Al Qur’an Bukan Sekedar Produk Budaya Arab

Banyak diskursus yang berkembang dewasa ini dalam berbagai wilayah diskusi baik yang formal maupun informal tentang al-Qur’an dan kebudayaan. Dalam hal ini yang disorot adalah kebudayaan Arab sebagai tempat dimana al-Qur’an diwahyukan Allah SWT. Dengan tulisan ini saya sebenarnya lebih meyakini bahwa Al Qur’an sebagai Kitab Wahyu bagi Umat Manusia dengan nilai-nilai yang universal bukan sekedar produk budaya lokal Arab meskipun ia diturunkan di tanah Arab satu setengah milenium yang lampau.

Lokalitas & Globalitas Nilai Al Qur’an

Budaya adalah produk aktivitas manusia. Tapi budaya juga adalah implementasi manusia atas anugerah Pengetahuan Tuhan yang diberikan kepadanya untuk mengolah dan mencitarasakan dunianya, lengkap dengan konsekuensi dan akibat yang ditimbulkannya dengan aturan main yang tetap sebagai sunatullah. Turunnya al-Qur’an di Mekkah adalah skenario yang sudah direncanakan sebelum manusia eksis dengan aktor utamanya Nabi Muhammad SAW sebagai individu yang menerima anugerah pengungkapan Tatanan Pengetahuan Tuhan dengan Isra dan Mi’raj. Jadi, al-Qur’an secara definitif sebenarnya bukan milik orang Arab tetapi Milik Tuhan untuk semua makhluk-Nya dengan mediator Nabi Muhammad SAW sebagai Utusan Allah dan penyampai wahyu. Sebagai suatu kitab wahyu, Al Qur’an sendiri bukan lah kitab yang lepas dari kitab-kitab sebelumnya tetapi menyempurnakannya. Karena itu tidak mengherankan kalai nilai-nilai universalnya bias ditemukan juga di kitab wahyu maupun kitab kebajikan masa sebelumnya, baik yang diturunkan di Arab maupun belahan dunia lainnya.

Sebagai orang yang lahir di Mekkah maka Nabi Muhammad SAW kemudian mengungkapkannya kepada manusia yang paling dekat denganya yaitu dengan bahasa kaumnya yaitu dengan bahasa Arab dengan penekanan supaya manusia berpikir seperti disebutkan dalam QS 43:3. Jadi adanya Al qur’an BUKAN supaya manusia menjadi ahli tatabahasa Arab belaka. Tidak dapat dipungkiri kalau bahasa sebagai alat komunikasi menjadi sangat mendasar bagi manusia sebagai animale rationale karena dengan bahasa kita dapat memahami diri kita sendiri dan alam lingkungan kita. Sampai akhirnya pemahaman kebahasaan yang mendalam dan penuh arti dan makna dapat menjangkau harapan kita akan eksistensi pencipta kita sendiri yang kita sebut secara generik sebagai Tuhan Maha Esa. Bahasa arab di masa Nabi Muhammad kemudian muncul dengan penyempurnaan dari sistem huruf kala itu. Namun, sistem huruf Arab lebih maju dan mengandung konsep dasar bagaimana manusia memahami asma, sifat dan Af’al Tuhan yang ayat-ayatNya ada dimana-mana termasuk dalam diri manusia. Makanya, tidak heran kalau pengenalan atas keberadaan Tuhan justru dimulai dari kehambaan diri sendiri dengan menampilkan akhlak yang mulia. Sampai waktunya tiba, apa yang terserap , tersirat dan aktual kemudian ditujukan kepada keluarga dan kerabatnya kemudian meluas dalam masyarakatnya dan akhirnya mendunia. Kalau al-Qur’an produk budaya maka al-Qur’an menjadi terkontaminasi karena kita tak sampai hari ini tidak pernah membayangkan bahwa al-Qur’an merupakan hasil kerja tambal sulam keroyokan banyak orang. Tentu saja di banyak bagian Al Qur’an dijelaskan sumber-sumbernya yang sahih dari kitab-kitab terdahulu maupun aktualitas terbaru yang lebih inovatif yang prinsip dasarnya  berlaku dimana saja. Contohnya, ayat pertama diturunkan sebagai perintah universal untuk “membaca” bukan solatlah tapi “bacalah” dengan atas nama Rabb yang menciptakan kita sebagai pembaca kehidupan.

Jadi, Al Qur’an bukan produk suatu budaya tetapi hasil capaian tertinggi seorang penempuh jalan ruhani atau SEORANG ADIMANUSIA ATAU AL-INSAAN AL-KAMIL yang kita sebut kemudian sebagai Rasulullah Muhammad SAW dan kemudian dijadikan sebagai pegangan etis dan moral bagi masyarakat dimana beliau saat itu tinggal sesuai dengan ruang-waktu dan kesadaran masyarakat saat itu atau sesuai dengan sunnatullah. Dengan demikian, selama manusia ada di Planet Bumi al-Qur’an tetap menjadi sahih sebagai pegangan etis dan moral manusia untuk menyaksikan dan mengaktualkan Jamal dan Jalal Penciptanya. Karena itu, apa yang dinyatakan di dalam al-Qur’an akan tetap berlaku selama manusia masih ada di Planet Bumi, sedangkan penafsirannya akan dipengaruhi ruang-waktu kehidupan masing-masing manusia yang meyakini kesahihannya sebagai Kitab Wahyu yang memberikan petunjuk dan pedoman atau sebagai Dzikrul Lil ‘Aalamin.

Apakah nilai dan kandungan Al Qur’an berlaku di Planet lainnya? Wallahu alam saya tidak tahu karena belum ada satupun manusia yang pernah melancong ke planet lain. Bahkan kalau saja kita mempunyai citarasa yang tinggi foto-foto kunjungan manusia ke bulan maupun hasil jepretan satelit dari luar angkasa yang memperlihatkan keagungan Planet Bumi sebagai satu-satunya yang eksis di Tatasurya dan menghadirkan bukti kehidupan kita pun tentu akan merasakan Kemahabesar Sang Pencipta. Kecuali matahati dan pikiran kita sudah terhijab mungkin tak bisa menyentuh sisi dalam kemanusiaan kita yang bersentuhan dengan wajah Kemahabesaran Tuhan Yang Maha Esa. Merekalah kaum yang akhirnya mengaku-aku tidak bertuhan dan hanya percaya kepada sains dengan bukti empirisnya tapi ironisnya mempertuhankan nafsunya sendiri laiknya Fir’aun.

Memurnikan Tauhid

Proses yang dialami seorang Nabi Muhammad SAW hampir serupa dengan proses ketika Nabi Ibrahim a.s menemukan Tuhan, ia menemukan dengan akal (Al-‘Aql) yang mengikat pengetahuan Tuhan dengan berserah diri (Aslim) dan akhirnya ia pun membangun Ka’bah sebagai ungkapan syukur berupa rumah ibadah, masjid, kuil, atau apapun penyebutan saat itu sebagai tempat untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa yang wajah-Nya ada dimana-mana.

Ketika sejarah berkembang seperti apa yang telah menjadi ketentuan Tuhan, maka Mekkah kemudian menjadi tempat sakral manusia saat itu yang telah melupakan ajaran Nabi Ibrahim dan Ismail a.s dengan menjadi pemuja berhala. Persis seperti kondisi awal Nabi Ibrahim a.s ketika melihat realitas masyarakatnya yang menyembah berhala dan tersesat karena menuhankan manusia. Ketika Nabi Ibrahim a.s menyingkapkan realitas Tuhan Yang Esa, ia ternyata hanya diperintahkan untuk “patuh dan tunduk (Aslim)” (QS 2:131) sebagai tanda bahwa manusia itu tak mempunyai daya upaya yang mandiri, ia tegak semata-mata karena anugerah dari Tuhan Yang Esa.

Sebagai titik tolak penyingkapan Pesan Ilahi yang diuraikan melalui Rasulullah, Mekkah menjadi pusat kelahiran Pengetahuan Tauhid yang DIMURNIKAN KEMBALI karena sumber asal tauhid adalah Mekkah sejak Ibrahim a.s membangun Ka’bah sebagai tempat beribadah kepada Tuhan Yang Esa. Artinya masyarakat saat itu, baik yang berada di Mekkah maupun di seluruh dunia melakukan ziarah ke Mekkah sebagai konsentrasi peribadahannya. Dengan kata lain, kiblat semua agama Tauhid yang mengikuti jalur Nabi Ibrahim a.s sebenarnya adalah Ka’bah di Mekkah. Model masyarakat Arab dengan kekhususan kaum Quraisy dimana Nabi Muhammad SAW lahir adalah model masyarakat sebagai individu dan kelompok yang menjadi ciri manusia umumnya. Suku Quraisy mempunyai penampilan lahiriah maupun ruhaniah yang nyaris serupa dengan manusia umumnya di zaman itu, menjadi penyembah berhala secara total, tidak menauhidkan Tuhan, dan sebagian kecil lainnya tetap berada di jalan lurus mengikuti ajaran para Nabi dan Rasul. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa saat itu sebagai ambang batas dimana Pengetahuan Tuhan telah berubah menjadi berbagai bentuk. Masyarakat Quraisy bisa dikatakan sebagai Global Village yang bebas dari pengaruh penguasa dunia yang saat itu berada di tangan Byzantium dan Persia.

Potensi untuk munculnya penantang asumsi umum muncul dan berkembang mirip ketika Ionia yang terpencil pertamakali menjadi sumber munculnya rasionalisme Yunani. Sebagai wilayah yang relatif bebas dari pengaruh luar, Mekkah menjadi sumur atau muara pertemuan semua pandangan yang ada di zaman itu, sebagai pertemuan para kafilah dari barat maupun timur, utara maupun selatan, atau sekedar tempat para pengembara yang lari dari kejaran penguasa lalim.

Para pemikir bebas pun muncul disini yang disebut Hanifiyah dengan motor utama Zaid bin Amr bin Nufail dan Waraqah (paman Khadijah), Muhammad merupakan salah satu dari anggota Hanifiyah yang diam-diam memang prihatin dengan kejahiliyahan masyarakatnya. Tentangan karena itu muncul dari kalangan sendiri yang Status Quonya terancam. Maka saat itu juga lahirlah Muhammad sebagai nabi dan rasul Utusan Allah, sebagai pembeda yang akan memurnikan kembali Tauhid Nabi Ibrahim a.s dan meneruskan ajaran para Nabi serta Rasul lainnya yang bertebaran di muka bumi sebagai ajaran yang meng-Esa-kan Tuhan.

Tauhid dimulai di Mekkah dan akan dimurnikan kembali ditempat asalnya dimana ajaran itu muncul. Tauhid adalah permata yang diselimuti lumpur khayal, angan-angan, tipu daya, dan kebodohan manusia sehingga manusia akhirnya tak mampu membuka inti Pohon Tauhid yang sebenarnya yaitu al-Insaan, yang menjadi landasan dari terurainya Pengetahuan Allah (Qaaf) menjadi semua bentuk ilmu pengetahuan manusia yang terpahami sampai saat ini meskipun sudah tertabiri dengan pernak pernik hawa nafsu.

Muhammad dan Kehidupan Terpuji

Akhlak yang mulia adalah akhak sebagai kondisi kejiwaan yang mampu merespon semua bentuk Pengetahuan Allah dengan Iqra dan Penyucian Jiwa (simak QS 96:1-5 dan QS 91). Karena itu al-Qur’an menjadi cermin Pengetahuan Tuhan yang tampak nyata dimana Nabi Muhammad SAW sebagai penerima sekaligus implementornya yang pertama kali yaitu pada dirinya, keluarganya, teman-temannya dan akhirnya ke seluruh masyarakat yang mau menerimanya dengan Ikhlas dan berkesadaran bukan dengan paksaan ataupun taklid buta. Ayat terakhir surat al-Kafiirun sebenarnya menetapkan awal dan akhir ketika Rasulullah akan berdakwah kepada Umat Manusia secara universal bahwa Muhammad adalah Utusan Allah, Juru Bicara Tuhan yang akan menyampaikan Pesan-Nya, ia sekedar pemberi petunjuk maka apapun yang terjadi setelah ia menyampaikan pesan itu berlaku suatu kaidah bahwa “lakum diinukum wa liya diin” (Qs 109:6).

Bila manusia mau menerima dengan tulus, silahkan mengikuti; jika tidak juga nggak apa-apa, tapi tanggung sendiri risikonya dihadapan Tuhan kelak di hari penghisaban. Nabi Muhammad SAW pun menjadi cermin kesempurnaan Asma dan Sifat Tuhan (QS 9:128-129) yang menampilkan akhlak dan perilaku manusia yang mulia. Ia pun menjadi tanda dari Kecerdasan Ilahiyah yang aktual di alam nyata yang merupakan Anugerah Tuhan secara langsung sebagai kesempurnaan Asma dan Sifat Tuhan Yang Esa, yang mengaktualkan maghfirah-Nya, dengan kesempurnaan yang ditampilkan secara lahiriah sebagai Muhammad. Ia adalah Dal, Thaa, Mim sebagai Ahmad (al-Jumal 53) dan sebagai Muhammad (al-Jumal 92) yang melalui rahmat yang khusus mengemban amanat penciptaan semua makhluk, sehingga ia pun dikatakan sebagai Rahmaatan Lil Aalamin yang membimbing manusia supaya akhlaknya mulia seperti keadaan awal mulanya.

Muhammad sebagai seorang manusia adalah gambaran tentang sejarah hidup seorang manusia yang menerima Pengetahuan Tertinggi Tentang Segala Sesuatu secara fundamental, bukan terperinci (artinya ia tidak menerimanya seperti rumus-rumus yang dipahami oleh ilmuwan saat ini), tetapi sangat prinsipal dan menjadi dasar semua macam pengetahuan yang akan terpahami oleh manusia dari tatanan elementer sampai aktual sebagai produk ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Nabi Muhammad SAW adalah maujud nyata dari “Knowledge Of Everything” dan ia sebagai Nabi dan Rasul adalah Utusan Allah sebagai Adimanusia atau Manusia Sempurna yang sesungguhnya menjadi gagasan awal dan akhir penciptaan makhluk.

Oleh karena itu, kendati ia seorang Nabi dan Rasul , ia juga seorang manusia umumnya yang lahir, hidup, makan dan minum, beranak pinak, dan akhirnya mati, ia pun menjadi rujukan dan model bagi semua manusia khususnya rujukan akhlak dan perilakunya di semua zaman. Dengan demikian, setting budaya lokal sejatinya cuma sekedar cermin yang buram yang kemudian dibersihkan, akhlak yang tercela yang kemudian dimuliakan kembali, dengan kata lain perubahan dalam diri manusia di semua zaman sebenarnya terwakili oleh kondisi masyarakat Arab saat itu maupun masyarakat di zaman kapanpun.

Dengan demikian, konteks budaya ketika kita menyimpulkan al-Qur’an sebagai produk budaya Arab sama sekali kurang tepat bahkan bisa dikatakan merupakan produk cara pandang dengan sudut pandang kacamata kuda yang sempit atau picik yang diselimuti supremasi ras seperti kaum yahudi bukan supremasi Pengetahuan Tuhan. Cara pandang yang sempit biasanya muncul dari kalangan akademisi yang menyekat-nyekat pengetahuan dalam bilik-bilik asumsi, metode dan akhirnya kesombongan pandangannya sendiri. Meskipun di dalam al-Qur’an tersirat lokalitas, namun globalitas Pesan Ilahi yang terungkap dengan bentuk segi 4, segi 6, sistem bilangan dan abjadnya, yang akhirnya diterima Muhammad SAW sebagai wahyu lebih dominan untuk menjelaskan bahwa Pesan Ilahi yang telah terurai yang disampaikan melalui Muhammad SAW “bukan cara menjadi orang Quraisy atau untuk menjadi orang Arab” namun cara menjadi “manusia secara universal sebagai makhluk ciptaan dengan akhlak yang mulia, baik di hadapan Allah maupun makhluk lainnya untuk menghadirkan kehidupan terpuji di Planet Bumi atau dimanapun sekiranya ada kehidupan yang serupa dengan kita”. Dengan kata lain, nilai-nilai paling prinsipal Al Qur’an mempunyai kebolehjadian berlaku universal di semua alam semesta ciptaan yang dihuni makhluk serupa manusia dengan daya piker dan nafsunya.

 

dikutip dari “Risalah Mawas Diri Al-Mutha’Ain” tulisan @mnd-114912, revisi terkini 7/6/2017, sebelumnya dipublikasikan disini.