China Dan Islam

Konon Surban Rosulullah yang tersimpan di Museum Topkappi itu bahannya dari China, masalah benar dan tidaknya Wallahu a’lam. Yang jelas ketika kita bicara mengenai China, kita dudukkan dulu frekuensi pikiran kita bahwa kita tidak sedang membela si Naga Sembilan atau si onta Sembilan. Kita sedang mendudukkan bahasan dengann perspektif historis dan fakta yang ada dan budaya yang masih bisa dilihat sampai hari ini.
Bercerita tentang China, bukan untuk membela Si Naga Sembilan atau Si Onta Sembilan. Tapi lebih kepada mendudukkan perkara dengan tinjauan sejarah melalui tradisi dan budaya yang sampai sekarang bisa dijadikan rujukan untuk mendapatkan fakta historis dari sebuah fenomena yang pernah terjadi. Sebagaimana kita tahu bahwa Raden Fatah Raja Demak, adalah seorang keturunan China yang bernama China pangeran Jinbun, sebagaimana kita temukan Masjid Laksamana Cheng Ho yang sampai sekarang kokoh terawat dan ramai dikunjungi masyarakat.
Orang China menyebut Nabi Muhammad adalah orang bijak. Namun panggilan untuk Nabi adalah Ma. Banyak orang China dengan nama Ma. Seperti Jack Ma pendiri Alibaba , sang miliarder yang menghentak Wallstreet, yang juga di kenal sebagai inspirator Wisedom. Banyak orang China bukan muslim tapi mereka tahu bahwa Nabi itu orang bijak. Makanya banyak orang tua memberi nama anaknya Ma. Tentunya sebagai doa agar anaknya mulia seperti Nabi. Ada sebagian kita tidak mempercayai Hadist Nabi ” Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China” Mereka bilang itu hadis gak valid . Alasannya, bagaimana mungkin Nabi Muhammad menyuruh umat Islam belajar dengan China yang komunis. Mereka gak paham bahwa komunisme di terapkan di CHina hanya di era Mao Zedong, kisaran tahun 1949.

 

Padahal Hadist Nabi itu turun ratusan tahun lalu ketika China di kenal sebagai bangsa yang paling maju peradabannya di dunia. Artinya Nabi Muhammad meminta kita umat Islam berpikir terbuka, memiliki visi dan misi, bukan sempit pandangan dan picik pemikiran.

 

Sejarah China Dan Masa Kenabian

Nabi Muhammad lahir di Makkah pada 570 dan wafat di Madinah tahun 632. Ketika Era Nabi, China berada di bawah Dinasti Tang yang kelak digantikan oleh Dinasti Song. Saat itu China mengalami “Zaman Keemasan” (Golden Age) karena maju pesat di berbagai bidang: pendidikan, seni, sastra, budaya, politik-pemerintahan, ekonomi, teknologi, dan lain sebagainya. Chang’an (kini Xi’an) sebagai ibu kota, menjelma menjadi kota kosmopolitan dan pusat peradaban yang masyhur kala itu. Banyak para sastrawan, sarjana, dan ilmuwan hebat lahir pada masa ini.
Bagaimana dengan sistem pemerintahan China ketika itu ? Dinasti Tang menerapkan sistem pemerintahan terbuka dimana hanya orang yang punya kapabilitas, kompetensi dan intelektualitas yang berhak duduk di pemerintahan serta tidak ada unsur KKN dalam semua proses. Proses seleksi sangat ketat dan terbuka.

 

Pada Dinasti Tang pula sistem clearing perdagangan imbal beli dengan jaminan emas di perkenalkan keseluruh dunia yang menjadi mitra dagangnya seperti Arab, Persia, Maroko dan Afrika Utara dan Barat lainnya melalui Jalur Sutera (Silk Road). Jadi jangan heran kalau hari ini raja Salman investasi ke Tiongkok, karena sudah sejak dahulu kerjasama itu dilaksanakan. Untuk mendukung kerjasama masa itu, Dinasti Tang menyediakan ribuan kapal dan penjelajah darat yang hebat. Juga menyediakan World Trade Center bernama Fan Fang, untuk menampung para pedagang dan pelayar dari Timur Tengah dan Afrika ini.

 
Ketika itu Jeddah yang berada di wilayah Mekah adalah pusat perdagangan dan pelayaran di Semenanjung Arabia. Kota pelabuhan ini ramai di kunjungi oleh pedagang dari berbagai belahan dunia.

 
Melalui mereka lah Nabi Muhammad Saw mendapat cerita kehebatan peradaban China. Mungkin dari cerita para pedagang inilah yang menjadi alasan logis mengapa Nabi Muhammad Saw sampai mengeluarkan sabda bahwa tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Karena kita mafhum bahwa Rosulullah juga pedagang yang jika saat ini kita kategorisasikan adalah kelas Ekspor Impor. Kelak, setelah Rasul wafat , Khalifah Usman bin Affan, menunjuk Sa’ad bin Abi Waqash pahlawan penakluk Persia untuk memimpin delegasi kaum Muslim ke China guna menjalin persahabatan dengan Dinasi Tang. Bahkan beliau konon wafat dan dimakamkan di China.
China merupakan salah satu “Rumah Muslim” kedua tertua di dunia. Masjid Kwang Ta Se di Kanton adalah masjid kedua yang dibangun umat Islam setelah Masjid Nabawi di Madinah. Jadi yang anti etnis China sebaiknya belajar sejarah. Karena kalau ada umat Islam membenci etnis China memang lucu, apalagi mengkampanyekan kebaikan seseorang hanya dengan melihat asal usul. Mari kita gunakan logika siapakah yang lebih baik? apakah etnis atau pribumi lebih baik? Bukankah Baik buruk orang itu bukan ditentukan oleh etnis tapi oleh akhlaknya? dan kita juga faham bahwa dasar dari akhlaq adalah ilmu pengetahuan, kemampuan berbagi dan berdamai karena Allah.
Akui sajalah. Kalau soal urusan dunia, China lebih hebat dari kita. Kenapa gak mau belajar dari China? Bukankah Tuhanmu menciptakan menciptakan kamu dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan, dan Tuhanmu juga menjadikan mereka bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan tujuan untuk saling mengenal?.

Pemahaman Islam di China

Seorang sahabat pernah Ziarah di Makam Said bin Abi Waqosh di China, ia menceritakan betapa ramah dan hangat sambutan warga muslim China kepada para peziarah, sempat juga ada cerita seorang teman yang melakukan kunjungan di China dan mengikuti rangkaian Shalat Jum’at yang menurut teman saya, itu Jum’atan terlama yang pernah ia ikuti. Rangkaian keseluruhan dimulai Khatmil Qur’an bersama Jama’ah, Istighasah, dilanjut Khutbah dan Shalat Jum’at yang jika dihitung jumlah jam, semua kegiatan dilakukan selama 3’5 jam.

 

Lima tahun lalu saya mampir di toko buku yang ada di Bandara Hong Kong. Saya terkejut karena ada terjemahan buku dalam bahasa Inggris yang di tulis oleh Wang Tai Yu, judulnya ” Chinese Gleams of Sufi Light”. Wang adalah Ulama’ dan juga intelektual Islam di China abad 17. Saya langsung beli. Mengapa? Karena menurut cerita orang orang yang sudah baca, buku ini bisa membuka tabir bagaimana sebetulnya orang China memandang Islam. Sebelum abad 17, para ulama besar China menulis buku berisi tentang bagaimana memahami ajaran Islam, bukan bagaimana Islam bisa melahirkan semangat kemandirian ditengah masyarakat. Bagaimana mentranformasi dari masyarakat yang narimo, apatis , pesimis, korup menjadi masyarakat yang progressive, passion, memiliki keikhlasan.

 
Komunitas Islam di China tumbuh seperti itu dan Wang menangkap bahaya untuk eksitensi Islam. Karena itulah dia terpanggil menulis. Buku tersebut mengubah prakonsepsi – prakonsepsi tentang peran Islam di China. Seorang perwira Militer China, ketika saya tanya mengenai buku Wang, dia mengatakan bahwa apa yang ditulis oleh Wang tentang Islam, menyimpulkan bahwa Islam adalah ajaran yang luar biasa. Dan kami mengakui itu. Kehebatan Wang dalam menyapaikan ajaran Islam itu, dia tidak sama sekali menghilangkan ajaran konfusian, namun dia menyebut dengan Neo Konfusian. Cara dia menyampaikan ajaran itu tidak menggunakan bahasa Arab tapi menggunakan padanan bahasa yang ada pada Konfusiasisme, Taoisme dan Budhisme. Tradisi China yang memang tidak melanggar Tauhid, ya tidak dihapus atau tidak dikatakan bid’ah. Dan kalaupun dinilai melanggar Tauhid maka diluruskan dengan modifikasi yang tetap tidak menghilangkan tradisi China. Seperti cara Walisongo menyiarkan Islam di tanah Jawa. Tradisi Jawa tidak dihilangkan, namun diperbaiki sesuai dengan prinsip Tauhid.
Walau Partai komunis selama revolusi kebudayaan melarang umat Islam melaksanakan ritual agama secara bebas namun hakikat Islam tetap hidup di dalam jiwa orang china. Mengapa ? Karena Agama dan budaya melekat dalam diri mereka. Sehingga tidak sulit menyebar kepada non Islam. Mungkin sebagian besar orang China tidak mengucapkan dua kalimat syahadat. Tapi mereka paham konsep Tuhan dalam Islam dan mengakui bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah dan tiada tuhan selain Allah. Tentu mereka tidak menyebut seperti bahasa Arab, yaitu Allah tapi dalam bahasa China seperti Chen Chu atau Tuhan sejati atau Chen-I atau Esa sejati, atau Chen Tsai atau Penguasa sejati .Ya sama seperti orang Jawa menyebut Allah, Gusti Pengeran, dan lain sebagainya. Sementara sebutan Rasul adalah Sheng -Hsien atau orang-orang arif dan berguna. Sama seperti orang Jawa menyebut Rasul, Kanjeng Nabi.

 

Neo Konfusian

 

Sementara ajaran Islam itu mereka sebut Ch’ing- Chen Chiao yang jika diterjemahkan artinya ajaran yang suci dan sejati. Mereka tidak membaca Al Quran tapi buku yang ditulis ulama China mereka baca dan pahami. Mereka tidak perlu pertanyakan apakah tafsir itu benar atau salah. Selagi tidak bertentangan dengan budaya atau tradisi mereka, ya itu dianggap sudah benar. Bagi mereka, Agama selain bagai elang yang terbang dengan idealisme spiritual yang tinggi untuk mencapai kesempurnaan pribadi, tetapi juga membumi bagai induk ayam yang terlibat secara etis pragmatis dalam keseharian. Paham Neo Konfusian itu sebagai lampu rakyat China bagaimana mereka membangun peradaban.
Melihat Islam di China jangan hanya melihat suku Urghu yang pakai baju gamis dan berjenggot. Tapi anda harus melihat tradisi China lainnya yang memang Islami. Karena bersumber dari Islam itu sendiri. Mereka pekerja keras, patuh kepada orang tua, setia kawan, patuh pada negara, berpikir positip, menghindari konflik, dan suka memberi dan jujur serta rendah hati. Mereka cerdas menyikapi fenomena zaman. Mereka menerima Komunisme tapi tidak menjalankan cara berpikir Karl Mark. Komunisme hanya di pakai sebagai metodelogi mengelola masyarakat. Mereka gunakan Sosialisme untuk melindungi rakyat yang lemah dan menjadikan Kapitalisme untuk lahirnya kemampuan bersaing bagi mereka yang kuat. Dan negara ada ditengah tengah sebagai hakim untuk keadilan sosial.
Lantas apa sebetulnya kunci dari ajaran Neo Konfusian itu? ya Akhlak.! Sebagaimana Rosulullah diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan Akhlaq. Mari kita telisik lebih dalam, lantas apa agama itu sendiri? Di dalam sebuah kisah diceritakan, ada seorang lelaki menemui Rasulullah Saw dan bertanya.
” Ya Rasulullah, apakah agama itu?”
“Akhlak yang baik.” (Rosul menjawab).
Kemudian ia(si Laki-laki penanya) mendatangi Nabi Saw dari sebelah kanannya dan bertanya,
“Ya Rasulullah, apakah agama itu?”
“Akhlak yang baik.” (Rosul menjawab yang kedua kali)
Kemudian ia mendatangi Nabi Saw dari sebelah kirinya,
“Apa agama itu?”
“Akhlak yang baik.” (Rosulullah menjawab)
Kemudian ia mendatangi Nabi Muhammad Saw dari belakang dan bertanya,
”Apa agama itu?”
Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? (Agama itu akhlak yang baik). Sebagai misal, Janganlah engkau marah.”(Al-Targhib wa Al-Tarhib 3: 405).
Kiranya kita bisa lebih membuka wawasan tentang sejarah yang tentunya memiliki nilai plus dan minus dengan tidak meninggalkan kesemuanya tanpa menyaring. Atau justru mengambil semuanya tanpa melakukan verifikasi dan filterisasi untuk mendapatkan nilai-nilai keteladanan yang dapat kita jadikan sebagai teladan untuk mampu bersikap dewasa dalam laju perubahan zaman.
Ujaran kebencian dan hasutan untuk memusuhi satu etnis juga akan melahirkan luka baru terhadap sikap kebangsaan kita. Jika semua masalah akan selesai dengan memusuhi etnis, maka silahkan memusuhi etnis China, etnis Arab, etnis India, Belanda, Eropa dan lain-lainya. Saya yakin dahulu ketika Jong Java, Jong Ambon, Jong Cilebes dan lainnya mengukuhkan Ikrar mengikat diri dalam satu sumpah yang dikenal dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, karena mereka sadar bahwa mengkotak-kotakkan kelompok tidak akan memberikan solusi perubahan pada nasib bangsa saat itu.
Jika era 80 an Negeri tetangga Indonesia (Malaysia) punya prinsip “Pandanglah Ke Timur” dalam urusan pendidika, ekonomi, pembangunan, dan mengelola negara. Yang artinya dalam hal tersebut acuan dan kiblat Malaysia saat itu adalah Inggris dan negara maju lainnya, Kita, bangsa Indonesia memiliki kekayaan dan nilai-nilai luhur budaya dan bangsa yang ada pada Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Nasionalisme, dan UUD 1945. Dari nilai inilah kita mampu bersama walaupun beda pandangan.
**Diolah dari berbagai Sumber oleh: Nuruddin, Salah satu pimpinan Media Lakpesdam Tulungagung dan Dosen Muda di STAI Diponegoro Tulungagung.

sumber :  http://www.lakpesdamtulungagung.or.id/china-dan-islam/