamsi Dhuha. Lembaga sosial ini didirikan di Bandung sejak 2004. Bersama para relawan dia menggerakkan berbagai kegiatan support group membantu orang dengan Lupus (ODAPUS) dan Low Vision. Melalui program Care For Lupus dan Care for Low Vision, dimana pada program ini melakukan pendampingan, edukasi, membangun jaringan kemitraan untuk meringankan beban penyandang Lupus, dan meningkatkan kualitas hidup bersama Odapus, menyediakan obat murah bagi ODapus yang kurang mampu melalui jalur Kementrian Kesehatan.

Di sela-sela kesibukannya, ia juga meluangkan waktu untuk menulis. Karyanya selain buku ini adalah: Berwisata ke Dunia Reksa Dana (2004); Cara Mudah Mengelola Keuangan Keluarga secara Islami (2005); Agenda Keuangan Keluarga (2005); FQ–Membangun Kecerdasan Finansial dengan Nilai-Nilai Spiritualitas (2006); dan Miracle of Love (2007).

Ia juga sempat menjadi salah satu pengajar dalam pelatihan dana pensiun yang diadakan LMUI untuk topik “Manajemen Investasi” dan narasumber pada berbagai pelatihan dan seminar untuk topik investasi dan perencanaan keuangan. Ia telah memperoleh izin perorangan Wakil Manajer Investasi yang dikeluarkan oleh BAPEPAM, serta memperoleh sertifikasi ChFC (Chartered Financial Consultant) dan CLU (Chartered Life Underwriter) dari Singapore College of Insurance.