Kepemimpinan, Amanah Yang Akan Dipertanggungjawabkan

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. 3X

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memudahkan langkah kita menuju tempat ini. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita selama bulan Ramadhan, baik yang berupa puasa, shalat wajib dan shalat sunnah, tadarrus al-Qur’an, zakat, infaq, dan shadaqah, serta I’tikaf di sepuluh hari terakhir. Semoga kita semua mendapat pahala Lailatul Qadar.
Suatu pagi di hari raya idul fitri, sesaat sebelum Rasulullah saw hendak menuju mushalla, tanah lapang untuk melaksanakan shalat Id, beliau mendapati sekelompok kawanan anak-anak yang sedang asyik bermain-main. Semua mereka nampak riang gembira, kecuali seorang anak yang duduk menyendiri dengan wajah yang murung. Rasulullah mendekati anak tersebut dan menanyakan gerangan apa yang menjadikannya bermuram durja. Sambil terisak, anak tersebut menceritakan bahwa beberapa tahun yang lalu ayahnya telah meninggal sedang ibunya tidak mempedulikan nasibnya. Ia hidup sebatang kara.

Mendengar penuturan anak tersebut Rasulullah saw segera mengajak masuk ke rumahnya, memadikannya lalu memberinya pakaian terbaik untuknya. Tak hanya itu, Rasulullah bertanya, maukah kamu jika sejak sekarang ini Muhammad sebagai ayah angkatmu, Fathimah sebagai bibimu dan Ali bin Abi Thalib sebagai pamanmu? Seorang bocah yang tadinya bermuram durja kini mendadak bahagia. Yang tadinya kusam dan tak terurus kini wangi dan berpakaian rapi. Itulah yang dilakukan Rasulullah pada saat idul fitri.

Al-Qur’an telah merekam secara nyata bagaimana besarnya kasih sayang Rasulullah kepada sesama. Allah SWT berfirman :

﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (At-Taubah: 128)

Saat ini kita telah berada di tempat ini, apakah sebelum berangkat tadi kita telah memastikan bahwa tidak seorang bocahpun di sekitar kita yang menangis gara-gara tidak bisa merayakan idul fitri pada hari ini?

Apakah kita sudah memastikan bahwa tidak ada fakir miskin di sekitar kita yang di pagi ini belum makan karena tidak memiliki simpanan beras untuk dimasak?

Apakah kita telah memastikan bahwa semua orang di sekitar kita telah memiliki baju yang layak untuk pesta dan merayakan hari raya?

Wahai saudara-saudara yang saat ini telah melaksanakan shalat Id, Allah mengancam kita yang melaksanakan shalat tapi kurang peduli terhadap sesama dengan neraka wail. Orang-orang seperti itu bahkan disebut sebut sebagai pendusta agama. Bukankah Allah telah berfirman:

﴿فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (۵) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (٧)﴾.

 

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong) dengan barang berguna)”. (Al-Ma’un 4 – 7)

Ancaman ayat di atas, bukan ditujukan kepada orang-orang kafir, orang-orang munafiq, dan orang-orang musyrik. Ayat di atas ditujukan secara jelas kepada kita yang melaksanakan shalat tapi kurang peduli terhadap nasib anak yatim, fakir miskin, kaum dhu’afa dan mustadh’afin.

Apakah kita telah memiliki kepedulian terhadap para janda tua di lingkungan sekitar kita? Jangan-jangan mereka sedang sakit saat ini. Jangan-jangan mereka belum makan di hari ini. Jangan-jangan mereka belum memiliki pakaian yang layak untuk menyambut hari raya idul fitri. Kita semua diingatkan oleh Rasulullah saw dengan sabdanya:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari)

 

Tanggung jawab pemimpin itu tidak mudah dan sederhana. Pemimpin harus bertanggung jawab lahir batin atas kepemimpinannya. Sandangnya dicukupi, papannya dipenuhi, pangannya dicukupi. Keamanannya terjamin, tidak ada terror, tidak ada ancaman, tidak ada yang menukut-nakuti. Aman, nyaman, dan damai. Itulah tugas pemimpin.
Jika belum punya kesanggupan untuk mewujudkan masyarakat yang aman, nyaman, dan damai, jangan coba-coba NYALEG, jangan coba-coba mengikuti kontestasi PILKADA, PILGUB, dan PILPRES. Jabatan itu amanah.

Pertanggung jawabannya sangat berat di dunia dan di akherat. Betapa banyak bupati yang akhirnya masuk penjara? Betapa banyak gubernur yang masuk bui? Betapa banyak pejabat yang di penghujung hidupnya justru terhina dan ternista?

Sebaliknya, kepada para pemimpin dan calon pemimpin Islam yang amanah dan mempunyai kesanggupan professional untuk memimpin secara adil, jangan ngumpet. Jangan berdiam diri. Jangan lari dari tanggung jawab kepemimpinan. Anda ditunggu. Umat telah menantikan kehadiran dan kiprah Anda.

Kita harus mendorong pemimpin muslim yang amanah untuk tampil memipin Indonesia agar lebih adil dan sejahtera. Jangan biarkan orang-orang yang korup, yang tidak beriman, yang kafir memimpin negeri muslim terbesar ini. Betapa banyak pemimpin muslim yang bersih, yang tidak korupsi, yang terampil dan mumpuni untuk memimpin Indonesia yang kita cintai?

Silahkan mencalonkan diri menjadi pemimpin jika kita sendiri telah yakin dapat berbuat amanah dan adil kepada rakyat. Allah telah menjamin masuk surga para pemimpin yang adil. Rasulullah saw bersabda bahwa ada tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah. Salah satu golongan tersebut adalah IMAMUN ADILUN, pemimpin yang adil.

Tak hanya itu, pemimpin yang adil itu do’anya makbul, diterima oleh Allah swt. Nabi saw bersabda:

ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ” رواه الترمذي

 

“Tiga gologan yang do’anya tidak tertolak, yaitu pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika berbuka, dan orang yang didzalimi”. (HR. Tirmidzi)

 

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar

Pemimpin yang adil tentu tidak akan membiarkan satu orang menguasai hingga 5 juta hektar tanah, sementara jutaan rakyat tidak memiliki sejengkal tanahpun untuk berteduh dan mendirikan rumah.

Pemimpin yang adil tentu tidak akan melegalisasi penggusuran rumah-rumah rakyat miskin, apapun alasannya kecuali untuk mensejahterakannya.

Pemimpin yang adil tentu saja tidak membiarkan sekelompok orang menguasai property hingga 90 %, kebun sawit hingga 80%, Real Estate 85%, pertambangan 65%, industry makanan 90%, perbankan swasta 99%, industry obat-obatan 80%, rumah sakit swasta 70 %, dan pabrik kertas hingga 90%. Rakyat boleh bertanya, dimana nilai keadilannya? Bukankah Pancasila kita menyatakan “KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA”? Siapa yang dimaksud rakyat Indonesia itu? Mayoritas mereka adalah kaum muslim.

Problem Indonesia saat ini adalah kesenjangan sosial yang semakin menganga. Rasio ini kita sangat memprihatinkan. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin terlunta. Bayangkan! 2 persen orang kaya menguasai 80 persen asset bangsa. Inilah akar persoalan bangsa kita. Monopoli, oligopoly, dan kekayaan yang memusat hanya pada segelintir orang kaya itu sangat membahayakan. Suatu saat bisa menjadi bara di atas sekam. Jika kita cinta NKRI, mari kita atasi masalah ini.

Tentang keadilan distribusi aset ini Allah SWT memberi bimbingan:

﴿كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

“Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”. (Al-Hasy: 7)

Peringatan Allah di atas sungguh sangat keras. Sebagai orang yang beriman, peringatan seperti itu tidak boleh diabaikan. Terutama kepada para pemimpin, lalukan langkah-langkah nyata untuk mendistribusikan kekayaan bangsa ini secara adil dan merata.

Akhirnya, bangsa Indonesia, khususnya kaum muslimin harus sadar bahwa memilih pemimpin itu wajib. Jika umat Islam tidak peduli terhadap kepemimpinan negara, maka jangan kaget jika para pemimpin negara yang terpilih nanti tidak peduli terhadap Islam. Bisa jadi para pemimpin itu mengaku beragama Islam, tapi mereka menolak syariat islam. Bisa jadi mereka kerap mendatangi ulama melalui acara silaturrahim dan anjangsana, tapi sesungguhnya mereka mempunyai agenda lain.

Ritual ibadah itu penting, menjadi sholeh secara individual dan sosial itu penting, tapi peduali terhadap proses kepemimpinan politik itu juga tidak kalah penting. Jangan sampai orang-orang sholih hanya puas menjadi penonton, sementara pemainnya terdiri dari orang-orang yang tidak kapabel, tidak layak dan tidak pantas. Umat Islam adalah pemilik sah negeri ini. Indonesia diwariskan oleh para ulama yang telah berjuang memperebutkan kemerdekaan negeri ini. Atas nama jihad fi sabilillah, para pendiri bangsa ini.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar. 

Wahai para orangtua, ibu dan bapak sekalian

Allah telah mengamanatkan putra dan putri kepada kita, marilah kita mendidik mereka dengan sungguh-sungguh dan benar. Waktu kita tidak banyak. Anak-anak kita akan segera beranjak dewasa, apa yang telah kita berikan kepada mereka. Allah akan meminta pertanggung jawaban kita di akherat.

Pastikan bahwa anak-anak kalian telah memiliki aqidah yang benar, menjalankan syari’at secara tepat, dan berkhlaq mulia serta luhur. Pastikan bahwa anak-anak kalian telah pandai membaca al-Qur’an, kalau memungkinkan, jadikan mereka sebagai penghafal dan penjaga Qur’an.

«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»

“Sebaik baik kalian adalah yangmempelajari dan mengajarkan al-Qur’an”. (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

Jangan ragu menegur dan mengingatkan dengan keras apabila mendapati anak-anak kita lalai menjalankan shalat. Ingat! Bahwa tarkush-shalah (meninggalkan shalat) itu dosa besar. Jangan sampai anak-anak kita tercatat sebagai penghancur tiang agama.

﴿فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا﴾

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menmui kesulitan”. (Maryam: 59)

Untuk itu, jangan pernah bosan mengingatkan anak-anak kita, bahkan yang sudah dewasa untuk menjalankan shalat.
﴿وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى﴾

“Dan perintahkan kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Thaha: 132)

Selain bekal agama yang kuat sebagai pondasi hidup, ajari anak-anak kita menjadi calon-calon pemimpin. Ibu dan bapak adalah madrasah (sekolah) pemimpin yang pertama. Ajari mereka zuhud sehingga kelak tidak rakus terhadap dunia saat menjadi pemimpin. Ajari mereka tawadhu agar mereka lebih santun kepada orang lain, terutama rakyat kecil dan lemah. Ajari mereka untuk berani, berani mengambil tanggung jawab dan berani menanngung risiko. Bekali mereka sikap sidiq (jujur) dan amanah. Jadikan anak-anak kita sebagai calon-calon pemimpin Islam yang hebat, yang siap memimpin Indonesia menuju ridha Allah swt.

Allahu Akbar Walillahil Hamd
Ayyuhasy-syabab, wahai para pemuda

Kalian adalah calon-calon pemimpin masa depan. Tak lama lagi kalian akan menggantikan generasi tua. Bersiaplah untuk memimpin Indonesia lebih maju, lebih modern, lebih beradab, dan lebih sesuai dengan syari’at Islam.
Belajarlah sungguh sungguh, karena hanya orang yang berilmu saja yang mendapatkan amanah untuk memimpin bangsa ini. Belajarlah agama baik-baik karena hanya agama saja yang bisa menuntun kalian ke jalan yang benar. Belajarlah sains dan tehnologi karena berbagai kemudahan hidup dan kesejahteraan serta kemajuan hanya bisa dicapai dengannya. Pelajari berbagai keterampilan hidup karena kalian akan menghadapi tantangan hidup dan persaingan global yang lebih berat dan lebih keras.

Singsingkan lengan, jangan bermalas-malasan. Tinggalkan segala bentuk kelalain dan permainan yang tidak perlu dan melenakan. Jangan terbuai dengan tontonan televisi. Jangan hanyut dengan gadget dan media social. Waktumu sangat sempit untuk mempersiapkan diri. Pepatah arab mengatakan:

شُبَّانُ الْيَوْم، رِجَالُ الْغَد
Hari ini kalian masih remaja. Besok kalian akan dewasa

Jangan biarkan kepemimpinan Indonesia kepada pemuda dan remaja yang tidak mengenal agama. Jadilah kalian pemimpin dan pembela Islam di negeri yang tercinta. Bekali diri kalian dengan al-Qur’an sebagai pedoman dan penunjuk jalan. Teladani Rasulullah sebagai pemimpin yang sukses. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Satu hal lagi, jika kalian ingin menjadi pemimpin, jangan sekali-kali berbuat sesuatu yang terhina, melanggar hukum dan etika. Indonesia membutuhkan pemimpin yang bersih dan memiliki track record yang positif.

Subhanallah Walhamdu lillah Walaa Illaha Illallah Allahu Akbar

Ayyuhaz-Zu’ama wal umara, wahai para pemimpin dan tokoh masyarakat, terutama pemimpin muslim
Mari kita jaga marwah dan harga diri sebagai muslim. Jangan pernah sedikitpun melakukan korupsi. Perbuatan itu hina dan merugikan rakyat banyak. Selain itu, delik tersebut akan dijadikan sebagai senjata untuk membungkam kita untuk amar ma’ruf nahi munkar. Perbuatan tersebut akan menjadi alat yang paling efektif untuk menyandera kita.
Sebagai pemimpin, kita harus menunjukkan keberpihakan yang nyata kepada Islam dan kepada kebenaran. Belalah kaum dhu’afa dan mustadh’afin karena sesungguhnya kekuatan kita ada pada mereka. Jangan ikut-ikutan menggusur mereka. Carikan solusi dan jalan keluar jika mereka menghadapi masalah.

Akhirnya, bumi Indonesia yang subur, gemah ripa loh jinawih ini adalah tanah yang diwariskan para ulama dan leluhur kita. Kita harus pandai-pandai merawat dan memajukannya. Kita syukuri kemerdekaan Indonesia dengan mengisinya dengan membangun dan mensejahterakannya. Sudah saatnya orang-orang sholih memimpin Indenesia.
﴿وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ﴾
“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfudz, bahwa bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang shalih”. (Al-Anbiyaa: 105)
Ini bukan klaim. Ini bukan anti kebhinekaan. Ini bukan menolak pluralitas. Ini realitas. Apakah umat Islam tidak boleh memperjuangkan hak kemerdekaan yang telah dimonopoli secara nyata oleh segelintir orang? Apakah umat islam tidak boleh menuntut keadilan?
Pada akhir khutbah ini, kami mengajak kita semua untuk menundundukkan wajah dan mengangkat tangan untuk berdo’a dan bermohon kepada Allah swt. Semoga do’a kita, ibadah kita, shalat kita, puasa kita, dan zakat fitrah yang baru saja kita tunaikan diterima Allah swt.
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين برحمتك يا أرحم الراحمين …
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ…
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ…
Ya Allah ya Tuhan kami, Muliakanlah Islam dan Kaum Muslimin, Hancurkan dan hinakan orang-orang kafir dan musyrik, musuh-Mu dan musuh agama-Mu…
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتَضَرُّعَنَا وجميع أعمالنا
Ya Allah ya Tuhan kami, Terimalah shalat kami, puasa kami, ruku kami, sujud kami, kerendahan kami, dan segala amal ibadah kami,
اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ…
Ya Allah… baikanlah kesudahan segala urusan kami, hindarilah kami dari kehinaan dunia dan siksa akhirat…
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ…
Ya Allah perbaiki dan rukunkanlah semua Pemimpin Umat Islam dan Kaum Muslimin, tinggikanlah kalimat-Mu sampai hari kiamat…
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ…
Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi…
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ…
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين
واَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وبركاته

sumber DPP Hidayatullah,, hidayatullah dot com