Kenapa Di Amerika Serikat Sering Banget Terjadi Penembakkan Masal?

Pertanyaan ini muncul kembali di benak banyak orang setelah terjadinya penembakkan masal di acara festival musik contry Route 91 di Las Vegas oleh aki-aki usia 64 bernama Stephen Paddock hari Minggu 1/10/2017 yang lalu. 

Isu persenjata apian memang menjadi santapan publik AS mengingat seringnya terjadi peristiwa penembakkan masal. Penembakkan masal didefinisikan sebagai satu insiden penembakan tunggal yang membunuh atau melukai empat orang atau lebih, termasuk penyerang.

Komparasi Kasus Penembakkan di AS dan negara lainnya

Mengutip laporan CNN tahun 2016,   Adam Lankford, profesor kriminologi di Universitas Alabama, melakukan kajian komparatif berbagai kasus penembakkan di AS dan di beberapa negara lainnya.

Di Amerika Serikat, orang punya kesempatan lebih besar untuk mati konyol dalam penembakan massal saat mereka bekerja atau di sekolah. Di beberapa negara barat, insiden ini biasanya terjadi di dekat instalasi militer.

Yang unik dan menarik, di lebih dari setengah kasus penembakkan di Amerika, penembak memiliki lebih dari satu senjata api. Dalam insiden penembakkan di berbagai belahan dunia, penembak biasanya hanya memiliki satu senapan.

Dan di Amerika Serikat, ada 6,87 korban rata-rata per insiden. Di 171 negara lain yang dipelajari Lankford, rata-rata adalah 8,8 korban per insiden.

Lankford mengatakan bahwa ada lebih sedikit orang yang terbunuh dalam penembakan masal ini di Amerika Serikat karena polisi Amerika secara rutin melatih bagaimana menghadapi kejadian semacam ini. Di negara lain, polisi lebih lambat merespon dan lebih cenderung tidak siap saat merespon peristiwa yang terjadi.

Kebanyakan Pelakunya Sakit Jiwa

Menurut data penembakkan masal di AS, banyak penembak di Amerika Serikat mengidap sakit jiwa. Namun hasil penelitian lain menunjukkan bahwa perkiraan jumlah kasus penembakkan masal karena penyakit jiwa belum meningkat secara signifikan, sementara jumlah penembakan massal di AS telah melejit dengan cepat.

Serangan penembakkan masal meningkat tiga kali lipat dari tahun 2011 sampai 2014, menurut sebuah analisis oleh Harvard School of Public Health dan Northeastern University.

Penelitian Harvard menunjukkan bahwa serangan kepada masyarakat pada periode itu rata-rata terjadi setiap 64 hari. Sedangkan, selama 29 tahun sebelumnya, rata-rata setiap 200 hari. Sebaliknya, selama dua dekade terakhir, tingkat pembunuhan dan tingkat kekerasan dengan senjata api di AS secara keseluruhan telah menurun secara signifikan.

Fenomena Copycat Seperti Penyakit Menular

Ada hal yang menarik, beberapa periset percaya bahwa pembunuhan massal ini dapat menular: satu pembunuhan atau penembakan akan meningkatkan kemungkinan bahwa dalam waktu dua mingguan peristiwa yang serupa akan terjadi lagi di tempat lain. Ini seperti sebuah “infeksi” yang berlangsung sekitar 13 hari, ungkap suatu penelitian yang menegaskan teori copycat (peniru) diatas.

Fenomena peniru lebih akut di Amerika Serikat karena senjata lebih mudah diakses daripada di negara lain. “(Akses ke) senjata api adalah prediktor signifikan dari insiden ini,” kata Lankford.

Pengetatan Aturan Kepemilikan Senjata

Amerika Serikat memiliki lebih banyak senjata daripada negara lain di dunia. Ada sekitar 270 juta sampai 310 juta senjata api yang beredar di Amerika Serikat. Dengan populasi penduduk Amerika 319 juta, itu artinya setiap warga AS punya satu pucuk senjata api.

Sedikitnya lebih dari sepertiga orang Amerika mengatakan salah seorang di rumah mereka memiliki senjata, ungkap Pew Research Center. Negara dengan jumlah senjata tertinggi berikutnya adalah India, dengan 46 juta senjata api menyebar di populasi yang jauh lebih besar dari 1,25 miliar. Meskipun demikian, India tidak termasuk lima besar di antara negara-negara dengan penembakan massal terbanyak.

Angka-angka kepemilikan senjata diatas menunjukkan bahwa undang-undang senjata yang lebih ketat akan dapat membuat perbedaan. Lankford menunjuk Australia sebagai contohnya. Negara ini punya statistik hanya empat penembakan massal antara tahun 1987 dan 1996. Setelah terjadinya insiden penembakkan di kisaran tahun tersebut, opini publik Australia beralih melawan kepemilikan senjata dan akhirnya parlemen Australia mengeluarkan undang-undang senjata yang lebih ketat. Sejak saat itu, belum ada lagi insiden penembakkan masal di Australia.

Namun, tidak ada kemauan politik yang sama di Amerika Serikat. Dengan satu pengecualian, jajak pendapat Pew Research yang diambil setelah banyak penembakan masal profil tinggi terjadi menunjukkan bahwa orang Amerika lebih suka memilih kepemilikan senjata dibanding memperketatnya. Jadi ini dilematis.

Sampai terjadi peristiwa penembakkan di Las Vegas, Presiden Donal Trump nampaknya masih keukeuh untuk tetap memberlakukan UU persenjataan sesuai amandemen kedua AS.

Donald Trump menggambarkan pembantaian tersebut sebagai “tindakan kejahatan murni” namun mengesampingkan seruan untuk mengatur undang-undang senjata yang lebih ketat. Juru bicara presiden kemudian mengatakan Mr Trump berdiri dengan Amandemen Kedua yang menjamin “hak untuk menanggung senjata”.

Nah, jelaskan kenapa banyak penembakkan masal di AS.

@tmo ChNN, sumber utama laporan CNN