DNA Pancasila Adalah Al Qur’an

Benarkah Islam bertentangan dengan Pancasila? Pertanyaan ini menarik minat saya untuk menyelisik kembali membaca sila-sila Pancasila secara lebih seksama. Dan menemukan kalau DNA* Pancasila sejatinya adalah Al Qur’an. Setelah beredar beberapa lama melalui medsos, akhirnya meme yang menjelaskan hubungan antara Pancasila dan Al Qur’an ditemukan kembali dari status seorang kawan di Facebook.

Kali ini memenya lebih menunjukkan warna Indonesia dengan ayat-ayat yang dilampirkan untuk menunjukkan relasi genetis antara sila-sila Pancasila dengan kandungan Al Qur’an. Sebelum menelisik lebih jauh, kita tinjau sekilas sejarah kelahiran Pancasila.

Kelahiran Dan Evolusi Pancasila

Menurut rujukan Wikipedia Indonesia, lahirnya Pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh Ir. Soekarno dalam siding Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan” atau BPUPK) pada tanggal 1 Juni 1945. Jadi disini istilah “Pancasila” mulai diperkenalkan yang kelak akan menjadi brand ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal “Pancasila” pertama kali dikemukakan oleh Ir. Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” oleh mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPK tersebut.

 

Selanjutnya, sejarah Pancasila pun menunjukkan kalau niai-nilai atau sila-sila Pancasila hari ini semula adalah sila-sila Pancasila yang tercantum di Piagam Jakarta. Hanya sila ke-1 saja yang sedikit berbeda dengan menghilangkan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya“. Sisanya sama persis.

 

Teks Pancasila awalnya muncul sebagai usulan Mr. Muh. Yamin yang dirilis tanggal 29-Mei-1945, pada saat rapat pertama yang diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Pada zaman Belanda, gedung tersebut merupakan gedung Volksraad (bahasa Indonesia: “Perwakilan Rakyat”). Teks Pancasila selanjutnya adalah teks Ir. Soekarno yang dirilis tanggal 1-Juni-1945, kemudian teks Pancasila Piagam Jakarta yang dirilis tanggal 22-Juni-1945 dan akhirnya menjadi teks Pancasila UUD 1945 yang dirilis sehari setelah Kemerdekaan RI yaitu tanggal 18 Agustus 1945.

 

Evolusi Teks Pancasila Dan Tanggal Publikasinya

Jadi kapan sebenarnya Pancasila lahir? Silahkan Anda simpulkan sendiri. Saya sendiri secara pribadi setuju kalau lahirnya Pancasila sebagai suatu brand atau nama ideologi NKRI adalah tanggal pertama kali “Pancasila” disebutkan dan kemudian didokumentasikan yaitu 1-Juni-1945, sedangkan nilai-nilainya yang kemudian dirangkum menjadi sila-sila Pancasila sejatinya adalah nilai-nilai universal yang sudah tercantum dengan jelas di kitab suci Al-Qur’an, atau sekitar 15 abad sebelumnya.

Tanggal Berapa Sebenarnya Pancasila Lahir?, sumber FB Habib Muhammad Rizieq Syihab, Lc, MA, DPMSS

DNA Pancasila

Nah, sekarang mari kita bedah sila demi sila dari Pancasila yang tercantum di UUD 1945 yang dirilis 18 Agustus 1945 .

DNA Pancasila Itu Al Qur'an
DNA Pancasila Itu Al Qur’an

Sila Pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”

Sila pertama ini sangat jelas kalau itu merupakan pernyataan Tauhid, mengakui eksistensi Tuhan Yang maha Esa, bukan ketuhanan yang banyak. Surat ke-112 Al Qur’an yaitu Al-Ikhlas menegaskan prinsip dasar ketuhanan Agama Islam yaitu Tauhid.

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, an tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS Al Ikhlas 112:1-4)

Tak perlu tafsir yang aneh untuk memahami ayat ini sebagai prinsip dasar ajaran agama Islam dan agama abrahamik yaitu tauhid. Kalau ada yang merasa tersinggung dengan surat Al Ikhlas ini maka harus dipertanyakan komitmennya sebagai warga negara Indonesia dimana sila pertamanya adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai ekspresi tauhid yang menjadi ekspresi ideologis NKRI.

Menurut Qurais Shihab mengenai tafsir ayat pertama,  Nabi Muhammad saw. pernah ditanya tentang Tuhannya. Maka, dalam surat ini, beliau diperintah untuk menjawab pertanyaan itu. Yaitu, bahwa Allah adalah Tuhan Yang memiliki segala sifat kesempurnaan, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan tempat kembali dalam setiap kebutuhan, Tuhan Yang tidak membutuhkan kepada siapa pun, Tuhan Yang Mahasuci dari sifat serupa dengan makhluk, Tuhan Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan Tuhan yang tidak satu makhluk pun dapat menyerupai-Nya. Mereka yang, dengan nada mengolok dan menghina, berkata, “Gambarkan kepada kami tentang Tuhanmu,” katakan kepada mereka, wahai Muhammad, “Allah adalah Tuhan Yang Esa, bukan selain Dia, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. (Tafsirq.com)

 

Sila Kedua “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”

 

QS Annisa (4:135) Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini sangat populer di dunia peradilan sehingga tak segan Universitas Harvard di Amerika Serikat menjadi kan ayat yang berbicara tentang keadilan ini ditempelkan di gerbang masuk Fakultas Hukum Harvard sebagai salah satu ekspresi hukum yang kuat dan memberikan inspirasi kalau hukum itu harus ditegakkan tak pandang bulu.

”Fakultas Hukum Harvard menyebut ayat suci sebagai salah satu ekspresi terhebat tentang keadilan sepanjang sejarah,” tulis surat kabar Arab Saudi ‘Ajel’ seperti dikutip Emirates247.

Surat Annisa 135 di Fak Hukum Harvard

Menurut tafsir Qurais Shihab seperti dikutip di situs Tafsirq.com, Keadilan adalah sistem kehidupan yang tidak dipertentangkan lagi. Dari itu, wahai orang-orang yang patuh dan tunduk kepada Allah dan seruan rasul-Nya, biasakanlah dirimu dan orang lain–dalam upaya mematuhi prinsip keadilan–untuk selalu tunduk kepada keadilan. Berbuat adillah terhadap orang-orang yang teraniaya. Jadilah kalian semua penegak keadilan, bukan karena menyukai orang kaya atau mengasihi orang miskin. Karena Allahlah yang menjadikan seseorang kaya dan miskin, dan Dia lebih tahu kemaslahatannya. Sesungguhnya hawa nafsu itu telah menyimpang dari kebenaran, maka janganlah kalian mengikutinya, supaya kalian dapat berlaku adil. Jika kalian bepaling atau enggan menegakkan keadilan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan dan akan memberi balasannya. Yang baik akan dibalas dengan kebaikan dan yang buruk akan dibalas dengan keburukan pula.

Sila Ketiga “Persatuan Indonesia”

Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan ratusan suku bangsa yang berserak dari Sabang sampai Merauke. Karena itu, para founding father menetapkan “Persatuan Indonesia” sebagai sila ketiga setelah Ketuhanan, Kemananusiaan dengan asas keadilan universal. Menurut situs Kitabangga.com, dalam tahun 2016 ini ada sekitar 1340 jenis suku di Indonesia. Dengan angka tersebut semakin memantapkan posisi pertama Indonesia sebagai jumlah suku bangsa terbanyak di Dunia.

Pentingnya persatuan disebutkan Al Qur’an dengan jelas dalam surat Al Hujurat ayat 13:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. 

Ayat ini turun di suku bangsa Arab yang terpecah-pecah menjadi banyak suku dan kabilah, seperti halnya Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dengan suku bangsa dan bahasa yang beraneka atau Bhinneka tapi mempunyai satu tujuan bersama sehingga moto negara adalah Bhinneka Tunggal Ika atau Unity in Diversity Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Sila Keempat “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan”

Sila keempat ini menjadi pilar Demokrasi Pancasila yang merujuk pada prinsip dasar masyarakat untuk bermusyawarah dan mufakat. Al Qur’an menyinggung hal ini di surat Asy Syura.

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (Qs Ast Syura 34)

Ayat ini menegaskan pentingnya asas demokrasi ditegakkan. Jadi suatu masyarakat atau suatu bangsa hendaknya tidak bertindak sendiri dan tergesa-gesa dalam masalah yang terkait orang banyak. Oleh karena itu, apabila mereka ingin melakukan suatu perkara yang butuh pemikiran dan ide, maka mereka berkumpul dan mengkaji bersama-sama, sehingga ketika sudah jelas maslahatnya, maka mereka segera melakukannya. Misalnya adalah dalam masalah perang dan jihad, masalah pengangkatan pemimpin, mengangkat pegawai pemerintahan atau yang menjadi hakim, demikian pula membahas masalah-masalah agama secara umum, karena ia termasuk masalah yang terkait antara sesama, dan membahasnya agar jelas yang benar yang dicintai Allah. Seperti nafkah yang wajib, misalnya zakat, menafkahi anak-istri dan kerabat, dsb. Sedangkan nafkah yang sunat seperti bersedekah kepada semua manusia. (simak diskusi  Tafsirq surat Asy Syura ayat 38).

Sila Kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”

Keadilan merupakan prinsip dasar kehidupan, keadilan adalah juga keseimbangan, siapa yang tidak berbuat adil maka ia akan memunculkan ketidakseimbangan. Adil secara harfiah artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada masing-masing yang mempunyai hak. Adil yang dinyatakan sebagai sila kelima adalah adil yang mencakup hak individual maupun hak bagi masyarakat.

Keadilan sosial menyangkut kesejahteraan masyarakat banyak. Seperti disinggung diatas, keadilan sosial merupakan kontinuitas dari suatu musyawarah bersama yang akhirnya diharapkan memunculkan tindakan adil bagi seluruh Rakyat Indonesia bukan bagi segelintir orang atau oknum semata.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS An Nahl 90)

Menurut Quraish Shihab mengenai tafsir ayat diatas, Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk berlaku adil dalam setiap perkataan dan perbuatan. Allah menyuruh mereka untuk selalu berusaha menuju yang lebih baik dalam setiap usaha dan mengutamakan yang terbaik dari lainnya. Allah memerintahkan mereka untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh para kerabat sebagai cara untuk memperkokoh ikatan kasih sayang antar keluarga. Allah melarang mereka berbuat dosa, lebih-lebih dosa yang amat buruk dan segala perbuatan yang tidak dibenarkan oleh syariat dan akal sehat. Allah melarang mereka menyakiti orang lain. Dengan perintah dan larangan itu, Allah bermaksud membimbing kalian menuju kemaslahatan dalam setiap aspek kehidupan, agar kalian selalu ingat karunia-Nya dan menaati firman-firman-Nya.

 

Jadi jelas, bagi ekstrim kanan maupun kiri yang mempertentangkan Islam dan Indonesia, mereka adalah buta sejarah dan tidak paham Pancasila bahkan mungkin justru anti Pancasila dan anti NKRI. Maling teriak Maling. Demikian juga dari kalangan Islam yang mengira Pancasila merupakan ideologi kafir menjadi salah besar karena sila-sila Pancasila dan kandungan Al Quran itu selaras dan sejatinya jelas sekali DNA Pancasila sebagai ideologi negara adalah  Al Qur’an.

 

Simak juga :

by @tmonadi, revisi terkini 1-Juni-2017

*DNA merupakan singkatan dari deoxyribonucleic acid atau dalam Bahasa Indonesia disebut asam deoksiribonukleat. Dewasa ini istilah biologi molekuler ini sering digunakan di dunia populer khususnya pemasaran sebagai ungkapan yang menunjukkan adanya relasi mikro dan genetis antara suatu sistem organisasi misalnya perusahaan sehingga sering menjadi pangkal untuk melakukan perubahan-perubahan organisasi perusahaan bahkan suatu negara. Secara biologis, DNA sering dibandingkan dengan satu set cetak biru atau resep, atau kode, karena berisi instruksi yang dibutuhkan untuk membangun komponen lain dari sel, seperti protein dan molekul RNA. Segmen DNA yang membawa informasi genetik ini disebut gen, tetapi urutan DNA lain yang memiliki tujuan struktural, atau terlibat dalam mengatur penggunaan informasi genetik. Rujukan teknis soal DNA silahkan kunjungi situs ini.