Kedewasaan Beragama Dengan Takwa

Dewasa Beragama Dengan Takwa

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS 2:183)

Kalau kita cermati ayat yang setiap bulan suci Ramadan tiba selalu kita renungkan itu menyangkut pengertian Takwa. Kata takwa sebenarnya merupakan kata kunci yang erat kaitannya dengan Etika al-Qur’an dan cara menginternalisasikannya atau metodologi untuk mencapai pengertian Takwa seutuhnya.

Takwa

Pengertian takwa dapat dinyatakan dari yang mudah sampai yang susah. Contohnya, takwa bisa diartikan takut kepada Allah SWT. Dari takut ini manusia kemudian mematuhi larangan-Nya dan menjalankan perintahNya. Itu contoh pengertian mudah yang sering kita dengar selama ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, takwa berarti terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jadi, takwa secara umum menyangkut suatu praktek kesalehan hidup. Tentunya sesuai dengan panduan Agama Islam yang sempurna atau kafah.

Kata takwa memang merupakan istilah khas al-Qur’an. Menurut para ahli tatabahasa Arab, maupun para ulama, kata takwa menjadi salah satu keyword penting dari nilai etis dan moral yang terkandung di dalam al-Qur’an. Karena itu, takwa juga mencakup apa yang dimaksudkan sebagai metode atau cara untuk menghadirkan akhlak atau budi pekerti atau perilaku Nabi Muhammad SAW yang terpuji  sebagai akhlak Umat Islam. Kata lain yang seringkali mengiringi takwa tidak lain adalah Islam dan Iman. Hingga kita pun sering juga mendengar istilah tertentu seperti Iman dan Takwa menjadi Imtak, dan istilah-istilah lainnya.

Digunakannya kata takwa di al-Qur’an erat kaitannya dengan Agama Islam yang dinyatakan untuk mendekonstruksi semua ajaran agama, baik itu disebut agama samawi yang berakar dari Yudeo Kristen, Zoroaster, ajaran Manichean, maupun ajaran agama dan kebijakan Timur seperti Hindu, Budha, maupun kebijakan-kebijakan dari China (misalnya : Taoisme, Mozisme, Konfusius, Zen, dll. ).

Menurut Prof. T. Isuzu, seorang guru besar linguistik dari Jepang, kata takwa ketika digunakan didalam al-Qur’an sebenarnya di maksudkan untuk menimbulkan efek takut, gentar, atau kejutan psikis yang berhubungan dengan upaya untuk melumpuhkan kecongkakan, kesombongan, ketakaburan, amarah, dan berbagai karakter jahat bangsa Arab sebelum Islam lahir. Jadi, pengertian takwa sebenarnya sudah dikenal dalam tradisi Arab pra-Islam.

Namun, penggunaannya secara khusus untuk mendekonstruksi seluruh karakter jahiliyah bangsa Arab kemudian berkembang lebih jauh dan mempunyai tingkatan-tingkatan pengertian yang masih berhubungan dengan bagaimana meruntuhkan kesombongan dan kecongkakan manusia secara umum, bukan sekedar bangsa Arab saja.

Jadi, takwa adalah suatu sebutan khas pengganti untuk karakter yang lebih baik dari karakter jahiliyah manusia umumnya (catatan: contoh karakter jahiliyah adalah orang yang disebut sebagai Abu Jahal dan Abu Lahab atau bapaknya kebodohan dan bapaknya amarah yang dekat dengan kekufuran karena akhirnya jiwa murninya tertutupi atau terhalangi untuk menjadi Takwa) yaitu sebagai manusia beriman dengan ajaran Islam. Hal ini dinyatakan dalam QS 49:13 sbb:

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling Takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS 49:13)

Sedangkan, dalam QS 2:183 yang populer setiap bulan Ramadan itu, Takwa merupakan suatu kalimat yang menyatakan tujuan dan harapan yang dapat diraih bagi manusia yang beriman dengan menjalankan puasa Ramadan, sebagai puasa yang rutin dan tetap pelaksanaannya yaitu setahun satu bulan.

Iman, Islam & Ihsan

Ketakwaan yang disampaikan dalam QS 2:183 kemudian digulirkan dengan kelembutan Allah untuk menjadi suatu seruan, perintah, dan keyakinan sepanjang hidup pada QS 3:102

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (Qs 3:102)

Dalam QS 3:102 ada tiga hal yang saling dihubungkan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan yaitu orang yang beriman, yang takwa dengan benar, dan yang akhirnya berserah diri sampai kematian menjemputnya dalam keadaan Islam (beragama Islam). Takwa dalam QS 3:102 merupakan ketakwaan yang sudah seharusnya dinyatakan sepanjang hidup ketika seseorang telah beriman sebagai Umat Islam, yaitu setelah ia bersyahadat dengan benar dan mematuhi rukun Iman dan Islam.

Dalam QS 2:183, pengertian takwa disandingkan dengan susunan kalimat yang berbunyi “agar kamu bertakwa”. Jadi, Qs 2:183 mengandung suatu proses yang terus menerus dan konsisten. Didalamnya tersirat pembelajaran, evaluasi, pendidikan dan pelatihan dimana dijelaskan manfaat atau kepentingan puasa sebenarnya bukan semata-mata bagi Allah. Namun, bagi manusia yang puasa atau ibadah Ramadannya semata-mata “hanya karena Allah”. Karenanya, puasa sering dikatakan Allah adalah untuk-Ku. Dan, seseorang yang beriman menjalaninya hanya karena sadar bahwa sebagai hamba, ia harus tunduk, patuh dan berserah diri yaitu Islam dengan puasanya itu. Islam yang dimaksud disini adalah Islam sebagai Cahaya Allah SWT yang selalu menempati segala sesuatu, termasuk kedalam hati manusia sehingga melahirkan Iman yang kokoh dan hati yang Ihsan.

Al-Sakinah

Sebutan yang berbatas ini di Al-Qur’an kemudian dikatakan sebagai Cahaya Allah atau Cahaya Pengetahuan Tauhid atau Islam dalam arti sebagai Puncak Seluruh Pengetahuan yang dihadirkan dalam kehidupan seluruh makhluk sebagai ‘Abd (hamba). Aktualisasinya sebagai akhlak manusia adalah adab dari hamba di hadapan Penciptanya yaitu berserah dirilah sebagai adab makhluk ketika melihat kenyataan bahwa dirinya fakir dan lemah dan hanya sekedar hamba Allah.

Untuk menetap menjadi suatu keadaan keimanan yang disebut Takwa, Pengetahuan Allah memerlukan suatu pra-kondisi yang harus disyaratkan sebelum kemenangan mencapai takwa dapat diraih (simak QS 48:1-4). Bagi manusia, tempat Cahaya Pengetahuan Allah adalah kalbu sehingga untuk menjadi bersemayamnya Cahaya Allah, kalbu harus dimurnikan, dibersihkan, sehingga layak untuk ditempati oleh Cahaya Allah. Ketika Cahaya Allah menetap dalam kalbu, kualitas ruhaninya secara umum disebut al-Sakinah (QS 48:4), sedangkan secara khusus manusia dikatakan berada dalam wilayah ketakwaan dengan keimanan Islam yang benar (simak juga uraian senada tentang Takwa, Iman, dan Islam dan perbedaannya sebagai suatu peringkat pengetahuan tauhid dalam QS 49:13-15).

Apa efek langsung dari al-Sakinah? Ia adalah ketenangan jiwa sebagai orang yang ditarik kedalam medan gravitasi Ridho Allah. Ketenangan jiwa adalah kedewasaan manusia untuk beragama dengan sadar, bertanggung jawab secara sistemik-holistik, dan patuh dengan pilihan yang ditetapkan oleh Allah padanya. Jadi, perannya setelah al-Sakinah menetap di kalbu muncul bukan oleh keinginan kita, namun dari keinginan Allah yaitu aktualnya ketakwaan hamba-Nya. Pada akhirnya, si hamba menjalani kehidupannya dalam naungan Rahmat, Kasih Sayang dan Ridhonya atau dalam naungan Bismillahir al-Rahmaan al-Rahiim sebagai Induk Kitab yang menjadi al-Qur’an (sebagai pedoman pengolahan maupun pemeliharaan akhlak manusia Muhammad).

Ada suatu keistimewaan bagi yang mendapatkan al-Sakinah. Ia kemudian memilih apa yang menurutnya terbaik sebagai pegangan sekaligus tanggung jawab baginya di hadapan Allah, yaitu sebagai kelompok orang yang berserah diri atau Islam. Para nabi dan rasul, serta kaum arifin yang memiliki al-Sakinah karena itu disebut Islam dalam segala pemahamannya. Namun tidak dalam syariatnya. Hal ini disebabkan karena syariat yang sempurna ditetapkan hanya kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Pamungkas Para Nabi dan Rasul. Karena itu, meskipun nabi dan rasul sebelumnya disebut kalangan yang Islam (berserah diri), namun mereka belum sempurna karena syariatnya masih berbeda dengan syariat agama Islam secara resmi yang diajarkan dan disempurnakan oleh Nabi Muhamad SAW sebagai oleh-oleh Isra Mikraj, lengkap dengan aqidah, Iman, Islam, dan Ihsan; syariat, thariqat, hakikat dan makrifat; zikir, fikir dan ikhtiar.

Dewasa Dengan Takwa Seutuhnya

Agama Islam dengan Islam, Iman, dan Ihsan; dengan syariat, hakikat, dan makrifat; dan dengan zikir , fikir dan ikhtiar, serta dengan berbagai kata kunci-kata kunci penting lainnya semisal asma ul husna, merupakan agama yang dewasa ketika mengungkapkan segala nama, sifat dan perbuatan dari Allah Rabbul Aalamiin yang dapat diinternalisasikan bagi semua manusia. Jadi, manusia tak perlu repot-repot membuat bentuk atau wujud antara untuk menyembah Allah SWT. Dalam Agama Islam, ketimbang menyandarkan penggambaran Yang Maha Kuasa atau Tuhan kepada dongeng warisan paganisme helenistik  yang menonjolkan kesombongan manusia sebagai Hercules atau Dewa-Dewi maupun bentuk perantara lainnya, Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW justru mengajak umat manusia untuk Iqra (simak QS 96:1-5), dan untuk membaca langsung pesan-pesan Ar Rab di segala makhluk ciptaan, termasuk di diri sendiri (simak QS 41:53, QS 51:20-21). Dengan kata lain, manusia dapat berdialog dengan Allah secara langsung melalui ibadah formal wajib, sunnah maupun perbuatan baik apa saja yang diorientasikan untuk mendapatkan Ridha Allah.

Penegasan di dalam Al Qur’an untuk menggunakan akal pikiran guna memahami al-Qur’an sebagai suatu Kitab Wahyu maupun sebagai petunjuk dan pedoman menjalani kehidupan menunjukkan sintesis intuisi-rasionalitas murni sosok Muhammad ketika ia sadar bahwa hanya dengan kedewasaan mental spiritual lah kaumnya akan bisa selamat di dunia maupun di akhirat. Khususnya, selamat dari tipu daya nafsu diri yang jahat dengan cara mengendalikan nafsu tersebut agar selalu selaras dengan Kehendak Allah.

Untuk itu, Umat Islam kemudian secara terus menerus harus (wajib) memasuki lingkaran bulan Ramadan dengan segala berkahnya, baik sebagai ujian maupun sebagai pendidikan lahir dan batin yang kontinu, konsisten dan istikamah. Jadi, dengan puasa sebagai masa ujian dan evaluasi bagi Umat Islam setelah berjuang selama 11 bulan mencari penghidupan setiap tahunnya, lahir dan batinnya kembali diuji, dievaluasi, dimurnikan, untuk kemudian dilahirkan kembali dengan kualitas yang semestinya semakin meningkat sampai ajal menjemput (yaitu kualitas Takwa).

Dengan penyucian jiwa dan beraktivitas positif selama bulan Ramadan untuk meraih Takwa, Umat Islam sebenarnya dibimbing untuk menjadi umat yang beragama dengan dewasa, bertanggung jawab dengan ilmu dan keyakinannya, umat dengan kemampuan yang mampu mengevaluasi diri dan memperbaiki diri, BUKAN LAGI umat yang terjebak ke dalam TIMEZONE kekanak-kanakkan yang hanya bisa puas diri dengan iming-iming surga dan neraka, bidadari dan bidadara, TAPI malah melalaikan bagaimana cara untuk mencapai “surganya surga” yaitu “ketakwaan sebagai hamba-Nya”. Maka, dewasalah, dan jalanilah kehidupan dimana pun dan kapan pun juga dalam nuansa kesucian jiwa dengan kesadaran untuk menjadi umat yang beragama dengan lebih dewasa dengan ketakwaan yang benar yaitu ketakwaan yang hadir setiap saat sebagai adab dan sikap Islam. Jadi bukan hanya pas bulan Ramadan saja menjadi seolah-olah Takwa.

 

Desa Sampora, Revisi terakhir 9/5/2017