Doa

Bagaimanakah sebenarnya kita harus bersikap ketika kita sudah berdoa tapi ternyata harapan kita tak kunjung datang? Pertanyaan tentang Do’a yang paling sering ditanyakan adalah, “Mengapa doa kita tidak diijabah padahal Allah swt berjanji: `Berdoalah kepada-Ku pasti Aku ijabah doamu’?”

Pertanyaan demikian memang sering kita dengar dari mulut sebagian kita. Ada yang terlontar dari lisannya. Kadang-kadang juga sesekali terbesit dalam pikiran kita, paling tidak tersembunyi dalam hati kita dan sewaktu-waktu tanpa sadar muncul kembali. Sebenarnya memang serba salah kalau kita sendiri tidak memahami apa maksud sebenarnya ketika Allah menyuruh manusia untuk berdoa dan memohon pada-Nya dalam segala hal.

Doa adalah bagian dari hidayah Allah bagi semua umat manusia yaitu adanya pintu ampunan dan taubat yang dibuka sampai ajal di kerongkongan kita. Karena itu, jika kita tidak berdoa maka yang muncul justru kesombongan diri yang berlebihan, jejak dari kesombongan Iblis yang enggan meminta ampun kepada Allah setelah ia menghina Adam dan merasa lebih suci dibanding Adam yang asalnya dari tanah.

Bahkan dengan pongah dan takabur ia malah mengancam Adam untuk menggodanya sampai anak cucunya kelak. Sungguh malang nasib si Iblis, ia yang merasa paling suci dan paling taat justru terpuruk dalam tipu daya kesombongannya sehingga ketika perintah Allah untuk sujud kepada Adam dinyatakan, ia malah menolaknya dengan menyombongkan keapiannya, dan daya upaya dirinya dalam ibadah. Iblis pun tertipu daya karena kesombongannya, ibadahnya pun akhirnya sia-sia karena tidak menyatakan kepatuhan dan ketundukan di hadapan Allah.

Doa Umat Nabi Adam a.s. sesungguhnya bagian dari pengampunan Allah yang diberikan kepada Adam dan generasi penerusnya karena kecondongan sifat lalai dan was-wasnya. Sehingga dalam banyak hal, doa menjadi ibadah yang pertama kali dikenal manusia setelah ia lalai menuruti hawa nafsunya dan akibat ketidakwaspadaannya dalam berikhtiar.

Jejak-jejak doa Adam dan Hawa yang memohon ampunan kepada Allah sesungguhnya jejak yang diwariskan kepada manusia sepanjang zaman kalau doa merupakan inti dari segala ibadah, dan merupakan puncak dari segala upaya manusia setelah melalui suatu proses, baik yang kemudian disebut prosesnya benar maupun tidak benar, atau sama sekali kita tidak tahu apa akibat-akibat proses itu di kemudian hari.

Ketika manusia berdoa, sesungguhnya ia menyerahkan semua urusan yang telah dijalaninya kepada Kemahabijaksanaan Allah seperti halnya dulu Adam dan Hawa memohon ampunan dan taubat di surga akibat kelalaiannya terbujuk rayu was-was diri yang muncul dari nafsu setaniahnya. Doa juga mencerminkan keberserahdirian kita atas apa yang telah menjadi ketetapan saat itu, yaitu saat kita selesai beraktivitas, beribadah formal seperti salat, dan akhirnya menyerahkan semua itu kepadaNya. Karena itu doa tanpa ikhtiar adalah kebohongan dan ikhtiar tanpa doa adalah kesombongan.

Meskipun kita seringkali keliru dengan menganggap doa hanya berkaitan dengan suatu hajat materialistik, sesungguhnya ada dimensi yang lebih luas dalam sikap berdoa manusia kepada Allah SWT. Sejauh ini, kebanyakan pengertian doa seringkali hanya dilekatkan kepada pemenuhan kebutuhan biologis yang mendesak saja. Karena pandangan yang kurang tepat ini, orang pun mempunyai kecondongan menilai ukuran keberhasilan doa dari “imbalan materialistik ” yang bisa dirasakan langsung. Padahal terkabulnya doa bukan menjadi tanda kalau seseorang itu dekat dengan Allah. Saya jadi teringat aforisme di dalam kitab Al-Hikam karangan Syekh Athaillah As Sakandari yang memang superdahsyat, menurut kitab tersebut mungkin saja justru Allah sebel banget dengan orang yang bersangkutan sehingga Dia seakan memenuhi doanya. Padahal mungkin saja dibalik terkabulnya doa tersembunyi sesuatu yang bisa melalaikan si pendoa, bahkan boleh jadi membahayakan hidupnya. Misalnya, orang yang merasa doanya selalu terkabul menjadi sombong, meremehkan orang lain dan tinggi hati. Sedangkan di balik tidak dikabulkannya suatu permintaan tersembunyi kebaikan dan Rahmat Allah yang maha memelihara hamba yang dikasihiNya. Kira-kira begitulah aforisme tentang doa dalam kitab al-Hikam tersebut.

Lebih jauh, berdoa bukanlah cara serba instan untuk mendapatkan sesuatu. Kebanyakan orang seringkali keliru seolah-olah hanya karena kita berdoa meminta ini dan itu Allah akan menjatuhkan harapan ataupun benda yang kita minta. Seperti saya ungkapkan diatas, berdoa tanpa ikhtiar sebenarnya kebohongan. Kebohongan itu bukan saja membahayakan diri sendiri karena bisa juga membahayakan orang lain kalau dikatakan bahwa hanya dengan doa saja sudah cukup.

Berdoa sesungguhnya titik paling akhir setelah manusia berupaya dengan berzikir, berfikir dan berikhtiar, dengan yakin, istikamah, tekun dan kesadaran bahwa apa yang telah dilakukannya semata-mata hanyalah proses untuk menetapi ibadah pada-Nya. Ketika zikir, fikir, ikhtiar sudah dilakukan kewajiban manusia adalah berdoa dimana didalam doa itu ia seharusnya menyerahkan hasil akhirnya pada Keputusan Allah.

Jadi, ketika harapan kita yang sudah diupayakan “kita sebut gagal” kita tidak terlalu meratap dan nelongso apalagi menggugat Allah, tapi justru bisa memahaminya sebagai suatu hasil terbaik yang dinyatakan Allah. Mungkin kegagalan itu karena kita sendiri lalai tidak mematuhi aturan main Allah ketika mengupayakan sesuatu. Tapi kalau “berhasil” maka kita pun tidak menganggapnya sebagai sekedar terkabulnya permintaan atau pun usaha namun justru lebih waspada karena ada amanah tambahan yang diberikan kepada kita sebagai pendoa.

Jadi menurut saya, berdoalah selalu setelah kita mematuhi seluruh ketentuan Allah dengan ikhlas dan tanpa beban atas outcome-nya nanti karena sebenarnya semua doa manusia itu dikabulkan Allah, hanya saja kebanyakan tidak menyadarinya. Jadi, janganlah hanya berdoa dan berharap muncul keajaiban dengan doa itu “sebelum kita mengikuti sunnatullah” karena boleh jadi itu tipu daya Iblis.

 

Bab 20, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by@tmonadi Rev 9/6/2017