Istidraj

Kamus Besar Bahasa Indonesia, kbbi.web.id, ternyata sudah memasukkan kata istidraj sebagai Bahasa Indonesia baku. Menurut KBBI :

istidraj/is·tid·raj/ Ar n hal atau keadaan luar biasa yang diberikan Allah Swt. kepada orang kafir sebagai ujian sehingga mereka takabur dan lupa diri kepada Tuhan, seperti Firaun dan Karun.

Hal luar biasa ini bisa macam-macam mulai dari kesenangan dengan harta berlimpah, kekuasaan, kemajuan teknologi, maupun jenis-jenis kenikmatan yang menurut sebagian mungkin dikiranya anugerah.

Asal Kata

Istidraj secara bahasa diambil dari kata da-ra-ja (Arab: درج ) yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya (atau derajat dalam Bahasa Indonesia). Sementara istidraj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai ‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung. Allah biarkan orang ini dan tidak disegerakan adzabnya. Allah berfirman,

Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44)  (Al-Mu’jam Al-Lughah Al-Arabiyah, kata: da-ra-ja).

Semua tindakan maksiat yang Allah balas dengan nikmat, dan Allah membuat dia lupa untuk beristighfar, sehingga dia semakin dekat dengan adzab sedikit demi sedikit, selanjutnya Allah berikan semua hukumannya, itulah istidraj.

Beberapa rujukan lainnya mengenai istidraj ini antara lain tertulis dalam Tafsir Al Muyassar dalam ayat Az-Zumar 49 ini:

Tetapi kebanyakan manusia –karena kebodohan dan buruknya prasangka mereka- tidak mengetahui bahwa hal itu merupakan istidraj dari Allah dan ujian bagi mereka agar mensyukuri nikmat. (Tafsir Al Muyassar, 1/464)

Hal ini juga dikabarkan oleh hadits Nabi dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi bersabda :

Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba berupa nikmat dunia yang disukainya padahal dia suka bermaksiat, maka itu hanyalah istidraj belaka, lalu Rasulullah membaca: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al An’am: 44). (HR. Ahmad No. 17311. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mentatakan: hasan. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 17311)

Juga dari  ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).

Bermaksiat Terang-terangan Maupun Sembunyi

Jadi, kalau menilik ayat Al Qur’an dan hadis Nabi tentang istidraj, umumnya istilah istidraj ditujukan kepada orang atau kaum yang yang berada dalam keadaan luar biasa misalnya mendapatkan limpahan rezeki namun ia adalah orang yang gemar maksiat. Baik terang-terangan bermaksiat maupun sembunyi-sembunyi. Jadi, istidraj juga berlaku bagi orang-orang munafik yang terlihat soleh namun ternyata diam-diam suka bermaksiat.

Orang yang terkena istidraj sering tidak menyadari kalau ia berada dalam kondisi seperti itu karena orang tersebut berada dalam kondisi tertutup oleh kenyataan bahwa  Allah Maha Mengetahui. Makanya, sering muncul kontradiksi antara apa yang dilihat dan apa yang tersembunyi dan akan nampak nyata ketika Allah membuka hijab kehinaannya itu. Para koruptor juga umumnya terkena penyakit istidraj, demikian juga para penempuh jalan kesyirikan –lewat ritual pesugihan atau sesembahan atau sakti-saktian – misalnya karena ia ingin cepat kaya, dan benar ia cepat kaya.

Mereka tidak menyadari kalau kemudahannya mendapatkan limpahan kekayaan seperti itu bukanlah suatu tanda kemuliaan, namun itu adalah istidraj. Dengan demikian istidraj merupakan suatu jebakan berupa sesuatu yang nampak luar biasa baik itu berupa rezeki material maupun kelebihan ilmu (kanuragan maupun ilmu lainnya) padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah, baik bermaksiat secara nyata misalnya orang kafir, syirik maupun bermaksiat dengan sembunyi-sembunyi. Akhir dari orang yang terkena istidraj biasanya sangat buruk, baik bagi dirinya maupun akibat buruk dari orang lain (keluarganya, tetangganya, teman-temannya maupun pengikutnya jika ia misalnya punya pengikut).

Ciri-ciri Istidraj

1. Ibadah Kita Semakin Turun, Namun Kesenangan Makin Melimpah

Ibnu Athaillah berkata : “Hendaklah engkau takut jika selalu mendapat karunia Allah, sementara engkau tetap dalam perbuatan maksiat kepada-Nya, jangan sampai karunia itu semata-mata istidraj oleh Allah”.

2. Kita Melakukan Maksiat (sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan), Tapi Malah Makin Banyak Kesenangan

Ali Bin Abi Thalib r.a. berkata : “Hai anak Adam ingat dan waspadalah bila kau lihat Tuhanmu terus menerus melimpahkan nikmat atas dirimu sementara engkau terus-menerus melakukan maksiat kepadaNya” (Mutiara Nahjul Balaghoh Hal 121). Misalnya, orang yang mengambil hak orang lain atau korupsi tanpa menyadari kalau itu adalah perbuatan korupsi. Atau ia tahu kalau perbuatannya salah tapi tetap ia lakukan karena tertutup kesadarannya kalau Allah Maha Mengetahui.

3. Semakin Kita Kikir, Namun Harta Semakin Banyak

Sebagaimana kita ketahui bahwa sebetulnya sedekah dapat membuat harta kita semakin banyak. Ketika kita dihinggapi sifat kikir, tak pernah zakat, infak, shadaqah ataupun mengulurkan bantuan orang lain. Namun justru harta semakin melimpah ruah. itulah menjadi salah satu ciri istidraj

4. Jarang Sakit

Imam Syafi’I pernah mengatakan:

Setiap orang pasti pernah mengalami sakit suatu ketika dalam hidupnya, jika engkau tidak pernah sakit maka tengoklah ke belakang mungkin ada yang salah dengan dirimu.

Sebagaimana diceritakan pula bahwa Firaun adalah orang yang tidak pernah merasakan sakit, bahkan bersin pun dia tidak pernah dan itulah yang membawa dia semakin takabur dan bersombong diri.

Mewaspadai Istidraj Bagi Penempuh Jalan Ruhani

Terlalu banyak di negeri kita ini, orang-orang yang bila mendapatkan jabatan baru, lalu ia bersujud karenanya seolah-olah ia merasa telah mendapatkan karunia dari Allah SWT, ia tidak menyadari bahwa hal itu akan menyusahkannya dikemudian hari. Berbeda dengan para sahabat Nabi,saw., misalnya Salman al Farisi,ra, yang ditunjuk untuk menjabat sebagai gubernur di suatu daerah, ia menangis karenanya, khawatir bila ia tidak dapat menjalankan amanah itu dengan baik, dan tidak lama kemudian ia dicopot dari jabatannya, justru ia melakukan sujud syukur, karena lepas dari tanggung jawab yang sedemikian besar itu. Jadi istidraj adalah pisau yang bermata dua, satu sisi berupa sesuatu yang menggembirakan hati, sedangkan sisi yang lain berupa ketidak sadaran bahwa pemberian itu akan mencelakakannya.

Apapun bentuknya, secara lahir maupun batin, istidraj memang sulit dikenali secara persis. Seorang salih berkata,

Musibah adalah, bilamana seseorang diberi harta yang banyak lalu tidak mampu menggunakannya dijalan agama, diberikan pangkat yang tinggi namun tidak mampu menegakkan syariat, Allah SWT menyelipkan didalam hatinya istidraj.’

Ia kemudian melanjutkan :

‘Celakalah orang yang berdakwah merasa bagai orang suci, pandai berbicara dan mengajak orang lain untuk banyak beribadah, padahal dalam diri orang itu tidak banyak ibadahnya dan peribadatannya tidak bernilai tinggi. Dia menukar ilmunya dengan sesuatu yang bersifat duniawi, yang sejak dari rumah memang sudah diharapkannya. Jelas! Itu bukan peribadatan, itu adalah istidraj.’

Imam Abul Hasan an-Nuri, atau yang dikenal dengan Imam Nuri,qs., menceritakan kisahnya : ‘Bertahun-tahun aku berjuang, menahan diriku dalam penjara dan berpaling dari orang-orang lain. Betapapun wara-nya aku, jalan yang ingin kutempuh tidak juga terbuka untukku. Aku harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki diriku. Aku mendengar bahwa hati para mistik dapat mengetahui rahasia dari apa pun yang mereka lihat dan dengar. Sedangkan aku tidak begitu, aku berkata : ‘Benar apa yang diucapkan oleh para nabi dan para wali. Mungkin aku munafik dalam perjuanganku, dan kerusakannya berdampak pada diriku sendiri. Disini tak ada tempat bagi perbedaan pendapat.’

Aku melanjutkan, ‘Sekarang aku akan mencermati diriku sendiri dan mencari tahu apa yang salah.’ Aku memandangi diriku sendiri. Dan aku pun menemukan apa yang salah pada diriku, yakni jiwa badaniahku menyatu dengan hatiku. Bila jiwa badaniah menyatu dengan hati, itu namanya bencana, karena apapun yang berkilau di hati, jiwa badaniah akan mengambil bagiannya.

Aku pun menyadari bahwa inilah penyebab dilema yang aku hadapi, segala yang memasuki hatiku dari Istana Tuhan, jiwa badaniahku akan selalu mengambil bagiannya. Sejak saat itu, aku menjauhi apa pun yang memuaskan jiwa badaniyahku, dan mengambil sesuatu selainnya. Misalnya, jika salat atau puasa atau sedekah atau mengasingkan diri atau bergaul dengan para sahabatku memuaskan jiwa badaniahku, maka aku akan memotong dan mebuang jauh-jauh segala kepuasan itu. Akhirnya rahasia-rahasia mistis mulai terwujud dalam diriku. Lalu aku berjalan menyusuri sungai Tigris dan berdiri diantara dua sampan. ‘Aku takkan pergi, kataku, sampai seekor ikan terjerat jalaku.’ Akhirnya, seekor ikan terjerat jalaku. Saat aku mengambil ikan itu, akau memekik, ‘Segala puji bagi Allah, urusan-urusanku telah berjalan dengan baik!’ Aku pergi menemui Imam Junayd,ra., dan berkata padanya, ‘Sebuah karunia telah dianugerahkan padaku!’ ‘Abul Hasan,’ ujar Imam Junayd,ra., ‘Jika seekor ular yang terjerat jalamu, dan bukannya seekor ikan, itu baru suatu tanda karunia. Namun karena dirimu sendiri terlibat, itu adalah muslihat bukan karunia. Karena tanda dari suatu karunia adalah engkau tidak terlibat sama sekali.’

Kisah diatas sungguh hebat, istidraj tidak saja hinggap kepada orang awam, tetapi hinggap juga kepada penempuh jalan kesucian, namun kesadarannya dapat segera bangkit, karena mereka bersahabat dengan para sufi yang lain, yang mempunyai kedudukan yang mulia. Berkat persahabatannya dijalan Allah itu, maka yang satu dengan yang lain akan saling membantu dan mengingatkan. Seorang Syekh Sufi  (semoga Allah merahmatinya) sering berkata kepada para murid-muridnya : ‘Jika engkau merasa sedang dalam tekanan kehidupan yang keras, lalu engkau berdoa agar segera berlalu, namun Allah malah menekannya lebih keras lagi, itu tanda sebuah karunia besar yang sedang engkau hadapi.’ Oleh karenanya Imam Sibly,qs., murid dari Imam Junayd,ra., pernah berdoa : ‘Yaa Allah aku berlindung kepada-Mu dari-Mu.’ Yakni, untuk dapat membedakan apakah pemberiaan dari Allah SWT itu merupakan istidraj atau anugerah. Jika imamnya para syaikh sufi saja berdoa seperti ini, bagaimana kita bisa mengenali sebuah istidraj yang datang kepada kita?

Jadi dalam keadaan apapun, hendaknya kita harus waspada jangan-jangan apa yang kita kira anugerah berupa rezeki maupun keluarbiasaan keadaan secara ruhani itu ternyata istidraj.

 

by @tm

Rujukan Lanjut :

  • Konsultasi Syariah, https://konsultasisyariah.com/10940-makna-istidraj.html
  • Dakwatuna.Com, http://www.dakwatuna.com/2015/11/02/76502/mengenal-maksud-dan-pengertian-istidraj/
  • Ruamysho.com https://rumaysho.com/10828-istidraj-jebakan-berupa-limpahan-rezeki-karena-bermaksiat.html
  • Fimadani.com http://www.fimadani.com/istidraj-adalah/
  • https://tasawufkemurnianislam.blogspot.co.id/2009/09/istidraj.html