Iktikaf

Kamus Besar Bahasa Indonesia online mendefinisikan iktikaf sebagai diam beberapa waktu di dalam masjid sebagai suatu ibadah dengan syarat-syarat tertentu (sambil menjauhkan pikiran dari keduniaan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan). 

Iktikaf tak lain adalah kontemplasi, suatu proses merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian. jadi baik iktikaf aupunkontemplasi sebenarnya sinonim. Umumnya pelaksanaan iktikaf bagi Umat Islam dilakukan di bulan Ramadan. Biasanya, atau umumnya, dilakukan sejak pertengahan bulan Ramadan sampai akhir bulan memasuki hari Raya Idul Fitri. Pada masa itu, tersebut pula sebuah malam yang setara dengan seribu bulan ibadah atau sekitar 83 tahun lebih yaitu malam Lailatul Qadar. Tidak heran kalau kegiatan iktikaf seolah dilakukan untuk mendapat anugerah malam Lailatul Qadar, padahal maksudnya tidak seperti itu karena proses yang dilakukan iktikaf dilakukan secara intensif di akhir bulan Ramadan bukan semata-mata akan turun malam seribu bulan.

Tinjauan Bahasa

Dalam tinjauan bahasa Arab, al-i’tikaf bermakna al-ihtibas (tertahan) dan al-muqam (menetap).

Sedangkan definisinya menurut para fuqaha adalah menetap di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah atau menetap di masjid untuk taat dan melaksanakan ibadah kepada Allah saja, serta meninggalkan berbagai kesibukan dunia.

Hukum dan Dalil Disyariatkannya I’tikaf

Hukumnya sunnah, dan sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Iktikaf menjadi wajib jika seseorang telah bernadzar untuk melakukannya.

Dalil-dalilnya:

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang iktikaf, yang ruku dan yang sujud”. (Al-Baqarah (2): 125).

Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Nabi Muhammad saw selalu iktikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Dan pada tahun wafatnya, beliau i’tikaf selama dua puluh hari. (HR. Bukhari).

Aisyah ra berkata: Rasulullah saw melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) sampai Allah mewafatkan beliau. Kemudian para istrinya melakukan i’tikaf sepeninggal beliau. (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama sepakat bahwa iktikaf seorang istri harus seizin suaminya.

Tujuan dan Manfaat Iktikaf

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa tujuan disyariatkannya iktikaf adalah agar hati terfokus kepada Allah saja, terputus dari berbagai kesibukan kepada selain-Nya, sehingga yang mendominasi hati hanyalah cinta kepada Allah, berdzikir kepada-Nya, semangat menggapai kemuliaan ukhrawi dan ketenangan hati sepenuhnya hanya bersama Allah swt. Tentunya tujuan ini akan lebih mudah dicapai ketika seorang hamba melakukannya dalam keadaan berpuasa, oleh karena itu iktikaf sangat dianjurkan pada bulan Ramadan khususnya di sepuluh hari terakhir.

Adapun manfaat iktikaf di antaranya adalah:

  1. Terbiasa melakukan shalat lima waktu berjamaah tepat waktu.
  2. Terlatih meninggalkan kesibukan dunia demi memenuhi panggilan Allah.
  3. Terlatih untuk meninggalkan kesenangan jasmani sehingga hati bertambah khusyu’ dalam beribadah kepada Allah swt.
  4. Terbiasa meluangkan waktu untuk berdoa, membaca Al-Quran, berdzikir, qiyamullail, dan ibadah lainnya dengan kualitas dan kuantitas yang baik.
  5. Terlatih meninggalkan hal-hal yang tidak berguna bagi penghambaannya kepada Allah swt.
  6. Memperbesar kemungkinan meraih lailatul qadar.
  7. Waktu i’tikaf adalah waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah dan bertaubat kepada Allah swt.

Rukun Iktikaf

Rukun iktikaf ada empat :

  1. Muktakif (orang yang beri’tikaf) 
  2. Niat 
  3. Menetap. Tidak ada batasan minimal yang disebutkan oleh Al-Quran maupun Hadits tentang lamanya menetap di masjid. Namun untuk iktikaf sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan waktu iktikaf yang ideal dimulai pada saat maghrib malam ke-21 sampai maghrib malam takbiran.
  4. Tempat iktikaf 

Syarat Iktikaf

  1. Syarat yang terkait dengan muktakif : beragama Islam, berakal sehat, mampu membedakan perbuatan baik dan buruk (mumayyiz), suci dari hadats besar (tidak junub, haid, atau nifas).
  2. Syarat yang terkait dengan tempat iktikaf : masjid yang dilakukan shalat Jumat dan shalat berjamaah lima waktu di dalamnya agar muktakif tidak keluar dari tempat iktikafnya untuk keperluan tersebut.

Yang Membatalkan Iktikaf

  1. Kehilangan salah satu syarat iktikaf yang terkait dengan muktakif.
  2. Berhubungan suami istri sebagaimana firman Allah swt:

    Janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu) itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. (Al-Baqarah (2): 187)

  3. Keluar dengan seluruh badan dari tempat iktikaf, kecuali untuk memenuhi hajat (makan, minum, dan buang air jika tidak dapat dilakukan di lingkungan masjid).

    Mengeluarkan sebagian anggota badan dari tempat iktikaf tidak membatalkan iktikaf sesuai dengan ungkapan ‘Aisyah ra:

    Nabi Muhammad saw mengeluarkan kepalanya dari masjid (ke ruangan rumahnya) saat beliau iktikaf lalu aku mencucinya sedang aku dalam keadaan haid. (HR. Bukhari).

Adab atau hal yang harus diperhatikan oleh Muktakif

  1. Selalu menghadirkan keagungan Allah di dalam hati sehingga niatnya terus terjaga.
  2. Menyibukkan diri dengan amal yang dapat mencapai tujuan i’tikaf.
  3. Bersahaja dan tidak berlebihan dalam melakukan perbuatan mubah seperti makan, minum, berbicara, tidur dan hal-hal lain yang biasa dilakukan di luar masjid.
  4. Menjauhi amal perbuatan yang dapat merusak tujuan i’tikaf seperti pembicaraan tentang materi (jual beli, kekayaan dan lain-lain).
  5. Memelihara kebersihan diri dan tempat i’tikaf serta menjaga ketertiban dan keteraturan dalam segala hal.
  6. Tidak melalaikan kewajiban yang tidak dapat ditunda pelaksanaannya, seperti nafkah untuk keluarga, menolong orang yang terancam keselamatannya, dan lain-lain. Wallahu’alam

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/09/15/1003/fiqh-itikaf