Beras

Indonesia memang Negara beras, setidaknya masyarakatnya masih mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok. Meskipun dulu pernah sukses berswasembada beras, belakangan ini malah beras yang ada di Indonesia adalah beras import. Nah, belakangan ini isi beras sedang mengemuka karena penggerebekan apparat pemerintah ke sebuah gudang perusahaan beras di Bekasi yang terkenal sebagai produsen beras merek “Maknyuss” dan “Cap Ayam Jago” . Celakanya penggerebekan ini nampaknya membuat masalah karena alasan penggerebekkan dicurigai dimotivasi persaingan dagang dan politis. Maklum, salah satu komisaris perusahaan yang digrebek merupakan mantan mentri pertaniaj era sebelumnya dan juga pejabat partai politik PKS. Jadi, ada kesan yang akhirnya menggulirkan wacana publik seputar alasan penggerebekkan yang belakangan makin membuktikan kebodohan apparat atas apa yang telah dilakukannya tanpa informasi yang solid dan valid alias didasarkan pada informasi yang nampaknya “oplosan” untuk tujuan tertentu yang kurang baik.

Mencermati masalah beras, pemerhati aktivitas social media Dr. Fahmi Ismail memaparkan temuan yang menarik dengan menggunakan drone virtualnya yang terkenal yaitu drone emprit. Nah, begini analisa Ismail Fahmi atas fenomena “beras’ belakangan ini yang mengegeser popularitas masalah korupsi E-KTP dan peraturan pemerintah mengenaoi pembubabaran parpol.

ooOOoo

Tak dapat dipungkiri, setelah sebelumnya kita sibuk dengan isu e-KTP, dan minggu lalu dengan isu PT 20%, sekarang kita sibuk dengan isu baru, yaitu penggrebekan gudang beras Maknyuss yang dituduh melakukan pengoplosan. Media dan publik tak berdaya, harus mengikuti setiap isu baru dengan penuh semangat, dan melupakan isu-isu sebelumnya.
Allright. Sekarang kita lihat insight apa yang bisa diambil dari Drone Emprit terkait isu baru ini. Untuk mendapatkan percakapan yang lebih lengkap, kita gunakan kata kunci “beras”. Kata kunci “maknyuss” juga digunakan, tetapi hasilnya spesifik hanya yang mengandung maknyuss saja. Dengan kata kunci “beras” kita dapatkan percakapan yg lebih banyak, namun konteksnya masih sama.

Pro-Kontra di Sosmed

Di sosmed khususnya Twitter, percakapan tentang “beras” ini memperlihatkan adanya polarisasi pro dan kontra. Pro terhadap penggrebekan, dan yang kontra.

Di antara mereka yang pro, terdapat akun @DennySiregar7, @TolakBigotRI, @STNatanegara, @Rustamibrahim, @TodungLubis, dan tentu saja akun pemerintah @kementan dan @gopetani. Ukuran cluster yang pro ini sangat kecil, dibandingkan dengan cluster yang kontra.

Pada cluster kontra terdapat akun seperti @saididu, @maspiyuu, @Ronin1948, @CondetWarrior, dkk. Di antara mereka, Said Didu yang paling banyak mendapat retweet. Dia menulis sebuah kultwit menjelaskan pendapatnya soal beras, subsidi, HPP, dll. Tampaknya penjelasan yang cukup komprehensif ini memberi pengaruh yang cukup besar dalam percakapan, dan juga sebagian berita di media.

Mereka yang pro, ternyata sebagian besar mengaitkan isu ini dengan PKS. Karena ada tokoh PKS dalam jajaran komisaris perusahaan beras Maknyuss, isu ini dimanfaatkan untuk menyerang partai tersebut. Di samping grafik SNA disertakan beberapa status paling banyak diretweet dalam masing-masing cluster.

Sementara mereka yang kontra, melihat penggrebekan ini sebagai bentuk perang dagang, persaingan bisnis, yang memafaatkan aparat negara; menunjukkan tidak logisnya beberapa pernyataan aparat seperti kerugian negara yang ratusan trilyun, tidak bolehnya petani menjual dengan harga lebih mahal, dll.

Media Online

Jika media sosial lebih banyak yang kontra, bagaimana dengan media online?

Dari peta topik (topic map) artikel-artikel berita online, ada kecenderungan lebih banyak media yang memberitakan pernyataan dari aparat, proses hukum dan penyelidikan, jatuh bebasnya saham perusahaan, dan menggunakan istilah “beras oplosan” untuk memberi label negatif pada Maknyuss.

Jika di media sosial banyak disebutkan para ibu memborong beras Makyuss, sebaliknya di media online banyak diberitakan kalau beberapa pedagang menolak dan mengembalikan beras Maknyuss ke distributor. Membaca medsos dan membaca media online akan memberi persepsi yang berbeda.

Insight Explorer

Untuk mendapatkan insight dari data, kita tidak cukup menggunakan satu atau dua tools analysis saja. Sebuah data perlu dilihat dari berbagai sudut. Beberapa fitur analisis Drone Emprit hanya disertakan saja tanpa analisa di status ini, buat siapapun yang berminat.

 

sumber : FB Ismail Fahmi