Keramat Para Auliya

Sultan Auliya Syekh Abu al-Hasan asy-Syazili r.a., pendiri tarikat Syadziliyah, menyebutkan bahwa :

 

“Istikamah menyangkut dua keramat. Pertama adalah keramat iman, dengan semakin meningkatkan keyakinan dan syuhud al-ayyan (penyaksian visi spiritual) . Kedua adalah keramat amal, dengan mengikuti semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.


Dua hal penting dalam adab istikamah adalah adanya kemauan diri dan taufik dari Allah SWT sehingga manusia dapat secara konsisten dan konsekuen menempuh jalur yang diridai Allah SWT semata. Jadi, dorongan pertama yang muncul atau eksitatornya adalah menanggapi atau merespon niat murni dari Allah menjadi niat dari diri sendiri untuk menjadi baik. Kemudian baru kita bisa merasakan bahwa semua itu ternyata suatu anugerah, suatu taufik dari Allah yang membawa kita kepada pengenalan kepada-Nya dengan lebih intim.

Dalam istikamah terdapat tiga pengertian derajat yaitu :

  • menegakkan segala sesuatu (taqwim),
  • meluruskan segala sesuatu (iqamah), dan
  • berlaku teguh (istikamah).

Dengan pengertian menegakkan, meluruskan, dan teguh ini maka menjadi jelas bahwa istikamah merupakan perlengkapan utama jihad besar seorang salik untuk meraih kemenangan dalam memerangi dan mengendalikan nafsunya.

Pada akhirnya, keistikamahan seorang hamba akan membangkitkan keadaan ruhaniah dimana seorang salik selalu tetap tegar, kokoh, teguh, konsisten dan konsekuen dalam memerangi dan mengendalikan nafsunya dan terus berada didalam koridor keseimbangan optimum shiraatal mustaqiim dengan mematuhi perintah-perintah Allah, menjauhi semua larangan-Nya, selaras dengan sunnatullah dan rida atas ketentuan-Nya yang berlaku dan mengikuti sunatulrosul.

Bila istikamah tidak menetap dalam kalbu, bisa jadi baru satu langkah mengayunkan pedang ketakwaan, kita sudah dipatahkan oleh bala tentara dan tipu daya nafsu. Baru disogok dengan uang yang tidak seberapa kita sudah mantuk-mantuk setuju, baru disodori kemolekan tubuh kita sudah menyerah kalah, baru diuji dengan kemiskinan kita sudah berbelok ke jalan kekufuran, baru diuji dengan kesibukan kita sudah lupa jalan lurus, dst.

Oleh karena itu istikamah ini harus dilandasi dengan keimanan dan dilakukan untuk berbagai format peribadahan baik secara syariat (lahir) maupun hakikat (batin). Buah yang diharapkan adalah kita dapat menguasai nafsu dengan kalbu yang jenih sehingga muncul Kesadaran Diri optimum, mengendalikannya, dan mengkilatkannya menjadi cermin untuk meraih mutiara-mutiara hakikat dan menyeberangi samudera kehidupan dengan selamat dan  bersandar di pelabuhan makrifat yaitu meraih hakikat mengenal Allah SWT sebagai Al-Haqq atau Realitas Absolut.

Di pelabuhan makrifat, perjalanan masih panjang untuk mencapai tapal batas akhir perjalanan ruhani yaitu sampai kepada Allah untuk kemudian kembali sebagai hamba-Nya dalam kebaqoan-Nya.

 

reblog new rev. 21/5/2017, Bab 6, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi