Dilema “Au Ah Gelap”

Hasbunallahu wa ni’mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir.
Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

Kalimat diatas sudah sangat dikenal oleh Umat Islam. T-e-r-l-a-l-u kalau kita tak pernah mendengarnya. Tapi kenapa dimasa sekarang justru Umat Islam seperti kehilangan dayanya untuk mencerna kalimat diatas sebagai petunjuk kemana sandaran utama dalam banyak hal, baik amaliah lahir maupun amaliah batin harus ditetapkan? Padahal dalam sehari semalam ada kewajiban salat lima waktu, dimana selain waktu untuk beribadah juga menjadi kesempatan dimana kita bermunajat kepada Allah SWT agar apa yang telah kita lakukan setiap waktu memberikan manfaat yang nyata. Tentu saja saat bermunajat itu kita berharap adanya Pertolongan Allah yang nyata, yang kita butuhkan dalam menghadapi permasalahan sehari-hari.

 
Kalau tidak bersandar pada Pertolongan Allah, karena kita memutuskan diri dari Rahmat-Nya, maka kita sebagai manusia bisa terhempas kedalam jurang kegelapan yang kemudian ilmu kedokteran menyebutnya sebagai Penyakit Szichoprenia dengan kecondongan hiperaktif (contoh : Hitler) atau menjadi berhala superpasif (contoh pertapa seumur hidup yang diam terus menerus dengan menganggap dirinya penjelmaan orang suci atau bahkan mengaku penjelmaan Tuhan). Inilah yang didalam surat Al Fatihah di isyaratkan sebagai jalan orang-orang yang dimurkai-Nya (simak QS 1:7). Adakah jalan keluar ketika kita menghadapi hal seperti itu?

 
Pada posisi gelap demikian seorang penempuh jalan ruhani, atau siapapun sebagai Umat Islam yang berkesadaran positif, justru harus dituntut seperti sikap Nabi Ibrahim a.s yaitu tertunduk dan berserah diri atau dengan adab Aslim dan Islam (QS 2:131). Jika hal ini tidak dilakukan, maka yang akan dihadapi adalah suatu dilema yang boleh saya katakan dilema “Au Ah Gelap” alias ketidaktahuan mutlak tentang Esensi Asma, Sifat dan Perbuatan Allah.

 
Hal inilah yang sebenarnya dijelaskan dalam surat al-Kafiruun (QS 109) dengan akhir peringatan ”Lakuum dinukuum waliyadiin” yang sebenarnya membebaskan kepada semua orang untuk beragama sesuai dengan apa yang diyakininya, atau sesuai dengan prasangkanya sebagai bagian dari takdir si penganut agama tersebut, termasuk disini tanggung jawab pribadinya nanti di hadapan Allah SWT. Pada posisi kritis demikian, seorang baik awam maupun penempuh jalan ruhani harus sejenak berhenti dengan berserah diri secara mutlak dan pasrah dengan kesadaran Aslim dan Islam.

 

 

Untuk itu, maka jalan keselamatan hanya dimungkinkan untuk merenungkan kembali perjalanan yang telah dilaluinya dimana keteguhan sikap dengan yakin, sabar dan keistikamahan merupakan proses dan pelajaran yang berharga. Disini, kita harus kembali merenungkan firman Allah dalam surat Ali ‘Imraan (QS 3:103-107) berikut :

 
103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

 
104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[1]; merekalah orang-orang yang beruntung.

 
105. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,

 
106. Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.

 
107. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, Maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.

 

 

[1] Ma’ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah[2].
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus[3].
[2] Yang dimaksud berkorban di sini ialah menyembelih hewan Qurban dan mensukuri nikmat Allah. Namun ada pula yang menyimpulkan kalau yang dikorbankan adalah hawa nafsu manusia dengan cara mengendalikannya didalam Shirathaal Mustaqiim
[3] Maksudnya terputus di sini ialah terputus dari rahmat Allah. Rahmat Allah tentunya berhubungan dengan keimanan yang benar yaitu menjadi Islam dan al-Mukmin.

 

 

 

Pada akhirnya jika siapapun yang masih berpegang pada Pertolongan Allah (Qs 110: 1-3), ia akan selamat hanya dengan sadar untuk Taubat (QS 9) dan kalau dikehendakiNya, ia ditarik kedalam pintu tauhid yaitu ke-Esa-an seperti tersirat dalam surat al-Ikhlas (QS 112).

 
Jika tidak, maka ia akan terjerembab kedalam panas Abu Lahab (Qs 111) yaitu ketersesatan karena dijajahnya jiwa yang tadinya murni dengan panasnya api kemarahan atas egosentrismenya yang tidak mau melihat kenyataan untuk Aslim dengan Islam. Inilah makna tersembunyi dari kisah api yang menjadi dingin ketika Ibrahim dibakar oleh raja dunia karena hanya menauhidkan Tuhan Yang Maha Esa yang berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya.

 
Di puncak pengetahuan, para pejalan ruhani pun akan dihempaskan dalam suatu dilema antara yang tahu dan tidak tahu, yang memahami dan tidak memahami, yang sadar dan tidak sadar, yang mengisahkan dan dikisahkan, yang menuliskan dan yang ditulisi, sebagai Tinta, Pena dan Kertas al-Haqq, sampai akhirnya realitas tentang dirinya diperkenalkan oleh Allah sebagai bagian dari penampilan hakikat Jamal dan Jalal Allah dimana ia adalah hamba-Nya dengan suatu atribusi khusus yang dianugerahkan kepadanya (misalnya Habib, Khalil, dll) karena ketentuan takdir yang telah ditetapkan Allah sejak azalinya (sejak pra-eksistensinya, QS 7:172). Dan diapun akan lahir kembali dalam kebaqaan Ilahiyah sesuai dengan misi dan peran yang ditetapkan Tuhan padanya dan sesuai dengan potensi, qadar, dan qadanya atau sesuai dengan takdir dan zamannya.

 

 

Dari Bab 9, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by Atmonadi, Rev 28/5/2017