Kedewasaan Beragama Dengan Takwa

Berserah Diri

Berserah diri merupakan suatu sikap mental yang harus ada bersama-sama dengan sikap istikamah. Bila salah satunya tidak ada, maka kita akan bergeser dari lintasan optimum perjalanan kehidupan. Hal ini ditegaskan di dalam Al Qur’an :

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (QS. 31:22)

Berpegang pada buhul tali yang kokoh adalah makna lain dari keteguhan, konsistensi alias istikamah dengan pedoman yang benar (al-Qur’an dan sunnaturasul). Berserah diri sudah menjadi bagian dari sikap dan Jalan Ilahiyah sejak zaman Nabi Adam a.s sampai Nabi Muhammad saw. Karena itu sikap berserah diri dengan istikamah merupakan adab dan ciri-ciri dari sikap Para Nabi dan Rasul di hadapan Allah SWT. Bahkan secara definitif, berserah diri adalah inti tauhid murni yang dinyatakan oleh Nabi Ibrahim a.s dalam Qs 2:131-132 ketika ia tertunduk di hadapan Tuhannya dengan “Aslim” yang diwasiatkan kepada anak-anaknya,

 

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab:

“Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”.

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata):

“Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

(QS 2:131-132)

 

Ayat-ayat berikut mengatakan tentang berserah diri sebagai suatu ciri Ilahiyah dan sikap para nabi dan rasul.

 

Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku (Nuh A.S) disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)”. (QS. 10:72)

 

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”. (QS. 3:67)

 

Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri”. (QS. 10:84)

 

Dan Ya’qub berkata:”Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri”. (QS. 12:67)

 

Berkatalah Balqis:”Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam”.(QS. 27:44)

 

Aku (Isa A.S) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku yaitu:”Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu”, danadalah aku menjadi saksi terhadap mereka. (QS. 5:117)

 

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka berkatalah dia:”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk Allah” Para hawariyyin menjawab:”Kamilah penolong-penolong Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. (QS. 3:52)

 

Katakanlah: “Sesungguhnya salatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku (Muhammad SAW) adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. 6:162-163)

 

Katakanlah:”Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah). (QS. 6:14)

 

Ayat-ayat diatas mengungkapkan bahwa berserah diri merupakan pesan utama yang disampaikan oleh Allah kepada para nabi dan rasul sebagai ciri ajaran-ajaran Ilahiyah yang mencakup Sabar, Tawakal, Sukur, dan Ikhlas. Dan semua itulah yang akhirnya membentuk Islam sebagai adab tertinggi hamba di hadapan Allah S.W.T yang menempati ruang kesadaran diri makhluk berpikir dan berpengetahuan yang lurus dan luas yaitu anak Adam dengan citarasa dan logikanya yang utuh BUKAN yang terkotak-kotak di dalam penjara egosentrisnya sendiri (simak QS 1: 7).

Lantas, dari konsep laku lampah kesadaran yang menyentuh dinding hamba Allah ini Islam diturunkan menjadi ajaran yang mengikat pemeluknya, menjadi suatu ikatan atau Agama yang diperkenalkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai suatu jalan hidup bagi manusia dengan objektif menghadirkan akhlak mulia di dunia dengan memakrifati arti dan makna kehidupan itu sendiri sebagai saksi dan bukti langsung Kemahaesaan, Kemahasucian, Kemahatinggian, dan aktualitas Nama-nama-Nya yang langsung melekat dalam citra hamba-Nya yang paripurna dengan sebutan khas mulai dari Insaana Fii Ahsaani Taqwiim, Adam Awlia, Muhammad, al-Insan al-Kamil, al-Mukmin, al-Mukminun, dan nama-nama yang baik lainnya.

 

Dari Bab 12, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi, Revisi 30/5/2017