Istikamah Bukan Cari Karomah

Di kehidupan sehari-hari keistikamahan akan tercermin dalam semua aktivitas baik aktivitas yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Karena itu, seorang Muslim yang istikamah adalah seorang muslim yang mempunyai ketekunan untuk menjalankan apa yang saat itu menjadi tanggung jawabnya secara profesional dan tanggung jawab terhadap dirinya, Tuhannya maupun terhadap orang lain. Menurut KBBI, istikamah adalah sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Menurut Syeikh Ali ad-Daqqaq,

“Istikamah adalah derajat yang menjadikan urusan-urusan seseorang menjadi baik dan sempurna, dan memungkinkannya untuk mencapai manfaat-manfaat secara tetap dan teratur. Upaya dan perjuangan orang yang tidak teguh hati akan sia-sia”

Dari pengertian demikian, maka sikap dan keinginan yang terburu-buru dan serba instan sebenarnya tidak akan membawa seseorang kepada penghambaan kepada Allah SWT. Dalam keseharian kita saat ini, konsumerisme membawa kepada keserbainstanan sehingga kita seringkali tidak hati-hati dan tidak memiliki keteguhan sikap, daya juang, kejujuran, kesabaran, dan rasa sukur atas berbagai karunia yang telah Allah berikan kepada kita, baik itu yang berupa rezeki materi maupun yang immaterial.

Tanpa keistikamahan memang manusia cenderung akan bersikap lalai, lupa diri, sembrono, dan mau enak sendiri, sehingga kejujuran, sukur dan sabar pun dilupakan. Kita pun mungkin sering mendengar betapa semua masalah yang dihadapi negeri ini seolah ingin diselesaikan dalam sekejap mata dalam satu kali gebrakan. Seolah kita lupa bahwa Sangkuriang Sakti atau Bandung Bondowoso cuma sekedar metafora dari karakter suku-suku bangsa Nusantara yang ingin serba instan telah menjadi legenda masa lalu, yang harus dilupakan atau karakter yang harus diubah lebih manusiawi dan membumi.

Kini yang diperlukan adalah istikamah berupa sikap teguh, konsisten, dan ketekunan untuk melaksanakan atau menyelesaikan semua masalah dengan daya pikir yang lebih terkonsentrasi, mempunyai metode yang jelas, kejujuran, keikhlasan, dan kesabaran dalam melaksanakannya. Tanpa sikap yang disertai dengan karakter istikamah maka dalam setiap keadaan kita tidak akan pernah meningkat dari satu tahapan ke tahapan lainnya. Dalam pengertian keseharian maka kita tidak pernah maju karena selalu bergantung kepada kemampuan orang lain. Tanpa keistikamahan kita bisa menjadi konsumeris atau terpaku pada sosok karismatis yang dianggapnya menjadi tumpuan segala hal dan mengidolakan secara berlebihan. Akhirnya kalau diulas lebih jauh akan memunculkan kebiasaan fanatisme buta dan syirik karena mempertuhankan sosok idola itu. Sedangkan dalam pengertian laku lampah seorang murid penempuh jalan ruhani maka tanpa keistikamahan suluknya tidak akan kokoh bahkan rapuh.

Tanpa keistikamahan, manusia seperti wanita yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali (QS 16:92) :

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.

Menurut Imam al-Qusyairy, keistikamahan dalam laku suluk terdapat di semua tahapan. Namun, salah satu syarat perlu dalam menempuh awal suluk adalah memenuhi persyaratan-persyaratan istikamah sejak awal atau sejak niat dinyatakan. Jadi  istikamah merupakan niat awal yang menjadi pangkal perjalanan ruhani.

Tanda istikamah bagi mereka yang menempuh jalan suluk adalah amaliah lahir mereka tidak tercemari oleh kesenjangan. Maksudnya, amaliah yang muncul tidak angin-anginan tetapi merupakan suatu sikap yang dipengaruhi kondisi ruhaniah istikamah sehingga menjadi suatu akhlak dan perilaku sejati yang konsisten, meskipun dilakukan tahap demi tahap, sedikit demi sedikit.

Peribahasa yang tepat untuk mencerminkan sikap istikamah dalam tahap ini adalah “sedikit demi sedikit pada akhirnya menjadi bukit”. Bagi mereka yang berada di tahap pertengahan istikamah berarti tidak ada kata berhenti. Sedangkan tanda istikamah bagi mereka yang berada dalam tahap akhir adalah tidak ada tabir atau hijab yang melindungi mereka dari kelanjutan wusulnya. Jalan seolah terhampar begitu saja, kita tinggal menjalaninya dengan keikhlasan. Abu Ali al-Juzajany berkata, “Jadilah pemilik istikamah, bukan pencari karamah. Sebab nafsumu masih berkutat mencari karamah, padahal Allah SWT menuntutmu istikamah”.

Istikamah sebagai suatu adab pelaku jalan ruhani akan melahirkan ketetapan akan karamah. Allah SWT berfirman menegaskan :

“Dan bahwasanya: jika mereka tetap berjalan lurus (istikamah) di atas thariqat itu, benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air berlimpah (rezeki yang banyak).” (QS 72:16)

Allah SWT tidak berfirman “Kami akan membiarkan mereka minum” melainkan “Kami akan memberi minum kepada mereka air berlimpah (rezeki berupa pengetahuan dan pemahaman tentang kehidupan dan rahasianya yang jernih dan menyegarkan)” yang menunjukkan keabadiannya.

Dari Bab 5  e-book, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi, rev 13/5/2017