Agama Bukan Sumber Kekerasan

Judul : Fields of Blood, Mengurai Sejarah Hubungan Agama dan Kekerasan
Penulis : Karen Armstrong
Penerbit : Mizan
Cetakan : I, November 2016
Tebal : 696 halaman
ISBN : 978-979-433-969-5

Banyak orang yang beranggapan bahwa agama adalah sumber kekerasan serta mendukung dan menjadi inspirasinya. Anggapan ini tidak sepenuhnya keliru jika melihat kondisi faktual kontemporer di mana banyak kelompok agama tertentu di berbagai belahan dunia melakukan kekerasan terhadap pihak lain. Tapi, jika kita mau menengok lebih jauh sejarah panjang hubungan antara agama dan kekerasan, kita bisa memastikan bahwa agama tidaklah seburuk dan sejahat itu. Agama justru mendorong hal sebaliknya.

Alih-alih mendukung dan melandasi, agama justru mengutuk segala bentuk kekerasan dan menyerukan untuk menentang dan melawannya serta mendorong pada upaya-upaya perdamaian, sikap welas asih, empati, dan sejenisnya. Agama bukan menciptakan kegelapan bagi dunia, melainkan menghalau dan menyingkirkan kegelapan tersebut dengan cahayanya hingga dunia menjadi terang-benderang. Agama membawa misi perbaikan, bukan pengrusakan dan penghancuran.

Inilah yang ingin disampaikan Karen Armstrong dalam bukunya, Fields of Blood, Mengurai Sejarah Hubungan Agama dan Kekerasan. Armstrong ingin menunjukkan bukti-bukti sejarah yang merentang hingga ribuan tahun silam bahwa kekerasan lebih banyak dimotivasi bukan oleh agama, tapi oleh motif ekonomi dan politik. Agama hanya dijadikan sebagai pembungkus dan stempel oleh kelompok tertentu demi meraup keuntungan material (sumber daya ekonomi) dan politik (kekuasaan) bagi kelompoknya dengan membangkitkan sentimen keagamaan.

Di buku ini, Armstrong lebih banyak mengulas hubungan agama dan kekerasan pada tiga agama besar: Yahudi, Kristen dan Islam. Meski begitu, ia juga mengupas hubungan itu pada agama-agama lain seperti Hindu dan Buddha. Bahkan agama-agama selain yang kita kenal saat ini di masa silam sebelum istilah “agama” atau “religion” untuk mengidentifikasi suatu kepercayaan tertentu, dimunculkan oleh penganutnya. Agama yang belum dipisahkan dari politik.

Tiga agama besar di dunia: Yahudi, Kristen dan Islam, dalam sejarahnya senantiasa terkait dengan kekerasan, bahkan hingga saat ini, untuk sebagiannya. Motifnya, lebih banyak bukan karena agama. Penindasan dan penderitaan yang dialami bangsa Israel membuat para nabi Israel termotivasi oleh keinginan yang sangat manusiawi untuk melihat musuh mereka menderita sebagaimana mereka telah menderita. Dalam hal ini, Yahweh, yang awalnya merupakan penentang sengit kekerasan dan kekejaman kerajaan, telah berubah menjadi sebuah imperialis-terbesar (h. 176).

Dalam sejarah Kristen, menurut Armstrong, Yesus dilahirkan dalam sebuah masyarakat yang trauma dengan kekerasan. Hidupnya dibingkai oleh pemberontakan (h. 186). Sejak awal, Injil menampilkan Yesus dan ajaran-ajarannya sebagai alternatif bagi kekerasan struktural kekuasaan kekaisaran (h. 187). Dia melarang murid-muridnya untuk melukai orang lain dan membalas secara agresif (h. 189). Namun, dalam perkembangannya terjadi begitu banyak konflik internal berdarah-darah di samping munculnya ideologi sekuler yang ingin memisahkan institusi gereja dengan politik.

Dalam sejarah Islam, kekerasan juga terjadi, dengan motif yang tidak sepenuhnya agama. Alquran kata Armstrong telah memberi kaum muslim sebuah misi historis: menciptakan masyarakat yang adil di mana semua anggotanya, bahkan yang paling lemah dan paling rentan, diperlakukan dengan hormat mutlak. Karena itu, politik bukanlah pengalihan dari spiritualitas melainkan arena tempat umat Islam mengalami Allah dan yang memungkinkan Ilahi untuk berfungsi secara efektif dalam dunia. Bagi umat Islam, penderitaan, penindasan, dan eksploitasi yang muncul dari kekerasan sistemik negara adalah masalah moral yang penting dan tidak bisa diturunkan ke ranah profan (h. 259).

Fenomena terorisme yang dilakukan oleh segelintir muslim di era modern, yang membunuh ratusan hingga ribuan orang, tidak muncul dari faktor agama. Penindasan dan dominasi Barat terhadap kaum muslim di banyak tempat selama bertahun-tahun membangkitkan simpati sekaligus antipati. Ketimpangan ekonomi yang tajam akibat ideologi kapitalisme membuat sebagian muslim nekat melakukan kekerasan tanpa peduli siapa yang jadi korbannya. Kaum muslim seperti tergagap dengan perubahan dunia yang begitu cepat, membuat mereka merasa kalah dan terpinggirkan.

Perubahan dunia yang begitu cepat melahirkan apa yang dikenal kini sebagai kaum “fundamentalis”. Terorisme modern antara lain muncul dari sini. Istilah “fundamentalis” sebetulnya diciptakan pada 1920 oleh Protestan Amerika yang memutuskan untuk kembali ke “fundamen” Kekristenan (h. 399). Fundamentalisme, baik itu Yahudi, Kristen maupun Islam, kata Armstrong, pada dirinya sendiri bukanlah sebuah fenomena kekerasan. Hanya sebagian kecil dari fundamentalis melakukan tindakan teror; sebagian besar hanya berusaha untuk menjalani kehidupan religius di dunia yang tampaknya semakin memusuhi agama, dan hampir semua dipicu oleh apa yang mereka anggap sebagai serangan dari kemapanan liberal sekuler (h. 399).

Membaca buku ini, di dunia yang sarat dengan kekerasan dan perang, baik dulu, kini maupun nanti, kesadaran kita seperti tersentakkan. Bagaimanapun, kata Armstrong, kita perlu menemukan cara untuk melakukan apa yang dilakukan agama dalam bentuk terbaiknya selama berabad-abad: membangun rasa komunitas global, menumbuhkan rasa hormat dan “keseimbangan” untuk semua dan bertanggung jawab atas penderitaan yang kita saksikan di dunia. Kita semua, religius maupun sekuler sama saja, bertanggung jawab atas keadaan dunia saat ini. Upaya “kambing hitam” tidak lagi bisa menjadi solusi (h. 525). Menarik disimak.

sumber : http://fajar-kurnianto.blogspot.co.id/2017/05/agama-bukan-sumber-kekerasan.html

*Dimuat di Harian Koran Sindo, Minggu 14 Mei 2017

BACA BUKUNYA DISINI (VERSI ENGLISH)