Apa Arti Nabi & Rasul Terakhir

Bermunculannya kelompok-kelompok agama di dalam kalangan yang “mengaku Islam” belakangan ini merupakan suatu tanda yang memang mengkhawatirkan. Kekhawatiran ini bukan sekedar khawatir karena akan rusaknya akidah dan sendi-sendi keyakinan Umat Islam kebanyakan. Namun, langsung menohok pada tiang dari Agama Islam itu sendiri dengan bermunculannya kelompok yang membedakan diri tatacara ibadahnya. Kelompok-kelompok ini umumnya muncul dengan pengakuan yang tidak fair karena mengaku juga bernama Islam juga. Padahal sendi-sendi utamanya sebagai keyakinan agama yang disebut Islam justru tidak merefleksikan Islam sebagai Agama maupun Islam sebagai adab makhluk di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Gerakan demikian sebenarnya bukan hal baru dalam dunia Islam. Bahkan kalau kita menengok sejarah, semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup pun ada kelompok-kelompok yang mengaku-aku. Baik mengaku Nabi maupun mengaku Utusan Tuhan. Waktu itu, memang belum ada yang mengaku Islam karena Islam sendiri secara definitif di masa kenabian memang belum menjadi suatu Identitas komunal yang kokoh. Tapi itu dulu sekali, zaman Nabi Muhammad SAW ketika hampir sebagian besar masyarakat jahiliyah dalam arti kiasan maupun sesungguhnya.

Jadi, kalau hari ini ada orang yang menganggap manusia lainnya jahiliyah dalam arti persis sama seperti masyarakat Arab dulu, orang itu saya katakan arogan dan melecehkan manusia. Mungkin benar kalau orang zaman sekarang tahu tentang agama tapi enggan melaksanakan. Dan mungkin juga pantas dalam hal-hal tertentu “Tindakan”-nya disebut jahiliyah. Jadi, kejahiliyahan masa kini lebih bersifat kiasan untuk menunjukkan karakter jiwa yang lemah dan rapuh karena lalai melupakan ajaran yang benar. Jadi, mungkin malah lebih tepat “Summum Bukmum dan Umyun”. Jadi, sebutan jahiliyyah di masa kini tidak harus sama maknanya dengan masa lalu , meskipun prinsipnya sama yaitu orang yang Bodoh dalam memaknai maupun memahami kehidupan dan kematiannya.

Ketika Nabi Muhamad SAW wafat, perpecahan dalam Islam sebagai Umat yang mempunyai sistem sosial dan peribadahan yang baku, dan disempurnakan sebagai agama seperti tersirat dalam surat al-Hajj, muncul ke tingkat semantik-logika. Islam sebagai label kemudian menjadi produk semantik dan saat itu lah perpecahan yang melibatkan nama Islam sebagai label mulai terjadi sampai akhirnya muncul kelompok Sunni yang patuh kepada pesan-pesan Islam dan Syi’ah yang menuntut dari sudut pandang pewarisan.

Syi’ah sebenarnya kelompok yang masih mengekang diri untuk tidak mengangkat Sayyidina Ali KWJ sebagai Nabi baru Umat Islam sebagai konsekuensi fanatismenya terhadap keluarga Nabi Muhammad SAW yang dianggap secara genetis pewaris yang sah sebagai Khalifah. Gagasan fanatisme ini sebenarnya warisan dari era kerajaan-kerajaan Kuno di Timur dan Mediterania. Khususnya dari daerah Persia yang dulu memang merupakan salah satu Kekaisaran.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya Isalam hari ini kalau dulu pemimpin Syiah memproklamirkan Ali sebagai Nabi atau Hasan dan Husein sebagai Nabi meneruskan nabi Muhammad SAW. Pastilah wajah Agama Islam hari ini amat sangat berbeda. Untungnya hal itu tidak terjadi. Meskipun begitu Syi’ah akhirnya membangun lingkungan sosial sendiri dengan konsep-konsep keruhanian yang berdasarkan pada konsep Imamiyah lengkap dengan ide Imam Mahdi-nya warisan ajaran Yudeo-Kristen kuno seperti terekam pada kisah Yesus dengan 12 muridnya dan tentunya dengan kisah Pracleitos-nya, armageddon, serta mitologi keruhanian menjelang hari kiamat lainnya.

Semua pengakuan maupun klaim yang muncul diantara Umat Islam (sehingga secara visioner oleh Nabi Muhammad SAW kelak diprediksikan akan terpecah menjadi 73 golongan) sesungguhnya penafsiran yang jauh berada di wilayah keruhanian yang suci. Keruhanian yang suci adalah keruhanian dimana seseorang membaca Qalam Tuhan bukan dengan hawa nafsunya sendiri seperti dikisahkan didalam al-Qur’an. Muhammad pun nyaris tergelincir ke dalam hawa nafsu ketika al-Qur’an dinyatakan didalam qolbunya oleh Allah. Akhirnya, Allah menegurnya supaya jangan menggunakan hawa nafsu karena kalau itu digunakan engkau akan terjebak dalam kekeliruan untuk memahami dan menyampaikan Pesan-pesan Tuhan. Dalam ayat yang sering dijadikan senjata bagi orientalis sebagai ayat-ayat setan, Nabi memang sempat tergelincir karena melakukan kompromi dengan bergonta-ganti sesembahan. (Kisahnya simak sendiri di surat an-najm, QS 53 dan sirah Ibnu Ishaq).

Apa yang menyebabkan klaim-klaim muncul di berbagai kelompok kecil yang menjadi besar karena BLOW UP media dengan labelisasi Islam? Ada banyak hal. Namun yang paling pokok, pengakuan tersebut ternyata muncul dari ketidaktahuan mereka sendiri tentang makna kenabian dan kerasulan, serta kenapa Muhammad harus disebut Utusan Allah Yang terakhir dan tidak ada Nabi dan rasul setelahnya.

Pernyataan nabi terakhir yang dinisbahkan kepada Muhammad SAW sebenarnya justru DEKONSTRUKSI dari ikatan sejarah para “Nabi dan Rasul” yang dulu dianut oleh Kaum Yahudi (simak tulisan saya yang ini). Dekonstruksi itu menyangkut metode maupun cara penyampaian pesan-pesan-Nya yang kelak menjadi al-Qur’an sebagai Induk Seluruh Kitab. Meskipun disebut penutup Nabi dan Rasul, keterputusan itu bukan sebagai keterputusan wahyu Tuhan . Wahyu Tuhan setiap saat berjalan sesuai dengan hukum-hukum dan sifat-sifatNya yang Maha Hidup. Jadi, kalangan yang mengira pengertian Utusan Terakhir sama dengan berhentinya wahyu pun mengalami kekeliruan.

Dekonstruksi bahwa Muhammad SAW Utusan Allah terakhir adalah dekonstruksi total karena prinsip-prinsip dasar untuk memahami kehidupan, menafsirkannya, dan menyatakannya sebagai bukti Allah, al-Hayyu, al-Qayum dimana manifestasinya adalah sosok Muhammad yang berakhlak mulia dengan menjunjung serta menghargai kehidupan dibawah naungan kalimat Bismillahir al-Rahmaan al-Rahiim bagi seluruh makhluk sebagai Rahmat telah disempurnakan oleh Muhammad SAW yang hidup dari 571 sampai 623 M.

Dan replikasinya (pewaris pengetahuan Muhammad) adalah mereka yang mewarisi pengetahuan itu dengan benar. Oleh ibnu Arabi, manusia yang mewarisi dengan benar disebut al-Mahdi tapi bukan berarti Nabi maupun Rasul. Bahkan bisa jadi ia sosok sederhana seperti sosok …. Yang baru saja wafat di Jogja. Sehingga dikiaskan dalam al-Quir’an seolah mereka bagaikan Bapak yang melihat anak-anaknya sendiri karena sangat familiarnya dengan isi, arti, dan makna al-Qur’an, baik yang lahiriah maupun yang tersembunyi. Bahkan dalam taraf ruhani tertentu tertentu struktur dasar al-Qur’an juga juga diketahuinya.

Namun, yang paling penting akhlaknya merefleksikan al-Qur’an. Karena itu, era Nabi dan Rasul berakhir di zaman Muhammad SAW pada tahun 623 DAN setiap orang dapat mengadopsi kandungan al-Qur’an, mengikuti akhlak Muhamad SAW kalau metodenya tepat dan yang penting kalau Allah menghendakinya demikian.

Lho, bagaimana tanda Allah menghendakinya demikian? Gampang saja, tahu semua itu tapi nggak pernah mengaku-aku jadi Nabi atau Rasul karena masanya sudah selesai. Maka jadikan dirimu Imam Mahdi atau Isa Ibnu maryam untuk dirimu sendiri. Kenalilah siapakah dirimu dan siapakah Tuhanmu. Itulah tandanya kalau Allah menghendaki, manusia akan dibawa mengarungi jejak-jejak kenabian dan mengetahui rahasia semua makhluk ciptaan, baik disebut malaikat, iblis, jin, setan, nabi, rasul, wali, maupun manusia lainnya.

Pengakuan palsu mirip dengan barang dan produk palsu. Contohnya, Bill Gate dan timnya menemukan Windows. Orang bisa saja membuat Windows yang serupa dengan program yang mirip. Tapi bukan berarti dia adalah Bill Gate dan belum tentu bisa membangun perusahaan sebesar Miocrosoft. Jauhh dech kayanya. Karenanya, meskipun orang bisa menafsirkan al-Qur’an dengan bahasa Arab yang fasih bgt sekalipun, atau bahkan bisa menyusun kodefikasi al-Qur’an, ia bukan Rasul atau Nabi karena segala informasi yang berhubungan dengan karakteristik dan prinsip dasar memahami kehidupan untuk seluruh manusia telah dinyatakan oleh Muhammad SAW di zaman dahulu. I alebih tepat dikatakan sebagai Pewaris.

Lantas, kenapa Muhammad SAW harus menyatakan atau dinyatakan oleh pengikut sesudahnya yang membangun sistem sosial yang disebut Islam sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Inilah yang disebut suatu visi besar seorang Nabi dan Rasul yang memang menyadari al-Qur’an adalah Induk Kitab, Induk semua Pengetahuan Manusia dimana basisnya adalah 10 dan 2 sebagai biner dan desimal. Dan selama manusia masih menggunakan pancainderawinya dan perasaannya dengan cara yang sama, maka tak ada lagi ilmu lainnya. Tak ada ilmu pengetahuan manusia maupun kitab agama yang tidak ditulis maupun tidak dapat diterjemahkan dengan biner dan desimal di hari ini. Makanya, Qur’an disebut Induk kitab, Muhammad sebagai Utusan Allah terakhir tidak lebih adalah karena manusia hari ini hanya membolak balik dan merinci ilmu dasar yang sudah baku.

Tak ada yang baru dalam hal ilmu apapun. Yang ada adalah rekonfigurasi2 baru, tranformasi-transformasi baru untuk memahami dan memaknai kehidupan dengan menggunakan huruf dan bilangan sehingga muncul kata dan istilah baru, muncul kalimat baru , muncul pengertian-pengertian baru (iptek) dan semua itu digunakan untuk menafsirkan kehidupan yang sama sejak dulu yaitu kehidupan di sistem tatasurya dengan bumi dan Matahari yang saling seimbang (simak QS 91:1-10 atau Qs 55:1-13). Dan hari ini, sebenarnya semua orang praktis bisa memahami hal itu, bisa memanfaatkannya meskipun belum tentu bisa memaknainya. Makanya, apa yang diketahui Nabi Muhammad SAW dulu, lantas diketahui orang masa kini gelar Nabi dan Rasul tidak lagi layak disandangkan apalagi diaku-akui. Bahkan kalaupun orang bisa menembus langit dengan Sulthan al-Khayal-nya, atau miraj seperti Nabi Muhammad SAW, juga orang itu tidak lagi menjadi Nabi dan Rasul. Mungkin lebih pantas disebut Astronot saja. Atau kalau mau istilah keren pakai saja Superman atau kalau mau lebih ke-Arab-araban gunakan saja Insan Kamil atau kalau mau nampak lebih benar gunakan gelar Syekh Juha.atau kalau mau lebih ilmiah gunakan saja sebutan manifestasi Theory of Everything, atau apalah terserah Anda.

Disinilah Visi besar Nabi Muhammad SAW berperan ketika MENDEKONSTRUKSI dengan menyatakan dirinya Nabi dan Rasul terakhir. Nabi melihat jika istilah Nabi dan Rasul tidak didekonstruksi dan ditransformasikan menjadi istilah baru akan muncul kekacauan. Sebabnya, kalau semua orang yang bisa membaca, menulis dan menafsirkan simbologi maupun makna al-Qur’an mengaku Nabi atau Rasul maka seluruh kesatuan Umat Islam yang baru lahir akan Berantakan!

Jadi, Anda bayangkan sendiri kalau kemampuan ala Nabi dan Rasul saat ini bisa dipelajari, bukan sesuatu yang istimewa lagi tetapi sudah menjadi konsumsi umum (simak tulisan saya membangun akhlak muhammad dengan berpikir intuitif dan rasional). Dan itulah tujuan Muhammad untuk meyampaikan Pengetahuan Tuhan bagi kesejahteraan semua manusia bukan bangsa Arab saja. Maka siapapun yang menabiri pengetahuan itu ia akan diadzab dengan KEBODOHAN DAN AMARAH sebagai manifestasi Allah yang Maha Menghinakan yang tidak lain adalah neraka yang disegerakan.

Nabi Muhammad SAW akhirnya menjadi Yang Terakhir untuk era mengakhiri “Nabi dan Rasul” sebagai batas antara masa sebelum Islam dan sesudah Islam dimana Islam yang kemudian berkembang harus ditranformasikan menjadi Dzikir, Fikir dan Ikhtiar, Syariat, Makrifat dan Hakikat. Pengakhiran ini juga sama artinya dengan diakhirinya “masa kemukjizatan” yang aneh-aneh seperti era kenabian Yudeo Kristen dulu. Kemukjizatan Muhammad SAW adalah al-Qur’an sebagai Kitab Induk yang jumlah ayatnya sama dengan tanda unik di jemari anak Adam.

300 tahun setelah meninggalnya Nabi , kita menyaksikan sendiri bagaimana DEKONSTRUKSI ERA KENABIAN DAN KERASULAN DITRANFSORMASIKAN dengan munculnya ilmuwan Islam yang merajai peradaban dunia. Bahkan sampai hari ini pun peninggalan mereka tetap menjadi soko guru peradaban manusia, baik disebut barat, timur, utara maupun selatan. Nama-nama beken Umat Islam di masa 3 abad pertama tahun Hijriah merupakan masa kejayaan karena berhasilnya kelompok masyarakat Mentranformasikan pesan nabi bahwa MUHAMMAD ADALAH NABI DAN RASUL TERAKHIR dan tak ada Nabi dan Rasul sesudahnya kecuali manifestasi dari mereka yang berupaya mengikuti akhlak Muhammad. Dan itulah peran dan misi Umat Islam yang abadi yang juga harus diyakini hari ini, meskipun masih banyak yang jauh dari kenyataan akhlak Muhammad SAW sesungguhnya.

Jadi, tak perlulah mengaku Nabi atau Rasul, karena pengakuan itu menujukkanketidaktahuan tentang arti dan makna Nabi dan Rasul. Cukup pelajari Isi Al Qur’an , Sunnatullah dan akhlak Muhammad dengan sugguh-sungguh, istiqomah dan taqwa maka engkau akan melihat Islam sesungguhnya, baik sebagai adab personal, sebagai agama, maupun peradaban.

Mereka yang mengaku Nabi dan Rasul hari ini adalah mereka yang telah keliru secara prinsipal karena menggunakan nafsunya sendiri dan tidak paham arti dan makna nabi dan rasul sesungguhnya.

Nah, kalau arti dan makna nabi dan rasul saja tidak tahu dan keliru, mau nyampai kemana? Nyampai di hadapan Tuhan atau di hadapan Hantu.

Atmnd114912, Bekas-I, 25/10/2007

Atmnd114912, Bekas-I, 25/10/2007, revised 27/8/2017