Basuki Cahaya Purnama Alias Ahok Akhirnya Divonis 2 Tahun Penjara

Akhirnya, setelah menggelar sidang selama hampir setengah tahun, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) divonis 2 tahun penjara karena terbukti melakukan penodaan agama karena menyebut surat Al Maidah ayat 51 saat bertemu warga. Majelis hakim menegaskan, perkara Ahok bukan terkait pilkada melainkan perkara murni pidana.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah menyampaikan tuntutan hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan selama 2 tahun.

Merubah Indonesia

Majelis hakim juga bicara soal buku Ahok berjudul “Merubah Indonesia”. Di buku itu Ahok sudah menyebut surat Al Maidah terkait karir politiknya.

“Tentang pernyataan penasihat hukum yang menyatakan terdakwa dalam buku Merubah Indonesia yang diterbitkan tahun 2008 sudah menyebut surat Al Maidah ayat 51 tetapi buku itu tidak pernah dipersoalkan, sampai sekarang tidak dilarang peredarannya,” ujar hakim.

“Menurut pengadilan apa yang ditulis Ahok dalam bukunya berjudul Merubah Indonesia tidak dapat disamakan dengan perkara terjadi di Pulau Seribu,” tegas hakim.

Penodaan Agama Di  Pulau Seribu

Majelis hakim menyebut penodaan agama dengan penyebutan surat Al Maidah dalam sambutannya saat bertemu warga di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Kalimat Ahok yang dinyatakan menodai agama yakni “jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu nggak bisa pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, enggak apa-apa.”

“Dari ucapan tersebut terdakwa telah menganggap surat Al Maidah adalah alat untuk membohongi umat atau masyarakat, atau surat Al Maidah 51 sebagai sumber kebohongan dan dengan adanya anggapan demikian maka menurut pengadilan terdakwa telah merendahkan dan menghina surat Al Maidah ayat 51,” papar hakim dalam pertimbangan hukum.

Reaksi Beberapa Kalangan

Menanggapi sidang vonis terhadap Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atas kasus dugaan penistaan agama yang digelar hari ini, Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat mengimbau pada seluruh masyarakat agar nantinya menghormati putusan Majelis Hakim.

“Kita minta seluruh masyarakat untuk menghormati dan menghargai apapun yang menjadi keputusan Dewan Hakim, itu aja, doa saja,” ujar Djarot, saat ditemui di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (9/5/2017).

Gubernur terpilih Jakarta periode 2017-2022 Anies Baswedan ikut menanggapi vonis yang diberikan majelis hakim Pengadilan negeri Jakarta Utara kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam kasus penistaan agama.

Ia mengatakan prinsipnya sebagai warga negara yang baik harus menghormati hukum dan undang-undang.

“Kita hormati undang-undang, hormat pada aturan, termasuk keputusan-keputusan institusi pengadilan, kita hormati,” kata Anies di Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa, (9/5/2017).

Ketua DPR RI Setya Novanto meminta semua pihak untuk menerima keputusan vonis Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dalam sidang penodaan agama.

“Saya meminta semua pihak untuk menerima apapun hasil akhir melalui vonis hakim,” ujar Novanto, Selasa (9/5/2017).

Massa anti Ahok sontak meneriakkan takbir setelah hakim menjatuhkan vonis 2 tahun penjara terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam kasus penistaan agama.

Mereka sempat terdiam ketika hakim menyebutkan bahwa hukuman yang diberikan kepada Ahok hanya 2 tahun penjara.

Massa Kontra dalam sidang penodaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) perlahan membubarkan diri. Setelah pembacaan vonis dua tahun penjara oleh majelis hakim, mobil komando menginstruksikan massa yang terdiri dari mayoritas umat Islam tersebut perlahan-lahan mundur dari tempat.

Sementara massa pro Ahok dikabarkan merajuk dan menangis mefraung-raung sambil melakukan unjuk rasa sampai malam di depan penjara Cipinang dan meminta terpidana Ahok berpidato.

 

berbagai sumber