Islam Dan Indonesia

Pasca Pilkada DKI, suara-suara yang nampaknya berusaha mempertentangkan Islam dan Indonesia dengan kebhinnekaaannya seolah berusaha di blow-up. Tiupan ini tentu saja membuat gerah karena Islam dan Indonesia sebenarnya sudah sangat melekat dan satu jiwa. Selama berabad-abad bukti otentik sejarah menunjukkan bagaimana Islam menjaid bagian masyarakat Indonesia di berbagai tempat di Nusantara mulai dari Aceh sampai Wilayah Timur Indonesia. 

Pertentangan Keislmana dan Keindonesiaan sebenarnya sudah terjadi sejak lama, bahkan sejak awal berdirinya NKRI.

Menurut Gus Sholah, dalam acara Seminar Pemikiran KH Hasyim Hasyim Asy’ari, di Gedung Nusantara V, MPR RI, Jakarta, Sabtu (6/5), masalah tersebut sudah terjadi sejak zaman KH Hasyim Asy’ari. Namun, Kiai Hasyim waktu itu menilai antara Keindonesiaan dan Keislaman tidak satupun saling bertentangan.

Itu sebabnya, kata Gus Sholah, resolusi jihad dicetuskan oleh Kiai Hasyim yang mengobarkan peristiwa 10 November di Surabaya. Seruan tersebut mampu memompa semangat pemuda waktu itu agar mengangkat senjara melawan penjajah.

Isu tentang pertentangan antara pancasila dengan keislaman yang mencuat kembali pasca Pilkada DKI Jakarta perlu segera diselesaikan. Gus Sholah meminta tidak ada kelompok yang saling menyalahkan.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin mengatakan, tuduhan terhadap umat Islam sebagai intoleran dan antikebinekaan sungguh menyakitkan hati. Padahal, jasa dan peran umat Islam sangatlah besar dalam penegakan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, sejak masa perlawanan terhadap penjajahan hingga perjuangan menegakkan kemerdekaan.

Begitu pula, kehidupan nasional Indonesia yang relatif stabil dari dulu hingga sekarang adalah karena toleransi tinggi umat Islam yang hidup berdampingan rukun dan damai dengan segenap saudara sebangsa dan setanah air. Toleransi tersebut ditegakkan tanpa memandang Suku, Agama, Ras, dan (Antar) Golongan.

“Tidak dapat dibayangkan keadaan Indonesia jika umat Islam tidak toleran,” kata Din dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Jumat (5/5).

Upaya kelompok-kelompok ektreem kiri maupun kanan yang memojokkan Islam dengan keindonesiaan memang nampak menggelikan bahkan diduga berupaya membuang peran Islam dalam proses kelahiran dan pembangunan Indonesia. Tentu hal ini justru berbahaya kalau tidak diperjelas sehingga diperlukan dialog untuk kembali menciptakan iklim yang kondusif. Pasca Pilkada DKI memang jelas bagaimana keberpihakan pemerintah sehingga perlu kembali menegakkan hukum dan keadilan seperti yang dituntut oleh Umat Islam selama ini dalam serangkaian aksinya sejak 4 Nipember 2016 tahun lalu yang memunculkan momen penggerak perubahan 2 Desember 2016 atau Aksi Bela Islam 212.