Jurus “KILL THE MESSENGER” Akan Sia-sia

“Kill The Messenger” adalah judul sebuah film yang rilis tahun 2014 silam dengan tokoh utama Gerry Web yang diperankan Jeremy Renner. Web, seorang wartawan di media cetak San Jose Mercury News yang membongkar kartel narkoba lewat artikel investigasinya yang berjudul “Dark Aliance”.Singkat cerita, pihak-pihak yang terganggu dengan fakta yang diungkap Web pun berusaha menyudutkan Web. Caranya bukan dengan membantah “pesan” yang ditulis Web melainkan dengan “membunuh” karakter Web sebagai “pengantar pesan”, mengungkap aib-aib lama Web ke publik hingga banyak orang (termasuk perusahaan tempat web bekerja) meragukan kebenaran artikel yang ditulis web dengan sendirinya.

Tanpa upaya pencarian fakta yang menyentuh substansi masalah kartel narkoba yang diungkap web, publik dengan mudah percaya “Dark Aliance” hanyalah karangan Web belaka bukan sebuah jurnalisme investigasi.

Belakangan ini, istilah “Kill The Messenger” menjadi lumayan populer, khususnya di kehidupan politik kita. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan upaya-upaya konspiratif yang “mirip” dengan apa yang dialami tokoh Gerry Web.

Jurus “Kill The Messenger” banyak dipraktikkan sebagai jurus pamungkas guna mencapai tujuan politis tertentu. Jurus ini pula yang kini rupanya sedang dilancarkan guna menyudahi gelombang persatuan ummat Islam paska aksi bela Islam berjilid-jilid sejak November lalu.

Gerakan persatuan ummat Islam Indonesia sudah terlanjur menjadi gelombang, menghadangnya membutuhkan energi ekstra besar. Upaya-upaya “Kill The Messenger” dengan membunuh karakter tokoh-tokoh gerakan ini akan sia-sia. Karena dalam gerakan berbasis ideologi, figur pemimpin bukan segalanya.

Ketika HRS disibukkan dengan beberapa kasus hukum, muncul Ustadz Bachtiar Nasir memimpin GNPF MUI. Ketika Ustadz Bachtiar Nasir dibidik soal aliran dana, dikait-kaitkan dengan ISIS di Timur Tengah muncul Ustadz Alkhotot mengatasnamakan FUI. Begitu Ustadz Alkhotot ditangkap atas tuduhan makar, muncul Presidium Alumni 212 dengan Pak Amien Rais sebagai tokoh sentralnya. Ketika Pak Amien Rais diserang isu korupsi, maka masih ada puluhan bahkan ratusan tokoh yang siap tampil kedepan.

Anggaplah misalkan, pada akhirnya HRS dijatuhi vonis dan dihukum atas kasus pornografi, apakah gelombang persatuan ini akan anti klimaks? Tentu tidak.

Apa yang menimpa HRS tersebut hanya akan menjadi semacam seleksi alami pada tubuh gerakan. Mereka yang bergabung bersama gelombang karena figuritas HRS semata akan tenggelam. Sementara mereka yang tulus niatnya akan terus melaju, bahkan semakin menerjang.

Jika operasi _Kill The Messenger_ efektif, tentu akan surut gelombang besar ini sejak Ustadz Bahtiar Nasir di kriminalisasi pertama kali. Dituduh menyelewengkan dana ummat dan terlibat ISIS ialah dua hal yang amat serius. Isu penyelewengan dana jelas menyasar pembunuhan integritas pimpinan dimata pasukannya.

Tuduhan berafiliasi dengan ISIS lebih serius lagi, sebagaimana kita ketahui mayoritas ummat Islam di Indonesia menolak ISIS. Terlebih, Kita harus akui bahwa gelombang paling besar berasal dari basis massa tradisionalis. Andai stigma terhadap Ustad Bachtiar Nasir terjadi sebelum gelombang besar ini, jangankan dilabeli ISIS, dilabeli wahabi saja pasti sudah ramai.

Fenomena ini unik, ummat sudah tidak peduli lagi Siapa yang memimpin gelombang besar ini, dari kelompok ummat yang mana Ia berasal. Siapapun yang tampil memimpin, maka yang terucap hanyalah “Nahnu Nantadzir Alamr Ya Qiyadi”, Kami siap menyambut perintah wahai pemimpin Kami.

Maka kepada pihak-pihak yang berupaya menghadang gelombang besar persatuan ummat islam ini, kalian telah gagal. Sudah saatnya menyudahi kesalahan Kalian. Bila tidak, maka bersiaplah mengalami kerugian yang lebih besar. Sumber daya Kalian akan terkuras habis dan akhirnya berujung pada kesia-siaan belaka.

Sulaeman Saleh
Lubang Buaya, 12 Ramadhan 1438 H