Dream Catchers : Kenapa Ayat Al Qur’an Jumlahnya 6236 Ayat? (bagian 2)

Perhatikan saat kita solat dan berada dalam posisi duduk dengan melipat ibu jari dan mengacungkan telunjuk tangan kanan kita. Cara ini seperti disebutkan dalam suatu hadis :

“Ketika duduk dalam shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya di paha kanannya, lalu beliau mengangkat jari di samping jari jempol (yaitu jari telunjuk tangan kanan) dan beliau berdoa dengannya. Sedangkan tangan kiri dibentangkan di paha kirinya.” (HR. Tirmidzi no. 294).

Sumber : https://rumaysho.com/10026-sifat-shalat-nabi-28-kapan-menurunkan-jari-telunjuk-saat-tasyahud.html

Ada beberapa orang yang melakukannya dengan menjentik-jentikan telunjuk ada juga yang diam.

Simbologi Gerak Ibu Jari dan Telunjuk

Kalau kita lihat konstruksi tulang ibu jari yang ada 2 dan telunjuk yang ada 3, kalau kita tekuk seperti angka 6 maka akan terlihat kalau bilangan 6236 sebenarnya berkaitan dengan gerak-gerik awal kita sebagai manusia dengan menggerakkan ibu jari dan telunjuk untuk “berbuat sesuatu”.

Yang pertama, selain didalam solat, saat kita memegang “pena” atau “kayu” untuk menuliskan sesuatu juga akan berhubungan dengan Ibu Jari dan Telunjuk ini. Sekarang bayangkan kita sedang ingin melontarkan “sebuah kerikil kehidupan kita” dengan Ibu Jari dan telunjuk kita maka akan muncul gerakkan yang kalau disimboliskan dengan simbol desimal hari ini adalah 6236.

“Tuinggg” kita melontarkan takdir kehidupan kita bagai menjentikkan kerikil atau kelereng dan kerikil itu akan bergulir menggelinding kemana saja kita arahkan sentilan telunjuk kita. Artinya, sebagai manusia kita wajib punya arah kehidupan, visi dan misi kehidupan untuk merealisasikan harapan dan impian kita selama di dunia dan kelak akhirnya di wilayah yang tidak kita kenal yaitu akhirat. Visi dan misi inilah yang akan menjadi tujuan setiap manusia mulai ia lahir, tumbuh dewasa, dan akhirnya menua , kemudian mati. Jadi, diantara dua takdir mutlak lahir dan mati manusia punya ruang kehidupan untuk merealisasikan impian, visi dan misinya.

Visi & Misi Serta Pedoman Hidup Manusia

Untuk bisa merelalisasikan impian kita dengan aman, artinya sesuai dengan idealisasi impian kita, katakanlah secara generik – saya ingin menjadi manusia berakhlak mulia dengan kehidupan terpuji, maka kita pun butuh pedoman hidup. Katakan saja suatu wacana fundamental yang menjadi suar kita sehingga ketika kita mulai bergulir bagai kerikil kita melalui lintasan dan pijakan-pijakan yang benar. Pijakan yang benar ini sejatinya adalah poin-poin atau dot-dot dimana langkah kaki kita melangkah.

Lantas apakah visi dan misi manusia? Secara individual tentu saja berbeda. Ada yang orientasinya melulu hanya di ruang kehidupan yang terasakan sebagai kehidupan di dunia ini, ada juga yang impiannya melampau batas kehidupan, di luar zona nyaman kehidupan, yaitu setelah takdir kedua dilalui – kematian. Ada apa setelah kematian? Adakah kehidupan disana, atau apa yang kita sebut kematian itu kehidupan sebenarnya. Di suatu tempat bernama surga atau neraka? Atau tak ada apa-apa setelah kematian jadi hidup kita itu sia-sia belaka.

Nah, dengan keadaan tersebut, jelaslah kalau jumlah ayat Al Qur’an 6236 bukan sekedar angka sembarangan dan kebetulan tapi memang suatu ukuran yang bisa dibebankan kepada manusia, atau bisa diserap manusia berupa kalimatullah yang mampu memberikan petunjuk kepada manusia untuk mencapai tujuan hidupnya, menyelesaikan visi dan misinya, menyatakan impian hidupnya, asalkan ia bisa membaca. Bukankah ayat pertama yang diturunkan adalah perintah membaca? Bukan perintah solat apalagi jihad. “Iqra”, bacalah dengan nama Rabb mu yang Maha Menciptakan…dst. Surat bernomor 96 dengan jumlah total ayat 19 ini merupakan perintah awal kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penerima Pesan Ilahiyah BUKAN perintah solat apalagi perintah jihad. Tapi “BACA”. Tanpa kemampuan membaca, apakah itu membaca via kitab, buku, blog, media daring, atau membaca kehidupan di sekitar kita secara luas maka manusia bisa jadi gagal memahami siapa dirinya dan siapa Tuhannya. Nah kalau sudah begitu manusia yang lalai inipun akan tertabiri di penjara ghairil, di lembah kesesatan, yang bukannya menuju dan sampai kepada Allah SWT dengan husnul khotimah tapi malah tersesat sesesat sesatnya karena penyakit “summum bukmum umyun” dan “waswaasil khonnaas” yang melingkupinya.

by @tmonadi, Desa Sampora, BSD, 5/7/2017