Kejujuran Ilmuwan Sejak Socrates hingga Dwi Hartanto

Kasus Dwi Hartanto akhirnya menohok kalangan ilmuwan yang sebenarnya harus lekat dengan kejujuran sebagai suatu adab dan etika. Namun, ketika kejujuran itu tidak ada maka malapetakalah yang akhirnya akan terjadi. Karena itu ilmuwan bagaimana pun juga harus menjunjung kejujuran itu sendiri baik kejujuran ilmiah, pengakuannya ataupun kejujuran dalam arti umum sebagai suatu adab dan etika moral yang harus dijunjung tinggi.

Dulu, pertama kali saya mencermati istilah jujur adalah dari kisah Nabi Muhammad SAW sebagai seorang yang dijuluki Al Amin, yang dapat dipercaya alias jujur. Dalam KBBI Kejujuran berasal dari kata dasar ”jujur”. Menurut KBBI Online ”jujur” bermakna: (1) lurus hati; tidak berbohong; (2) tidak curang; (3) tulus; ikhlas.

Kejujuran itu tidak berbohong, tidak menyembunyikan, tidak meniru tanpa izin, tidak membajak, dan tentu saja tidak mengklaim apa yang tidak dilakukannya atau tidak mempercantik apa yang dikerjakannya. Zaman sekarang istilahnya – pencitraan – yang mempunyai dampak besar di era media sosial yang terkoneksi kemana-mana. Makanya, saya kadang heran masih ada orang yang berani bohong atau mengklaim sesuatu yang tidak dikerjakannya. Dan kebohongan ini menimpa siapa saja dari anak-anak sampai orang dewasa, dari orang biasa sampai ilmuwan bahkan mungkin presiden.

Orang yang menjunjung tinggi kejujuran biasanya berani mati untuk memegang kejujurannya itu. Antik kan, misalnya Nabi Muhammad SAW sendiri yang tetap memegang kejujuran sebagai adab utama Islam meskipun ancaman dari kaumnya sangat keras. Ketika akhirnya ajarannya menyebar dan dianut oleh milyaran penduduk Planet Bumi maka kejujuran tetap menjadi sokoguru ajaran Islam. Di zaman sebelum Nabi Muhammad SAW, ada Socrates sang filsuf yang rela mati minum racun karena dipaksa untuk menarik semua ajarannya oleh kalangan elit Yunani masa itu. Lantas setelah zaman Nabi kita pun tau Galileo Galilei yang membuat sejarah intelektual Eropa semakin cemerlang karena ia  berani dihukum mati oleh kaum gereja karena kejujuran dan usahanya dalam mempertahankan kebenaran bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.

Socrates, independent

Kebenaran yang disampaikan oleh Galileo Galilei ini bertentangan dengan dogma agama Kristen yang mengatakan bahwa matahari lah yang berputar mengelilingi bumi. Namun dengan kejujuran dan kebenaran yang ia pertahankan tersebut membuat namanya harum hingga sekarang, ia pun menjadi ikon ilmuwan sejati lintas agama.

Image processed by CodeCarvings Piczard ### FREE Community Edition ### on 2016-02-10 23:33:52Z | http://piczard.com | http://codecarvings.com

Dan sekarang diera digital dengan ekonomi digital “Trust” , dapat dipercaya alias jujur juga memegang peran penting agar suatu bisnis online bisa sukses. Lihat kan, sebenarnya kejujuran atau apapun istilahnya telah menjadi wacana fundamental umat manusia sebagai soko guru adab yang terpuji baik sebagai adab personal maupun adab komunal, adab masyarakat, adab negara, dan adab Umat Manusia bahkan mungkin sealam semesta sana dimana alien-alien juga mempunyai prinsip-prinsip kehidupannya sendiri namun jelas kejujuran menjadi landasan utamanya.

So, betapa memprihatinkan kalau di era milenial dengan generasi milenialnya yang terkoneksi dan hiruk pikuk ini kejujuran seolah cuma pemanis bibir, cuma ungkapan imajinatif yang tidak nyata padahal suatu adab yang nyata dan harus dinyatakan.

Mau tak mau kejujuran mutlak harus dimiliki oleh seorang ilmuwan sejati atau akademisi yang bergelut dalam dunia keilmuan sekalipun nyawa taruhannya. Tak jarang sesuatu yang merupakan kebenaran bagi seorang ilmuwan menjadi hal yang harus ia pertahankan dengan sekuat tenaga karena kebenaran tersebut, kejujurannya, begitu erat hubungannya dengan tanggung jawab secara moral. Kejujuran, kebenaran, ilmu dan ilmuwan sejati menjadi satu kesatuan yang jika salah satunya bermasalah maka akan mempengaruhi kredibilitas yang lain.

Dalam konteks akademis, kejujuran menjadi suatu hal yang bersifat academically required. Dalam menulis mahasiswa atau civitas akademika lainnya diharapkan dapat mengeluarkan ide-ide sendiri, jika harus mengutip maka ia wajib mengikuti prosedur pengutipan yang dibenarkan secara akademik. Tanpa kejujuran yang diterapkan dalam prosedur pengutipan, maka karya tulis atau hasil risetnyanya bernilai tak lebih dari sebuah kebohongan, fotokopi dari hasil karya orang lain, atau pun tindakan tidak terpuji lainnya.

Di Indonesia, Kode Etik Peneliti (KEP) sendiri telah diterbitkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dalam Peraturan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia nomor 06/e/2013, dimana dinyatakan bahwa peneliti dalam melakukan kegiatannya berpegang pada nilai-nilai integritas, kejujuran, dan keadilan.

Bagi Umat Islam, kejujuran sudah menjadi tradisi dan adab sejak zaman nabi sampai akhirnya kejujuran itu sendiri menjadi kongkrit dengan tolok ukur yang nyata ketika timbangan diciptakan oleh ilmuwan muslim. Didalam al-Qur’an sebagai rujukan, kejujuran bertebaran di beberapa ayat inspiratif sebagai adab menuju ketakwaan .

by myQadmin, berbagai sumber