Apakah Sabar ada Batasnya?

Mungkin Anda suatu saat pernah berteriak marah-marah, “Sabar, sabar, sampai kapan gue mau bersabar???”. Itulah sekelumit tentang sabar yang sering kita dengar. Dalam suatu iklan rokok di Bulan Ramadan, pernah ditayangkan adegan kesabaran seseorang yang beberapa kali “dikerjain” ketika dalam perjalanan pulang mudiknya di bulan Ramadan dengan suatu pesan yang menggelitik “Sampai seberapa jauh kesabaran Anda”.

Sabar nampaknya memang berkaitan erat dengan upaya untuk menahan diri dari berbagai gejolak perasaan. Menahan diri dalam arti dengan suatu ketetapan bahwa ia masih bisa mengendalikan amarahnya yang siap merebut tempat di sistem kalbunya. Jika saja seseorang tidak teguh dalam sikap kesabarannya, mungkin umpatan dan caci maki seperti yang diungkapkan dalam awal paragraf diatas menjadi kenyataan.

Kesabaran mungkin salah satu sikap yang barangkali bagi sebagian besar orang nampak sulit diraih. Namun sebagian lagi mungkin membuat orang geleng-geleng kepala melihat bagaimana seseorang bisa dengan tenangnya menghadapi sikap jahil orang lain. Bahkan boleh jadi orang yang sangat sabar dikira orang tolol karena seolah menjadi dingin, cuek, bahkan mungkin dikira penakut atau pengecut kendati ia dihina sekalipun.

Sikap sabar didalam al-Qur’an mempunyai makna yang sangat ruhaniah, yang mencirikan sikap seorang Muslim. Beberapa ayat berikut saya kutipkan untuk menggambarkan bagaimana Allah SWT melukiskan sikap sabar,

 

Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya`qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”(QS 12:18)

 

Ya`qub berkata: “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”(QS 12:83)

Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”.(QS 12:90)

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar (Q3 16:126-128)

Demi masa, sesunggunya manusia itu selalu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran(QS 103:1-3)

 

Tiga ayat yang pertama menunjukkan kesabaran Nabi Ya’qub yang legendaris ketika ia mendapati bahwa Nabi Yusuf a.s yang disayanginya dikabarkan mengalami suatu malapetaka oleh para saudaranya yang culas. Namun, Nabi Ya’qub yang terkenal dengan kesabarannya justru menyerahkan semua itu kepada Allah semata. Sedangkan pada QS 12:90 Nabi Yusuf a.s. yang pernah dicelakai oleh para saudaranya, kemudian memaafkan mereka dengan suatu petuah yang menyatakan bahwa kesabaran dan ketakwaannya merupakan karunia baginya sehingga ia tidak menuntut balas atas perbuatan saudaranya dahulu.

Pada ayat selanjutnya, Allah mempertegas bahwa kesabaran mendatangkan berkah bagi yang menetapinya. Artinya, kesabaran seseorang hakikatnya berkaitan dengan sikap berserah diri kepada Allah SWT atas semua perbuatan yang menyakitkan yang telah diterimanya. Maka kesabaran memang akhirnya berkaitan dengan sikap berserah diri, istikamah, tawakal, keteguhan, dan kesalehan yang merupakan ciri-ciri bagi mereka yang menetapi jalan lurus dimana hanya ridha Allah semata yang diharapkannya.

Sikap sabar secara langsung sebenarnya meredam bara api amarah yang merupakan jalan masuk Iblis dan dendam yang juga merupakan karakter Iblis yang membangkang perintah Allah SWT karena kesombongannya. Boleh juga dikatakan bahwa sabar merupakan suatu perisai yang ampuh untuk menghadapi berbagai sikap yang tidak menyenangkan sampai menyakitkan. Dalam beberapa surat Allah telah memuji sikap sabar dengan menyebut dalam firman-Nya:

 

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS 39:10)

 

Menurut as-Sarraj dalam kitab klasik Tasawuf al-Luma, adapun orang yang bersabar adalah mereka yang kesabarannya demi Allah (fillah), karena Allah(lillah), dan dengan Allah (billah). Bahkan dalam beberapa aspek bersama Allah (ma’allah) dan dari Allah (‘anillah). Orang yang demikian, jika saja seluruh cobaan menimpanya maka dari segi kewajiban dan hakikat tidak akan melemahkannya. Namun ia tetap kuat menghadapinya, sekalipun dari segi bentuk dan rupa akan berubah.

Kalau kita kaitkan pengertian sabar diatas dengan ar-Rahiim Allah yang menyatakan ampunan dan pertolongan-Nya maka sifat sabar sebenarnya terkait erat dengan billah dan fillah dalam arti menyerahkan semua urusan kepada pertolongan Allah dan kekuatan Allah semata, sehingga dalam banyak aspek sifat sabar terkait dengan “La haula walakuwwata illa billah(Tiada daya dan kekuatan kecuali pertongan Allah semata)”. Maka sabar pun kemudian muncul menjadi kekuatan yang bersandar kepada kekuatan Allah SWT yang tak berbatas dan menjadi komponen utama untuk berserah diri kepada Allah SWT. Inilah sikap dan kekuatan yang bisa melumpuhkan kekuatan jin, Iblis, dan setan.

As-Syibli, seorang sufi generasi awal menggambarkan tentang kesabaran dengan beberapa bait syair berikut :

tetesan airmata mengukir garis di pipi, yang akan dibaca oleh orang yang tak mampu membaca dengan baik. Sesungguhnya suara orang yang cinta dari pedihnya kerinduan dan takut berpisah selalu mendera. Orang yang sabar selalu memohon pertolongan dari-Nya untuk bisa bersabar, para pecinta meneriakkan kata: sabarlah.

Syair as-Syibli diatas mengungkapkan bahwa kesabaran juga berkaitan dengan pemenuhan kerinduan dari kekasih yang dirindukan-Nya yaitu Allah SWT, difirmankan bahwa

“Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.(QS 90:17)”

Sikap sabar juga yang menyebabkan Nabi Ibrahim a.s memahami makna perintah Allah ketika ia diperintahkan untuk menyembelih anak kesayangannya Ismail, sehingga ia tidak menjadi ragu atas perintah yang sekilas ir-rasional kalau ia memaksakan akalnya. Jadi sikap sabar sejatinya menunjukkan kualitas keimanan seseorang.

 

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(QS 37:102)

Demikian juga, dalam menjalankan perintah-perintah Allah SWT, kesabaran merupakan suatu sikap yang penting agar diperoleh kualitas penghambaan yang hakiki baik sebagai suatu sikap istikamah maupun berserah diri

Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.(QS 74:7)

Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. (QS 76:24)

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. (QS 8:46)

Dalam banyak aspek, sikap sabar menuntut adanya tawakal seperti difirmankan,

 

Mengapa Kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri”. (QS 14:12)

Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada Tuhannya. (QS 29:58-59)

Jadi, sabar itu tidak mempunyai batas, dan dengan demikian kalimat yang sering diungkapkan oleh banyak orang “sabar itu ada batasnya” adalah suatu kekeliruan. Tumbuhnya kesabaran di bumi hati seseorang bagaikan tumbuhnya sulur-sulur keimanan, yang menjulur kelangit, yang menguatkan tangga-tangga makrifat, yang diturunkan para malaikat untuk menyambut salik yang berjalan dengan kesabaran menuju penyaksian kepada-Nya. Maka sabar pun tak berbatas karena dasar dan langit-langitnya berada dalam celupan KemahakuasaanNya.

 

Dari Bab 13, Menaklukkan Gunung Kesombongan Jiwa, by @tmonadi, Revisi 31/5/2017