Gejala Psikis Ramadhan

Pas bulan puasa atau Ramadhan, biasanya memang ada gejala anomali. Perhatikan awal bulan saja, bagaimana orang mendadak sontak seperti dihela oleh suatu kebutuhan yang layaknya seperti nggak mau kehabisan. Orang tiba-tiba saja menyerbu pasar. Akibatnya, muncul kenaikan harga dadakan.Seringkali juga kebiasaan aneh yang kontradiktif dengan Ramadhan juga dipicu oleh pihak pedagang dengan menaikkan harga komolditas tertentu. Misalnya, daging sapi, daging ayam, gula, beras dan sembako. Jadi, tentu saja ada reaksi timbal balik. Konsumen memborong berbagai keperluan takut keburu harga naik. Pedagang sebaliknya karena sudah biasa melihat pola kebutuhan melonjak tak mau kalah menaikkan harga barangnya. Entah mana duluan akan susah menentukan. Ibarat tebak-tebakan mana duluan, telor dulu atau ayam duluan? Pendek kata, kalau kita tidak keluar dari mekanisme LINGKARAN SETAN  PEDAGANG DAN PEMBELI tentu saja akan susah memahami kenapa musti terjadi begitu.

 

Nah, itu di awal Ramadhan. Pas Ramadhan berjalan, biasanya muncul yang aneh-aneh misalnya kok perasaan mudah tergoda oleh ini dan itu. Misalnya tergoda melakukan sesuatu yang tadinya tak dilakukan atau kalau paling mudah kayanya syahwat sangat mencair dan mudah tergoda.

 

Jadi, memang rada heran juga bulan-bulan yang disucikan untuk mengekang hawa nafsu kayanya punya korelasi dalam ukuran setahun kalau ada rentang waktu selama sebulan dimana manusia hawa nafsunya sebenarnya justru berada dala keadaan sangat cair, liar, dan lupa-lupa ingat. Makanya, puasa dijalankan tujuannya untuk mengekang hawa nafsu yang liar itu.

 

Saya pun seringkali merasakan hal yang aneh itu. Bahkan kadang-kadang konsentrasi mudah buyar. Ini bukan saja terjadi setelah menjelang siang dan lapar mulai mendera ataupun karena kadar glukosa menurun. Bahkan pas setelah saurpun gejala konsentrasi berkurang atau syahwat menggeliat liar seringkali terasa. Jadi kalau ditelisik lebih jauh mungkin ini suatu gejala alam fisik juga dari sistem kehidupan di Bumi dimana selama 29 sampai 30 hari dalam hitungan tahun Bulan (karena Ramadhan di hitung dengan kalender Qomariah ataukalender bulan) aspek-aspek psikis kita mengalami suatu fluktuasi yang ekstreem. Karena itu, puasa Ramadhan pun dijalankan untuk mencegah keliaran tersebut. Saya tak tahu apakah orang non muslim yang tak berpuasa atau mereka yang memang tidak puasa mengalami keadaan psikis yang berbeda dibanding dengan bulan sebelumnya nggak. Jadi, tak tahu persis lah apakah ini hanya gejala psikis karena berpuasa saa atau karena adanya perubahan bioritmis akibat bangun malam, atau sebenarnya gejala alam universal yang menimpa penghuni Bumi dengan bulan semata wayang yang mempunyai anomali gerakkan itu.

 

Adakah peneliti yang pernah mencoba melakukan penelitian seksama tentang kondisi psikis bulan Ramadhan ini?

 

myQadmin