Bom Kampung Melayu, Teror Menjelang Ramadan

Nggak ada hujan, nggak ada angin, hanya saja musim memang berhembus menjelang ramadan, tiba-tiba malam Kamis di Kampung Melayu dikejutkan dengan ledakan bom. Dua kali berturut-turut kata beberapa breaking news yang melintas via WAG dan kemudian tayang di bedia televisi berita INews. Hah… ada apa pula ini? Seolah momentum meledaknya bom di Kampung Melayu Indonesia mengiringi ledakan beberapa hari sebelumnya di Manchester Inggris saat ramai-ramainya konser penyanyi pop wanita Ariana Grande.

Bom Lagi, Teror Lagi?

Sontak semua WA , Facebook, Twitter, media TV, radio dan yang lainnya pun membuncah ruah memuntahkan  berita bom lokal, bom yang kemudian diketahui meledak di sekitar halte Trans Jakarta di tengah acara pawai obor menyambut bulan Ramadan dua hari lagi. Koran kertas tentu saja bakal ketinggalan berita soalnya esok libur nasional memperingati Isa Al Masih. Biar sajalah toh era media kertas sudah menuju kepunahan digantikan dengan media daring dan medsos dijital.

Pertanyaan pertama saya yang muncul ada apa dan kenapa di Kampung Melayu? Kemudian relasi asosiatif pun muncul di kepala adakah relasi langsung atau tidak dengan bom yang meledak di Manchester yang menewaskan puluhan orang, umumnya remaja, di tengah hiruk pikuk konser musik pop. Apalagi kemudian diketahui kalau pelakunya juga masih usia remaja yang diketahui terkait dengan radikalisme dan Al-Qaeda.

Pikiran lain susul menyusul sampai muncul suatu was-was, bah….apa ada yang mau menjalankan skenario heroisasi ditengah hiruk pikuk pilkada DKI yang mestinya sudah usai tapi malah masih berbuntut panjang yang mengakibatkan institusi Polri banyak menerima kecaman karena dituding menerapkan standar ganda dan melakukan tindakan terang-terangan melindungi Ahok yang sudah divonis dua tahun, meskipun belakangan Ahok pun menerima vonis itu?

Citra polisi memang belakangan ini makin terpuruk karena ikut terseret dalam arus politik kekuasaan dengan menarapkan standar ganda yang terang-terangan dan tidak dapat lagi disembunyikan. Tentu saja yang pertama kena tembak adalah Kapolri yang akhirnya dipanggil oleh DPR untuk menjelaskan tindakannya selama ini. Memang, kalau menurut terawangan saya, institusi Polri tanpa malu menunjukkan keberpihakannya dalam masalah pilkada DKI sampai-sampai muncul kriminalisasi ulama dan tokoh agama khususnya agama Islam. Dan BOMMM… radikalisme pun menyeruak seolah memamerkan wajahnya dan mengamini sinyalemen, dugaan, teori dan segala macam  kasak kusuk selama ini kalau muncul gerakan-gerakan radikal di masjid-masjid kampus seperti dituduhkan oleh salah satu tokoh Nahdatul Ulama.

Berbagai teori konspirasipun akhirnya bersliweran di media social dan media daring. Himbauan untuk tidak membagikan gambar-gambar mengerikan akibat bom Melayu pun bersliweran juga. Betul ini saya setuju, gak ada gunanya memerkan foto-foto ceceran darah dan potongan tubuh manusia. Selain tidak etis, juga malah akan menyenangkan pihak-pihak yang suka menebar teror. Baik itu di pihak teroris sendiri maupun pihak anti teror yang malah saling berkelindan bersama-sama menyebarkan teror kepada masyarakat melalui media digital, baik medsos maupun media daring.

Asli atau Rekayasa?

Saking gamblangnya skenario bom bunuh diri ini (seolah-olah terbaca), ada aja orang yang melakukan analisis untuk dapat membedakan antara bom bunuh diri asli dengan yang rekayasa atau pesanan pihak-pihak tertentu dengan memanfaatkan kelompok atau pun individu labil dan gagal paham. Misalnya, analisa dari JDUK (Jaringan Demokrasi Untuk Institusi) yang menyebar melalui WAG. Menurut JDUK, mudah sekali membedakan antara bom bunuh diri asli dan yang rekayasa. Berikut ini kesimpulan yang saya kutip dari salah satu pesan WA JDUK yang mampir ke hape saya :

1. Yang asli, korban meninggal diatas belasan hingga puluhan orang. Ingat berita-berita bom bunuh diri di Timur tengah atau negara yang terlibat konflik!
2. Yang palsu korban tewas 2 sd 3 orang yang lainnya hanya luka -luka dan tidak sampai meninggal!
3. Yang Asli akan memposting pesan ancaman yang ditujukan pada pihak tertentu sebelum melakukan aksinya melalui video!
4. Yang palsu, tidak ada pesan sama sekali!
5. Yang asli jika berhasil pasti akan mengaku sebagai pihak bertanggung jawab
6. Yang palsu tidak ada yang mengaku bertanggungjawab!
7. Sasaran bom bunuh diri asli adalah pusat keramaian
8. Yang palsu menjauhi pusat keramaian!

Karena ini rekayasa bom bunuh diri, sebentar lagi framing pemberitaan media akan mengarah pada satu topik bahwa pelakunya adalah Islam radikal?

Tuduhan akan diarahkan kepada FPI? Apakah FPI pernah melakukan hal ini? Sudah tentu tidak?

Juga akan diarahkan ke HTI, HTI juga tidak!Apakah Muhammadiyah atau NU? Jelas tidak!

Apakah ada organisasi pergerakan Islam di Indonesia yang mengancam pemerintah dengan bom bunuh diri? Jelas tidak!

Berarti itu kesimpulannya adakah REKAYASA!

Nah, begitulah, apakah Bom Kampung Melayu bom bunuh diri asli atau rekayasa? Hanya Tuhan yang kelak akan memastikan.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, semoga yang menjadi korban bom diterima disisi Allah SWT sesuai keyakinan masing-masing, yang luka-luka cepat kembali pulih, dan yang waras cepat kembali sadar kalau penyelesaian konflik dengan bam-bim-bom melanggar semua aturan, baik aturan manusia maupun dan  bahkan aturan Allah SWT yang sejatinya dialah yang mempunyai hak pada semua makhlukNya.

 

Kampung Sampora, 25/5/2017, by @tm